Jusuf Kalla, Umur Itu Soal Angka Semata

Terakhir, angka 80 bagi usianya atau ada yang menyebutnya umur bukanlah pertanda usia yang senja. Justru ini merupakan hanya sebuah angka semata.

Kamis, 26 Mei 2022 | 23:26 WIB
0
97
Jusuf Kalla, Umur Itu Soal Angka Semata
Buku Jusuf Kalla (Koleksi Tomi Lebang)

Delapan puluh tahun, angka yang tak dicapai semua orang. Bahkan baginda Rasul, diberikan sampai ke angka 6 saja. Ketika sosok puang Jusuf Kalla mencapai itu, maka sebuah kesyukuran. Tidak saja bagi keluarga tetapi juga bagi semua kita di Indonesia, atau bahkan dunia.

Peran-perannya, tak lagi hanya di Bone, Sulawesi Selatan, ataupun Indonesia. Melampaui teritorial dan geografis. bukan pula hanya pada posisi struktural semata, dimana menjabat dua kali sebagai wakil presiden.

Kini bahkan menjadi “presiden” para pengurus masjid. Begitu pula “presiden” bagi relawan di Palang Merah Indonesia.

Tak berada di struktur, tetapi keberadaannya tetap saja dapat dirasakan.

Setahun terakhir, baik melalui DMI atau PMI, peran-peran dalam kedua lembaga itu bergerak dinamis.

Belum lagi, masjid raya Makassar yang menjadi “rumahnya”. Masjid inilah yang berseberang jalan dalam arti sesungguhnya dengan kantor bis Kalla. Walau sudah ada Wisma Kalla, namun kantor lama itu tak ditinggalkan.

Di rumah itu pulalah, Kalla senior yang menjadi pengurusnya sampai akhir hayat. Kemudian “diwariskan” kepada Jusuf Kalla. Sehingga dengan segala aktifitasnya, tetap saja Jusuf Kalla merupakan pengurus masjid. Bahkan sampai menjadi wapres, tetap saja mengurusi teknis persiapan solat idul fitri.

Puluhan tahun yang lalu pula, sebelum hadirnya DMI, sudah menjadi sekretaris IMMIM. Organisasi kemasjidan pertama walau belum terbentuk dalam skala nasional.

Seorang kawan di grup percakapan whatsapp memberi komentar. Pilihan berorganisasi bagi Jusuf Kalla selalu dengan angka yang tak melebihi tiga huruf, HMI, PMI, DMI, bagi ketiga organisasi itu, hanya huruf depan saja yang berbeda. Kedua dan setelahnya, semuanya sama. Walau dengan artikulasi yang berbeda.

Sejak reformasi, nama-nama yang menghiasi Indonesia diantanya Jusuf Kalla. Mulai dari mentri, kemudian wakil presiden, calon presiden, lalu wakil presiden lagi.

Diantara itu juga menjadi ketua umum partai, bukan partai kecil. Partai Golkar yang punya jejak rekam yang panjang. Sehingga menjadi kelaziman kini, ketum partai tak harus yang berasal dari Jawa. Warga dari luar Jawa punya kualitas kepemimpinan yang sama baiknya dengan penduduk dari Jawa.

Nama Jusuf Kalla mewakili sisi emosi sebagian masyarakat Indonesia. Termasuk juga bagi pedagang. Bahwa menjadi pejabat publik, bagi seorang saudagar bukanlah sebuah kemustahilan.

Belum lagi, kinerja dan posisi yang diperankan Jusuf Kalla memberikan cerminan bahwa Indonesia kita tak harus berasal dari etnis ataupun lokasi tertentu.

Siapapun, dan dari manapun, tetap saja memiliki kualitas yang sama baiknya. Demikian pula dengan peran-peran kebangsaan, dapat diemban oleh siapapun. Tak ada lagi soal tempat kelahiran, suku bangsa, atau embel-embel lainnya.

Indonesia menjadi rumah bagi siapapun juga. Hanya pada soal pilihan untuk beraktifitas, sehingga semuanya akan memberikan kontribusi sesuai dengan pilihan fungsi yang dijalankan.

Kita juga menyaksikan setahun terakhir. Betapa peran-peran Jusuf Kalla mendapatkan apresiasi dalam beragam cara.

Mahasiswa doktor menjadikannya sebagai subyek penelitian. Diantara itu Husain Abdullah (2022) menyelesaikan disertasi di Universitas Padjajaran. Sementara dalam proses penyelesaian Suharto di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Masa sekarang, Jusuf Kalla tak lagi hanya menjadi “meja” yang menyelesaikan masalah. Tetapi menjadi masalah baru dalam konteks penelitian yang memberikan gelar doktor bagi mahasiswa.

Dalam kurun waktu yang baru saja berlalu, Jusuf Kalla juga menerima anugerah dari kerajaan Jepang atas perannya dalam hubungan Indonesia-Jepang. Dalam keterangan yang tak resmi justru nama Kijang sebagai tipikal mobil bermerek Toyota dicentuskan Jusuf Kalla yang dinamakan “Kerjasama Indonesia Jepang”.

Itu dipercakapkan dimana, tipikal merek Toyota yang sama justru tidak dinamai dengan Kijang di Malaysia.

Terakhir, angka 80 bagi usianya atau ada yang menyebutnya umur bukanlah pertanda usia yang senja. Justru ini merupakan hanya sebuah angka semata. Sehingga bisa menjadi cerminan, bahwa tetap saja relevan untuk membincangkan sebuah capaian dari usia yang muda. Namun, ada kalanya tua tak berarti senja. Ianya bermakna senior seperti sebuah kelapa. Semakin tua justru santannya semakin dinanti.

Ismail Suardi Wekke, Peneliti di The Jusuf Kalla Research Center for Bugis Makassar Cultural Studies, Universitas Muslim Indonesia

***