Mungkin Prabowo memiliki kecerdasan estetik, tapi tanpa kecerdasan emosional dan spiritual, tetaplah tidak komplit.
Hampir mustahil rasanya memilih Prabowo Karena Agama, karena tongkrongannya tidak agamis sama sekali. Prabowo bukanlah representasi dari kaum agamis, karena dia sadar betul kalau dia bukanlah penganut agama yang taat.
Hal itu beliau katakan secara jujur dan apa adanya. Kalau dia dicalonkan sebagai Capres lewat Ijtima' Ulama, itupun bukan berarti dia terpilih karena Keislamannya.
Persoalan keislamannya itu pulalah yang menyebabkan perselisihan antara Yusril Ihza Mahendra dengan Habib Riziek Shihab.
Prabowo itu seorang Nasionalis, meskipun dia merupakan anak dari Soemitro Djojohadikusumo, dalam sejarah Republik ini pernah tercatat dalam kasus pembrontakan PRRI/Permesta dijaman Pemerintahan Soekarno, padahal beliau sendiri merupakan salah Satu mentri di Pemerintahan Soekarno.
1950-1951: Menteri Perdagangan dan Industri, Kabinet Natsir . 1952-1953: Menteri Keuangan, Kabinet Wilopo .1955-1956: Menteri Keuangan, Kabinet Burhanuddin Harahap .1958-1961: Bergabung dengan gerakan PRRI / Permesta dalam oposisi terhadap pemerintah pusat Jakarta. Klik disini
Prabowo pernah mengatakan kalau ilmu agamanya kurang, karena dia bukan dari pesantren, tapi diakuinya dia Islam sejati. Ayahnya Soemitro, adalah seorang muslim, cuma saja dalam masyarkat dikenal sebagai penganut Islam sekuler. Jadi Soemitro pun juga tidak agamis.
Seperti yang pernah dikatakan Prabowo saat Ijtima' Ulama, di Menara Peninsula, Jakarta Barat, Jumat (27/7/2018), yang saya kutip dari Detik.com
"So hari ini, karena jarang yang saya bisa bicara dengan ulama, biasanya saya bicara dengan... ya, kan, petani, purnawirawan, ada guru," buka Prabowo.
Prabowo lalu berbicara tentang busana yang dikenakan para peserta Ijtimak Ulama. Di sinilah Prabowo mengakui ilmu Islamnya kurang.
"Juga lihat, banyak, putih-putih semua ini karena memang saya ini ya tidak berasal dari pesantren. Saya juga mungkin ilmu agama Islam yang saya kurang, kurang baguslah," sebut Prabowo.
Meski demikian, Prabowo menegaskan dirinya seorang Islam sejati. Prabowo menyebut dirinya sosok nasionalis-religius.
"Tapi saya memang harus mengakui, dari sejak muda, bapak saya memang orang Islam. Saya muslim. Jadi, selain saya muslim, saya juga nasionalis," sebut Prabowo.
Sebagai seorang muslim sejati, sejatinya Prabowo harus bertanggung jawab terhadap kemuslimannya, selayaknya umat muslim pada umumnya. Ibadah ritual ima waktu dalam sehari adalah sebuah kewajiban (semoga Prabowo konsisten), bukan sesuatu yang hanya sebatas ucapan.
Ditengah keluarga yang semuanya Nasrani, hanya Prabowo dan ayahnya yang Muslim, sementara ayahnya sendiri meskipun Muslim tapi sekuler. Bisa jadi sejak kecil dia tidak terbiasa dengan ibadah-ibadah ritual umat Islam. Kalau pernah beredar video, dimana saat dia berwudu' urutannya salah. Lihat sini
Jadi memilih Prabowo Karena Agama itu hampir mustahil, yang tampil dipermukaan agama hanyalah kemasan, Prabowo dipilih lebih kepada karena sikap dan kepribadiannya, bukan karena agamanya. Lebih ekstrim lagi bisa dibilang, memilih Prabowo itu karena membenci Jokowi.
Sebagai seorang Muslim, jelas ibadahnya tidak bisa dijadikan panutan, meskipun seorang pemimpin Muslim itu seharusnya ibadahnya pun patut diteladani, dalam Islam pemimpin itu adalah juga seorang Imam, dan rakyat adalah Makmumnya.
Saya sangat yakin, hampir semua pendukung Prabowo memilih dia bukanlah karena agamanya. Figur Prabowo memang menarik, apa lagi saat mudanya. Secara intlektualnya bagus, kurangnya Prabowo hanya pada kontrol emosionalnya, juga spiritualitasnya. Secara kecerdasan umum dia tidak komplit, dia cuma cerdas secara intlektual.
Seorang pemimpin itu harus memiliki kecerdasan yang komplit, disamping memiliki kecerdasan intlektual, dia juga harus memiliki kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan kecerdasan estetik. Mungkin Prabowo memiliki kecerdasan estetik, tapi tanpa kecerdasan emosional dan spiritual, tetaplah tidak komplit.
***
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews