Ketika dari Batu Tulis Menyatukan Indonesia

Kesatupaduan Megawati bersama Prananda dan Puan adalah orkestrasi pemenangan Pemilu 2024 yang tepat sasaran, di mana Ganjar ada didalamnya.

Rabu, 26 April 2023 | 09:08 WIB
0
120
Ketika dari Batu Tulis Menyatukan Indonesia
Ganjar Pranowo dan Prananda Prabowo (Foto: Facebook.com)

DDitunjuknya Ganjar Pranowo oleh Megawati Soekarnoputri sebagai Calon Presiden dari PDIP menjadikan momentum regenerasi kepemimpinan nasional dan sekaligus menandai munculnya anak-anak muda era 90-an yang dikenal saat itu bangkit melawan Suharto dan mengibarkan bendera banteng seraya mengangkat tinggi-tinggi foto Sukarno sebagai simbol perlawanan anak muda yang menginginkan Indonesia kembali ke rel sejarah yang benar.

Ganjar yang dilahirkan di pelosok Jawa Tengah, di daerah pegunungan Tawangmangu menjadi satu dari jutaan anak muda saat itu yang membangkitkan semangat Banteng. Bersama Megawati mereka telah lama bersatu, menjebol dan menghancurkan kekuatan fasis Orde Baru.

Kini Ganjar ditunjuk menjadi Capres PDIP untuk 2024. Penunjukkan Ganjar juga ada di lokasi situs Prabu Siliwangi yang secara simbolik sebagai simbol kebangkitan Nusantara dan juga berada di wilayah Pasundan tempat di mana Bung Karno mematangkan pemikiran Marhaen, sebuah kelas Nasionalis yang dipikirkan dan diperjuangkan Bung Karno dan menjadi kelas mayoritas orang-orang Indonesia.

Dari Batu Tulis bandul politik bergerak, menjadi trending topic, dan getaran Batutulis menyatukan Indonesia Raya.

Pengumuman Capres dari PDIP Ganjar Pranowo yang berlangsung sangat khidmad nan sederhana di Batutulis, Bogor menyisakan satu sosok yang asing di publik dan duduk bersebelahan dengan Ganjar Pranowo, sosok itu adalah Prananda Prabowo, putera kedua Megawati.

Prananda selalu ditampilkan oleh Megawati hanya pada momen-momen penting.

Beda dengan Puan Maharani yang kerap muncul di publik dan memegang jabatan kenegaraan juga Puan dikenal sosok yang sering ditugaskan lobi-lobi politik dan aktif dalam mengatur gerakan anggota fraksi DPR RI di lapangan, sosok Prananda justru hadir terkesan misterius dan menghindari sorotan publik, tapi Prananda-lah menjadi ‘ikon ideologi’ dalam PDIP. Ia ditugasi Megawati sebagai Kepala “Situation Room”, melakukan monitoring perkembangan politik, konsolidasi organisasi, evaluasi kader dan pengembangan infrastruktur Partai termasuk sistem informasi Partai ke dalam digital menjadikan PDIP menjadi Partai modern dan memperoleh sertifikat International Organization for Standardization (ISO) 9001:2015, ini menjadi satu-satunya penghargaan dari seluruh Partai-Partai di Indonesia bahwa PDIP mampu menjadi organ politik berskala besar didasari manajemen modern. 

Prananda, bagi orang di sekitarnya dikenal sebagai “Kamus Berjalan Pemikiran Sukarno”, sejak kecil Prananda keranjingan membaca buku-buku soal kakeknya Bung Karno dan menyerap serta menjiwai setiap isi pemikiran Sukarno. Ia sangat menyukai arsip, terutama segala yang terkait dengan jalan pemikiran Sukarno serta keadaan jaman yang terkait dan dengan visioner dia merumuskan keadaan jaman sekarang lewat kerangka pemikiran Sukarno yang sudah diarahkan pada masa-masa tahun revolusi kemudian dibuat peta-nya sesuai dengan persoalan jaman kiwari ini. 

Publik sempat membahas singkat Prananda, ketika pers tahu bahwa pidato “Dedication of Life” yang dibacakan pada rakernas III tahun 2012 merupakan usulan Prananda. Kalimat “Dedication of Life” adalah renungan Bung Karno tentang jalan hidupnya dan jalan hidup banyak orang Indonesia untuk mengabdi pada Tuhan, Bangsa dan Tanah Air. Isi “Dedicatiof of Life” : 

“Saya adalah manusia biasa. Saya des tidak sempurna.Sebagai manusia biasa, saya tidak luput dari kekurangan dan kesalahan.

Hanya kebahagiaanku ialah dalam mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada bangsa. Itulah dedication of life-ku.

Jiwa pengabdian inilah yang menjadi falsafah hidupku, dan menghikmati serta menjadi bekal-hidup dalam seluruh gerak hidupku”.

Dedikasi ini kemudian ditularkan ke dalam alam bawah sadar kader-kader PDIP tentang tujuan hidup manusia Indonesia yang ujungnya adalah “Menggelorakan Indonesia Raya” dengan kekuatan batin yang digembleng kesadaran sejarah. 

Di dalam situation room yang dikelola Prananda ada satu divisi monitoring yang menangkap percakapan masyarakat, merumuskan alam batin rakyat dan menjadikan kemauan rakyat sebagai pedoman PDIP dalam merumuskan kebijakan politiknya. Disinilah Prananda memberikan laporan kepada Megawati soal Jokowi di tahun 2014 dan Ganjar di tahun 2023. 

Prananda juga menjadi kunci atas pemikiran ideologi Partai. Adalah Ahmad Basarah, Wakil Ketua MPR RI yang mengangkat falsafah lahirnya Pancasila secara akademis yang menjadi pijakan kebenaran akademis bagi penetapan 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahirnya Pancasila. Demikian halnya, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang secara ilmiah mengonstruksikan pemikiran geopolitik Sukarno dalam kerangka teoritik sehingga teori yang dibangun tidak terbantahkan dan menjadi landasan membangun kepemimpinan Indonesia bagi dunia. Dalam proses itu, Pemikiran Sukarno yang tinggal kuat dalam ‘ruang-ruang memori rakyat’, kemudian oleh Megawati dan Jokowi masuk kembali ke dalam ‘ruang negara’ .

Revolusi Mental, Indonesia Sentris, Indonesia Poros Maritim Dunia, pemindahan IKN dan kesadaran terhadap masa depan di laut adalah kebijakan nyata terhadap rediscovery of Soekarno’s thought. Pengembangan ideologi Sukarno kemudian dimasukkan ke dalam kurikulum Sekolah Partai dan diajarkan pada seluruh kader PDIP termasuk Pemimpin-Pemimpin wilayah dan anggota Parlemen. 

Prananda memang khas. Ia lebih memilih di belakang layar. Ia dilahirkan dengan jiwa seni terutama soal musik. Di kalangan musisi nasional nama Prananda tidaklah asing. Ia punya grup band Rodinda, yang artinya Romantika, Dinamika dan Dialektika yang merupakan metode berpikir Sukarno dalam memahami perkembangan jaman. Ia juga menciptakan lagu Hymne PDI Perjuangan yang isinya semangat persaudaraan dalam gotong royong membangun bangsa, lagu ini sangat mengharukan bila didengar. Di situlah lagu menjadi instrumen of emotional bonding yang sangat penting dan mengisi ruang hati dan batin.

Arti penting PDIP adalah menjabarkan kembali pemikiran Sukarno ke ruang publik, setelah Orde Baru melakukan deSukarnoisasi dan menangkapi banyak pemikir-pemikir Indonesia yang berkiblat pada Sukarno seperti Pramoedya Ananta Toer, dan juga banyak dari mereka terlunta-lunta hidupnya di masa Suharto serta tersebar di banyak tempat. Kehadiran PDI pro Mega menjadikan kekuatan Sukarnois terorganisir dan berhasil menumbangkan Suharto, lalu keadaan berubah sedemikian liberal, Megawati dengan kekuatan Komando Demokrasi Terpimpin berhasil membawa PDIP menjadi Partai terbesar. Kekuatan inilah yang kemudian mulai mewujudkan arah Sukarno dalam Pembangunan Nasional dan Tujuan-Tujuan bangsa, dan disinilah peran Prananda dalam mencetak kader-kader PDIP dengan lentera kesadaran Sukarno menjadikan Indonesia menjadi besar, bahkan menjadi Mercusuar Dunia lewat cita-cita politik Bung Karno. 

Seperti di tahun 2012 awal kemunculan Jokowi, Prananda berhasil membangun kesadaran kader dengan tiap pemimpin ranting membacakan “Dedication of Life” pertimbangannya karena yang berhadapan dengan persoalan rakyat sehari-hari adalah Pemimpin Ranting. Kemudian di tahun 2023 Prananda membawa Peci dan diserahkan secara simbolik kepada Megawati lalu diberikan pada Ganjar, itu adalah situasi simbolik bahwa Ganjar akan meneruskan cita-cita Bung Karno, Megawati dan Jokowi, baik dalam Pembangunan dalam negeri berencana maupun geopolitik yang diajarkan Bung Karno soal “Tatanan Dunia Baru” anti Nekolim. 

Inilah sekelumit arti penting Prananda dibalik peta politik nasional. Dalam kehebatan mengatur organisasi, pembagian peran, dan keteguhan pada jalan keyakinan, saya berani mengatakan, bahwa Megawati benar-benar pemimpin negarawan. Ia telah memberi mandat pada Prananda Prabowo dan Puan Maharani.

Puan menjadi panglima dalam pertempuran politik ketika memenangkan Ganjar pada pilkada Jateng 2013 dan 2018. Kini tugas berlanjut. Kesatupaduan Megawati bersama Prananda dan Puan adalah orkestrasi pemenangan Pemilu 2024 yang tepat sasaran, di mana Ganjar ada didalamnya. Itulah totalitas Megawati Soekarnoputri ketika sudah mengambil keputusan politik.

Anton DH Nugrahanto