Ambon Setelah Konflik Reda

Malam Natal itu menjadi bermakna bagi Sunu. Ia membaca Alfateha dalam hati. Ia kirim doa itu untuk Ayah. Sunu hapus air matanya.

Kamis, 21 Juli 2022 | 07:18 WIB
0
62
Ambon Setelah Konflik Reda
Gong Perdamaian di Maluku (Foto: Kemennag RI)

Konflik Maluku, 1999-2002

Dulu,
rasa cemas itu menempel di daun- daun pohon Kota Ambon.
Rasa takut, amarah, dendam bergelantungan di tiang- tiang listrik, di gedung- gedung beton.
Rasa permusuhan tercecer di jalan- jalan setapak.

Kini,
di Ambon, bersinar matahari yang lain.
Bercahaya rembulan yang berbeda.

Di malam Natal, 2017.
Hati Sunu bergetar.
Pengalaman pertama dalam hidupnya.

Ia seorang Muslim.
Bersama puluhan muslim lain, secara sukarela, mereka menjaga dan melindungi gereja.

Sudah satu jam, Sunu mundar mandir, berjalan pelan, mengitari gereja.
Mencari tahu apakah ada yang mencoba menyerang gereja di malam itu.

Sayup- sayup, ia dengar lagu, menyambut Natal, dari dalam gereja.

“Malam kudus, sunyi senyap.
Dunia terlelap.
Hanya dua berjaga terus.
Ayah bunda mesra dan kudus.
Anak tidur tenang,
Anak tidur tenang”

Sunu terdiam.
Dalam kesendirian,
di pojok gereja,
ia menangis.
Ditahan- tahannya.
Tapi air mata itu terus saja menetes.

Bukan karena lagu itu.
Sunu teringat almarhum Ayahnya.

Tiga tahun sudah Ayah wafat.
Sakit panjang merengut nyawa.

Hari- hari sebelum wafat,
Ayah mengajak Sunu bicara,
berdua saja.

“Sunu, bantu Ayah.
Betahun - tahun, Ayah hidup memikul rasa bersalah.
Penyesalan itu terlalu berat.

Di tahun 2000,
Maluku menjadi gila.
Entah mengapa, Ayah ikut gila.
Kakakmu dibunuh Laskar Kristus.”

Ayah bicara terbata- bata.
Diselingi batuk.

“Ayah ikut gerombolan itu.
Ayah bakar gereja.
Namun yang Ayah menyesal.
Itu remaja kristen.
Usianya masih belasan.
Tapi Ayah juga membunuhnya.
Ayah bantai ia di halaman gereja.
Ayah membalas kematian kakakmu.”

Sunu mendengar dengan berdebar.
Ia biarkan Ayahnya bercerita.

“Ayahmu bukan orang jahat, Sunu.
Tapi itulah yang terjadi.
Ayah terbawa suasana.
Itu era Maluku yang berbeda.

Tapi Ayah terpukul sendiri setelah itu.
Sangat, Nak.
Sangat menyesal.

Wajah remaja itu terus terbayang.
Ayah tak kenal dia.
Kebetulan saja mungkin, ia sedang di gereja.

Remaja itu punya Ibu.
Ia juga punya bapak.

Bertahun- tahun,
Ayah pendam cerita ini.
Ibumu juga tak Ayah beri tahu.

Tapi Ayah harus cerita padamu.
Usia Ayah mungkin tak lagi lama.

Ayah ingin menebus dosa.
Tapi badan Ayah sudah lemah.

Tolong Ayah, Sunu.
Agar Ayah nanti tenang di alam baka.
Lunasi rasa bersalah Ayah.

Baik- baiklah dengan orang Kristen.
Kita sama sama orang Ambon, sama sama orang Maluku.

Jika kau punya dana,
di samping kau sumbang untuk mesjid,
sumbang juga untuk gereja.

Tolong Ayah, Sunu.”

Ayah kembali batuk.
Badannya semakin lemah.

Sunu tenangkan Ayah.
“Ya, Ayah, jangan jadikan itu beban pikiran. Insha Allah, pesan Ayah akan Sunu tuntaskan.”

Malam Natal itu menjadi bermakna bagi Sunu.
Ia membaca Alfateha dalam hati.
Ia kirim doa itu untuk Ayah.
Sunu hapus air matanya.

-000-

Tahun 2010 dan setelahnya,
Ambon tumbuh berbeda.

Gelombang laut yang dulu bergemuruh, menakutkan, menghantam, memukul, reda sudah.

Berganti dengan suara angin, yang melambai, meniup pelan, yang sejuk menyelinap ke hati.

Belasan tahun lalu,
di tanah ini,
manusia pernah menjelma menjadi harimau- harimau yang lapar.
Laskar Kristus dan Laskar Jihad, sambil berteriak Allahu Akbar, parang dan tombak membabat, membunuh dengan sadis.

Sambil berteriak Haleluya,
senapan dan pistol meletus,
menembak kepala.

Kini kegilaan itu tak lagi terasa.
Zaman telah berganti.
Cerita sudah berbeda.

Di tahun 2022, di Tual, Maluku
Diresmikan miniatur toleransi umat beragama.

Gereja Kristen, Mesjid dan Gereja Katolik didirikan berdampingan (2).

Jangan terulang lagi.
Oh, jangan terulang lagi.
Itu miniatur toleransi buah dari ribuan manusia yang sengsara, yang menjerit karena perang agama.

Di pulau Tanimbar, Maluku,
di tahun 2022, diselenggarakan Musabaqoh Tilawatil Quran.
Padahal di sana berdiam mayoritas Kristen. (3)

Semua baik- baik saja.
Semua damai- damai belaka.

Di tahun 2021, di Ambon,
Puluhan pemuda Kristen ikut menjaga beberapa mesjid, ketika diselenggarakan shalat Idul Fitri. (4)

Mereka yang dulu membakar mesjid, kini ikut merawatnya.

Di tahun 2019, Ambon menerima penghargaan Harmony Award dari Presiden Jokowi melalui menteri agama.

Ambon dinobatkan sebagai kota percontohan toleransi.
Kota kerukunan umat beragama terbaik di Indonesia.

Lihatlah negara luar.
Perwakilan khusus Afganistan, datang ke Ambon.
Mereka belajar kisah sebuah kota.
Dulu pecah perang agama.
Kini hidup bertoleransi dan saling membantu.

Dulu, rasa amarah dan permusuhan berkuasa di Ambon. Mereka menjadi raja. Manusia budaknya.

Kini, burung- burung merpati beriringan, berkawan, terbang di langit kota Ambon.

Sejak tahun 2014, seni Islam dan Kristen sudah berpadu di atas panggung.

Lihatlah acara pembukaan Pesta Paduan Suara Gerejawi.
Sarat dengan parade budaya,
dipenuhi oleh konser musik Islam dan Kristen.

Lihatlah acara pembukaan di Lapangan Merdeka Ambon.
Puluhan ribu warga hadir.
Mereka menatapnya sendiri, mendengar, mengalami, kolaborasi itu.

Seni musikalitas Salam (Islam) dan SaranI (Kristen) harmoni.

Para peserta Pesparawi datang dari jauh, dari 11 kabupaten dan kota se-Maluku, berpadu.

Mereka cicipi hidangan kolaborasi 100 peniup terompet dari komunitas Sarani.

Juga mereka cicipi puluhan penabuh gendang dari komunitas Salam.

Bersama mereka sahut- sahutan, serasi, menyatukan batin, di depan panggung utama.

Ambon memang sudah berbeda.
Maluku tidak lagi sama.

-000-

Tapi Sunu menyadari.
Ledakan perang agama dapat kembali meletup.

Ia membaca sejarah.
Dulu Ambon sangat harmoni.
Didukung pula oleh tradisi lama pela gandong.

Tapi apa yang terjadi?
Tahun 1999-2002, api kemarahan dan pembunuhan membakar Ambon.

Ekonomi yang rentan.
Permusuhan yang ditiup- tiupkan.
Semangat yang memecah belah, yang disebar, yang disemai.

Hanya butuh pemantik kecil, perang besar meledak.
Burung merpati menjelma harimau lapar.


Sore itu, Sunu yang Muslim, bertandang ke makam Ayah.
Ia ajak Dewi, kekasihnya, beragama kristen.

Di pandangnya makam Ayah.
Dibayang- bayangkannya, Ayah mendengar.

Dari sanubari, Sunu berkata:
“Ayah, tenanglah di alam sana.
Rasa bersalah Ayah, pesan Ayah, sudah Sunu lunaskan.

Juli 2022

Denny JA

CATATAN

1. Pemuda Muslim ikut menjaga gereja di Malam Natal di Ambon, 2019.

2. Tahun 2022, berdiri miniatur toleransi di Tual, mesjid, gereja protestan dan gereja katolik dibangun berdampingan.

3. Di pulau Tanimbar yang mayoritas Kristen, terselenggara secara damai Musabaqoh Tilawatil Quran.

4. Pemuda Kristen ikut menjaga Mesjid ketika sholat Idul Fitri.


000-