Prabowo dan Agama Kemasan

Mungkin Prabowo memiliki kecerdasan estetik, tapi tanpa kecerdasan emosional dan spiritual, tetaplah tidak komplit.

Kamis, 11 April 2019 | 06:17 WIB
0
286
Prabowo dan Agama Kemasan
Prabowo Subianto berdoa (Foto: Detik.com)

Hampir mustahil rasanya memilih Prabowo Karena Agama, karena tongkrongannya tidak agamis sama sekali. Prabowo bukanlah representasi dari kaum agamis, karena dia sadar betul kalau dia bukanlah penganut agama yang taat.

Hal itu beliau katakan secara jujur dan apa adanya. Kalau dia dicalonkan sebagai Capres lewat Ijtima' Ulama, itupun bukan berarti dia terpilih karena Keislamannya.

Persoalan keislamannya itu pulalah yang menyebabkan perselisihan antara Yusril Ihza Mahendra dengan Habib Riziek Shihab.

Prabowo itu seorang Nasionalis, meskipun dia merupakan anak dari Soemitro Djojohadikusumo, dalam sejarah Republik ini pernah tercatat dalam kasus pembrontakan PRRI/Permesta dijaman Pemerintahan Soekarno, padahal beliau sendiri merupakan salah Satu mentri di Pemerintahan Soekarno.

1950-1951: Menteri Perdagangan dan Industri, Kabinet Natsir . 1952-1953: Menteri Keuangan, Kabinet Wilopo .1955-1956: Menteri Keuangan, Kabinet Burhanuddin Harahap .1958-1961: Bergabung dengan gerakan PRRI / Permesta dalam oposisi terhadap pemerintah pusat Jakarta. Klik disini

Prabowo pernah mengatakan kalau ilmu agamanya kurang, karena dia bukan dari pesantren, tapi diakuinya dia Islam sejati. Ayahnya Soemitro, adalah seorang muslim, cuma saja dalam masyarkat dikenal sebagai penganut Islam sekuler. Jadi Soemitro pun juga tidak agamis.

Seperti yang pernah dikatakan Prabowo saat Ijtima' Ulama, di Menara Peninsula, Jakarta Barat, Jumat (27/7/2018), yang saya kutip dari Detik.com

"So hari ini, karena jarang yang saya bisa bicara dengan ulama, biasanya saya bicara dengan... ya, kan, petani, purnawirawan, ada guru," buka Prabowo.

Prabowo lalu berbicara tentang busana yang dikenakan para peserta Ijtimak Ulama. Di sinilah Prabowo mengakui ilmu Islamnya kurang.

"Juga lihat, banyak, putih-putih semua ini karena memang saya ini ya tidak berasal dari pesantren. Saya juga mungkin ilmu agama Islam yang saya kurang, kurang baguslah," sebut Prabowo.

Meski demikian, Prabowo menegaskan dirinya seorang Islam sejati. Prabowo menyebut dirinya sosok nasionalis-religius.

"Tapi saya memang harus mengakui, dari sejak muda, bapak saya memang orang Islam. Saya muslim. Jadi, selain saya muslim, saya juga nasionalis," sebut Prabowo.

Sebagai seorang muslim sejati, sejatinya Prabowo harus bertanggung jawab terhadap kemuslimannya, selayaknya umat muslim pada umumnya. Ibadah ritual ima waktu dalam sehari adalah sebuah kewajiban (semoga Prabowo konsisten), bukan sesuatu yang hanya sebatas ucapan.

Ditengah keluarga yang semuanya Nasrani, hanya Prabowo dan ayahnya yang Muslim, sementara ayahnya sendiri meskipun Muslim tapi sekuler. Bisa jadi sejak kecil dia tidak terbiasa dengan ibadah-ibadah ritual umat Islam. Kalau pernah beredar video, dimana saat dia berwudu' urutannya salah. Lihat sini

Jadi memilih Prabowo Karena Agama itu hampir mustahil, yang tampil dipermukaan agama hanyalah kemasan, Prabowo dipilih lebih kepada karena sikap dan kepribadiannya, bukan karena agamanya. Lebih ekstrim lagi bisa dibilang, memilih Prabowo itu karena membenci Jokowi.

Sebagai seorang Muslim, jelas ibadahnya tidak bisa dijadikan panutan, meskipun seorang pemimpin Muslim itu seharusnya ibadahnya pun patut diteladani, dalam Islam pemimpin itu adalah juga seorang Imam, dan rakyat adalah Makmumnya.

Saya sangat yakin, hampir semua pendukung Prabowo memilih dia bukanlah karena agamanya. Figur Prabowo memang menarik, apa lagi saat mudanya. Secara intlektualnya bagus, kurangnya Prabowo hanya pada kontrol emosionalnya, juga spiritualitasnya. Secara kecerdasan umum dia tidak komplit, dia cuma cerdas secara intlektual.

Seorang pemimpin itu harus memiliki kecerdasan yang komplit, disamping memiliki kecerdasan intlektual, dia juga harus memiliki kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan kecerdasan estetik. Mungkin Prabowo memiliki kecerdasan estetik, tapi tanpa kecerdasan emosional dan spiritual, tetaplah tidak komplit.

***