Perut Lapar Sering Memicu Onar, Perut Kenyang Cenderung Tenang

Jangan suka berteriak-teriak oposisi kalau perutmu dalam keadaan lapar kekuasaan. Karena begitu ditawari jabatan, niscaya kamu tidak akan sanggup menolaknya.

Selasa, 29 Oktober 2019 | 13:53 WIB
0
37
Perut Lapar Sering Memicu Onar, Perut Kenyang Cenderung Tenang
Ilustrasi kursi kekuasaan (Foto: kiblat.net)

Mengapa orang kalau perutnya kosong atau lapar cenderung mudah emosi dan bisa ngamuk tidak jelas?Perut kosong atau lapar bisa memicu orang mudah emosi dan uring-uringan. Begitu sebaliknya, kalau perut kenyang atau terisi, manusia atau orang cenderung malas bergerak dan tidak membuat keributan atau uring-uringan. Dan cenderung diam tidak banyak bicara.

Mengapa kalau ada demontransi, baik yang dilakukan oleh masyarakat atau mahasiswa sering terjadi kerusuhan atau  merusak fasilitas umum? Karena perut mereka kosong atau lapar. Makanya ada bagian logistik yang memasok para demonstran makanan dan air mineral supaya tidak mudah emosi dan bertindak beringas.

Bukan hanya terjadi pada manusia, dalam dunia hewan pun juga begitu. Dalam dunia binatang atau hewan kalau lapar juga akan memicu sifat  agresif dan sensitif.

Sebagai contoh ular piton kalau lapar sangat berbahaya dan bisa mengancam nyawa atau jiwa manusia. Tapi kalau habis memakan mangsa, seperti kambing atau anak sapi, ular Piton tersebut tidak akan bisa bergerak beberapa hari  dan diam ditempat karena perut berisi mangsa tersebut perlu beberapa hari untuk bisa dicerna, karenanya susah untuk bergerak.

Begitu juga dalam panggung politik, yang awalnya teriak-teriak, mencela atau menghina dan menyerang kebijakan pemerintah dengan kritikan yang terkesan asal-asalan, namun setelah mendapat  atau diberi jabatan mereka langsung diam seketika. Karena perut sudah terisi atau diberi jabatan.

Mengapa elit politik atau partai politik yang awalnya suka berteriak-teriak bisa berubah jinak dalam sekejab? Karena mereka lapar maka berteriak-teriak. Tapi ketika perut sudah kenyang karena diberi kekuasaan atau jabatan mereka langsung diam dan tidak berteriak-teriak lagi.

Atau dalam politik Jawa untuk menjinakkan atau meluluhkan lawan politik sering "dipangku". Dengan dipangku atau diberi jabatan orang akan cenderung sungkan atau pekewuh untuk mengkritik atau tidak bersuara lantang lagi, apalagi gebrak-gebrak meja.

Oleh karena itu, jangan suka berteriak-teriak oposisi kalau perutmu dalam keadaan lapar kekuasaan. Karena begitu ditawari jabatan, niscaya kamu tidak akan sanggup menolaknya.

Awalnya semangat 45 untuk oposisi. Setelah tahu kalah mengajak bertemu dan merapat demi rekonsiliasi. Dan bernegosiasi untuk mendapatkan posisi bukan oposisi.

Aku lapaar, aku lapaar. Aku minta kursi bukan sembarang kursi tapi kursi yang enak untuk diduduki dan bikin nyaman. Setelah itu aku tidak bikin ribut-ribut lagi.

Dasar ular piton!

***