Akal-akalan Singkirkan "Taliban" di KPK

Kalo sudah heboh seperti sekarang, semakin jelas kelihatan (kentara) akal-akalan untuk menyingkirkan kelompok taliban

Senin, 7 Juni 2021 | 06:15 WIB
0
117
Akal-akalan Singkirkan "Taliban" di KPK
Firli Bahuri (Foto: Kompas.com)

Sebetulnya, kalo pengen menyingkirkan "taliban" di tubuh KPK, Firli gak perlu repot-repot bikin aturan TWK (Tes Wawasan Kebangsaan) untuk persyaratan menjadi ASN.

Saya menilai permainan dia kurang cantik. Kembalikan saja oknum-oknum taliban itu ke institusi asalnya.

Sebagian besar personil KPK itu kan perbantuan dari institusi luar (kepolisian, kejaksaan, kehakiman dsb). Karena sifatnya (statusnya) perbantuan, maka any time personil-personil ini bisa dikembalikan ke institusi asal. Tak ada cerita yang bersangkutan bisa bercokol terus di KPK tanpa batas waktu.

Juga tak ada aturan bahwa yang bersangkutan baru boleh dikembalikan ke institusi asal bilamana melakukan kesalahan/pelanggaran. 

Akal-akalan untuk "mencutik" kelompok taliban di tubuh KPK ini sebetulnya sudah nampak waktu Undang-undang KPK yang baru dipaksakan untuk lolos di mana pada salah satu klausulnya menyebutkan semua personil KPK harus menjadi ASN.

Mungkin dipikirnya dengan adanya Undang-undang ini KPK mempunyai payung hukum untuk menyingkirkan kelompok taliban ini. Namun dalam penerapannya dirasakan tes standar masuk ASN kurang ampuh untuk menendang golongan taliban ini. Maka dibikinlah tes saringan tambahan yang diberi nama TWK.

Tes ini mirip dengan tes MI (Mental Ideologi) bagi mereka yang ingin masuk TNI. Hasil tes ini tidak bisa diganggu-gugat, karena TNI mempunyai hak mutlak untuk menentukan lulus tidaknya calon. 

Tapi Firli mungkin tidak memperkirakan bahwa akal-akalan menerapkan TWK untuk calon ASN di KPK memukul balik dirinya (backfire). Dipikirnya pakai tes mirip MI aman untuk menyingkirkan kelompok taliban ini.

Nggak tahunya, sampai "bolo dewe" (teman sendiri) seperti Muhamadiyah, NU, PGI dsb ikut memprotes penerapan TWK yang dinilai tidak adil dan semena-mena. 

Inilah yang dinamakan "senjata makan tuan". Makanya saya bilang di atas, permainan Firli kurang cantik. Dia bermain agak kasar, karena dipikirnya sudah ada senjata pamungkas yang membuat kelompok taliban ini tidak berkutik dan mati kutu.

Makanya itu pula saya berkata, kenapa repot-repot bikin aturan ASN dan TWK. Cukup oknum-oknum itu kembalikan saja ke institusi asalnya. Atau kalo yang tidak punya institusi, cukup kontrak kerjanya tidak usah diperpanjang lagi.

Kalo sudah heboh seperti sekarang, semakin jelas kelihatan (kentara) akal-akalan untuk menyingkirkan kelompok taliban.

***