Memahami Agresi Israel atas Palestina di Akhir Ramadan

Dari sini, dapat dilihat bahwa kekerasan demi kekerasan terjadi semata-mata bukan pada sisi rakyat Palestina. Tetapi mereka yang terusir dari tanahnya sendiri.

Jumat, 14 Mei 2021 | 00:40 WIB
0
81
Memahami Agresi Israel atas Palestina di Akhir Ramadan
Pemukiman Israel di Tepi Barat (Foto: BBC)

Satu kesyukuran bagi kita di Indonesia, kemerdekaan yang diraih 75 tahun lalu. Masih saja ada bangsa di dunia yang sepenuhnya tidak dapat mengatur dirinya sendiri.

Pemimpin Palestina, Abbas menunda pelaksanaan pemilihan umum. Ini menunggu tanggal yang tepat setelah mendapatkan jaminan bahwa warga Palestina yang bermukim di Yerusalem Timur, daerah yang diduduki Israel, dapat mengikuti pemungutan suara.

Tanpa persetujuan itu, tanggal pemilihan umum belum ditentukan sama sekali.

Sejak 2006, tidak ada pemilihan umum untuk parlemen dan presiden. Pemilihan umum terakhir itu kemudian membagi Palestina dalam faksi-faksi setelah terjadinya kekerasan antar-faksi.

Saat ini, paling tidak ada dua kekuatan yang “berkuasa” dimana partai Fatah yang dipimpin Abbas di Tepi Barat. Sementara itu, kekuasaan lain oleh Hamas di Jalur Gaza.

Itu satu kondisi tersendiri. Sementara di akhir Ramadan, agresi militer Israel menyerang pelbagai lokasi di Jalur Gaza. Termasuk masjid Al Aqsha yang merupakan wilayah yang disucikan tidak saja oleh umat muslim tetapi juga oleh Yahudi, dan Kristen.

Solidaritas atas agresi dan terbunuhnya warga sipil menjadikan satu persatu negara menyuarakan untuk penghentian agresi ini.

Saudi Arabia, Pakistan, antara yang sudah memulai. Sementara Indonesia, dua hari sebelum idulfitri sudah menyatakan kembali dukungan bagi dukungan Palestina. Presiden RI, Joko Widodo meminta perhatian Dewan Keamanan PBB untuk bertindak atas kekerasan ini.

Pengusiran penduduk menjadi awal dari rentetan kejadian terakhir. Dimana warga Yahudi menggugat ke pengadilan atas klaim tanah yang didiami warga Palestina. Kemarahan mereka memuncak dikarenakan kalau kasus ini terus dipertahankan oleh Israel, maka warga Palestina itu akan terusir dari rumahnya sendiri.

Bahkan dalam menangani aksi protes tersebut, tantara Israel justru menggunakan peluru karet dan granat kejut. Sementara warga Palestina sendiri hanya menggunakan batu untuk mempertahankan diri.

Posisi yang tidak seimbang. Dimana batu yang digunakan sebagai tameng mempertahankan diri. Sementara di pihak lain, Israel justru dilengkapi dengan senjata otomatis.

Bahkan ribuan tantara mulai dikerahkan ke Jalur Gaza. Dengan kekuatan yang dimiliki, pasukan tempur udara, termasuk persenjataan drone. Begitu pula kekuatan intelijen. Ini dapat memporak-porandakan seluruh warga Palestina.

Israel berdalih bahwa mereka hanya menyasar kelompok-kelompok bersenjata.

Hamas kemudian membalas serangan tantara Israel dengan roket-roket. Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, merespon pengerahan tantara Israel dengan kesiapan untuk bertahan dan juga menyerang balik.

Satu drone yang melintasi Israel diterbangkan dari Jalur Gaza merepotkan militer Israel. Ini menunjukkan bahwa ada persenjataan yang dioperasikan kelompok Hamas.

Tidak saja Hamas, kelompok Jihad Islam juga memiliki penguasaan senjata. Bahkan mereka menyatakan memiliki akses terhadap jaringan bawah tanah yang dapat menyerang Israel kapanpun.

Sementara persediaan senjata juga mendapatkan pasokan senjata melalui semenanjung Sinai di Mesir.

Para pejabat Israel meyakini bahwa Hamas memiliki kemampuan untuk menembakkan rudal terus menerus. Dalam satu dokumen tantara Israel dikemukakan bahwa persenjataan yang dipakai pihak Hamas sesungguhnya diproduksi di Jalur Gaza. Bukan pasokam dari luar. Sehingga apa yang disampaikan oleh pimpinan Hamas, mendapatkan tanggapan serius di kalangan militer Israel.

Dengan roket yang tidak kurang dari 200 buah ditembakkan dalam kurun waktu tiga hari menunjukkan persediaan dan kemampuan senjata Hamas yang memadai. Walaupun sebagian besar dapat dicegah melalui senjata drone, namun kota Ashkelon sama sekali tidak terlindungi.

Roket-roket Hamas berhasil meluluhlantahkan kota tersebut.

Paling tidak, dengan kekuatan Israel yang lebih besar dapat juga dibalas dengan serangan roket Palestina.

Namun, bukan itu sesungguhnya yang menjadi perhatian utama.

Justru pendudukan Israel kemudian pengusiran atas Palestina menjadi isu pertama. Wilayah Palestina terus berkurang, dimana ketika perang 1967 Israel telah menduduki Yerusalem Timur dan Tepi Barat.

Sebelumnya, 1948 warga Palestina telah dipaksa meninggalkan rumahnya, dikenal dengan peristiwa al-nakba (malapetaka).

Setahun sebelumnya, PBB membagi wilayah Palestina menjadi dua kawasan. Sepenuhnya ini mendapat penolakan. Walaupun demikian, pada 1948 itulah warga Yahudi mendeklarasikan pembentukan negara Israel. Dimana sejak 1920-an sampai 1940 warga Yahudi yang datang ke wilayah Palestina semakin bertambah. Dimana Eropa saat itu terjadi persekusi, dan juga setelah Holokaus pada perang dunia kedua.

Dari sini, dapat dilihat bahwa kekerasan demi kekerasan terjadi semata-mata bukan pada sisi rakyat Palestina. Tetapi mereka yang terusir dari tanahnya sendiri. Bahkan kini, sejak akhir Ramadan lalu merekapun harus terusir dari rumahnya sendiri.

***