Membaca Kenegarawanan Megawati

Di pundak Ganjar-lah sekarang pemikiran Sukarno dihidupkan kembali ke bumi Indonesia. Setelah diperjuangkan Megawati dan Jokowi.

Sabtu, 22 April 2023 | 12:32 WIB
0
140
Membaca Kenegarawanan Megawati
Megawati Soekarnoputri dan Ganjar Pranowo (Foto: Tribunnews.com)

Dipilihnya Ganjar Pranowo oleh PDIP sebagai Capres 2024 bikin banyak terkejut banyak orang. Ditengah-tengah rakyat Indonesia menyambut suasana Lebaran, tiba-tiba peristiwa politik besar yang kerap jadi pertanyaan masyarakat “siapa calon dari PDIP?” terjawab dengan tiba-tiba di Istana Batutulis, Bogor. –Sebuah tempat yang kerap dijadikan Bung Karno sebagai media kontemplasi dalam memikirkan masalah-masalah kebangsaan-. Megawati mengumumkan Ganjar sebagai Calon Presiden dari PDIP.

Sontak pernyataan Megawati ini menimbulkan kehebohan. Jeniusnya Megawati memilih waktu yang tepat sebelum lebaran akan dibicarakan banyak orang pada pertemuan-pertemuan keluarga, momen berkumpulnya handai tolan seperti yang dilakukan banyak orang Indonesia ketika lebaran.

Berita ditunjuknya Ganjar akan dengan sendirinya menguasai arus pembicaraan publik saat momentum lebaran dan jadi topik utama yang dibicarakan keluarga-keluarga di Indonesia. 

Kejeniusan Megawati dalam melihat momentum juga dibarengi penilaian rakyat yang melihat bahwa Megawati benar-benar Negarawan yang melihat segala hal dalam penempatan kuasa politik dengan objektive, tidak didasari kepentingan diri sendiri. Ini yang tidak banyak dimiliki banyak tokoh politik di Indonesia. Terpilihnya Ganjar disikapi Megawati karena memang ‘arus bawah’ berkata demikian. Sama hal-nya saat Jokowi dipilih PDIP, Megawati melihat alam gerak rakyat dengan insting dan kemampuan nalar diatas rata-rata, Megawati memang dikenal politisi yang mampu menilai orang, apa orang ini loyal atau pengkhianat hal ini didapatkan ketika ia membaca bagaimana pengkhianatan di masa-masa kejatuhan Bung Karno juga membaca bagaimana perilaku orang kepercayaan Bung Karno di masa Suharto berkuasa.

Megawati dinilai mampu membaca situasi politik, momentum dan inilah kenapa Megawati adalah satu-satunya politisi di Indonesia yang mengalahkan Suharto dalam pertarungan politik di Indonesia dan membawa PDIP menjadi Partai Terbesar di negeri ini setelah kejatuhan Suharto.  

Ada beberapa peristiwa besar yang bisa dijadikan milestone catatan kenegarawanan Megawati. Pertama, ketika menghadapi Suharto, Megawati menolak dengan melawan Suharto dengan kekerasan. Megawati tahu Suharto saat naik jadi Presiden tahun 1967 dengan merekayasa konstitusi dengan memutar balikkan isi Supersemar, dan Suharto suka membolak balikkan hukum demi kekuasaan dibaliknya ia akan melakukan kekerasan. Disinilah Megawati menantang Suharto dengan menggunakan kekuatan hukum, “masak dari sekian banyak Pengadilan Negeri, pasti ada satu dua Hakim yang akan memihak kebenaran” begitu Megawati berkata di depan anggota-anggota PDI setelah kubu Pemerintah menindas PDI Pro Mega di tahun 1997. Dan Megawati mengajukan banyak gugatan ke berbagai Pengadilan Negeri. 

Kenegarawanan kedua, adalah ketika Megawati menaikkan kader PDIP Jokowi sebagai Calon Presiden 2014.

Megawati melihat arus batin rakyat dengan cermat. Setelah dirasa Jokowi baik untuk rakyat Indonesia, maka ia menyingkirkan harapan lingkaran terdekatnya yang getol mendorongnya sebagai capres. Dalam peristiwa penting itu, Megawati justru memberikan mutiara terbaiknya bagi Jokowi sebagai Capres pilihan PDIP.

Catatan kenegarawanan Megawati juga nampak kuat pada peristiwa ketiga, saat Ahok dimajukan PDIP sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta. Saat itu Megawati didatangi banyak tokoh agama yang mengajurkan agar Megawati untuk tidak mencalonkan Ahok. Alasannya karena Agama Ahok berbeda dengan mayoritas. Disinilah Megawati berdiri kokoh sebagai negarawan. “Yang saya cari adalah sosok pemimpin yang berani bersikap tegas dan tanpa pandang bulu untuk menertibkan Jakarta. Menjadi Gubernur itu adalah pemimpin pemerintahan, bukan pemimpin agama. Semua ada aturannya, dan Indonesia adalah negara yang didasarkan pada Pancasila”, ujarnya saat itu. Bahkan testimoni Hasto ketika di Bali menerima instruksi dari Megawati tentang keputusannya menetapkan Ahok, dengan tergetar Megawati mengatakan: “Memang tidak mudah menjalankan ajaran Bung Karno. Namun kalau kita tidak kokoh, siapa lagi yang memegang jalan keyakinan politik, meski itu terjal dan berliku”. 

Apa yang disampaikan Megawati adalah konsistensi pada hukum dasar konstitusi. Sikap Megawati akan beda kecuali misalnya Ahok dibilang tidak mampu bekerja atau tidak punya integritas maka Megawati bisa maklum, tapi bila karena diskriminasi Ahok disebabkan oleh Agama ataupun Suku, maka itu jelas perlakuan tidak adil dan menyalahi konstitusi. Berpegangan pada itu maka Megawati memutuskan Ahok maju sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta. 

Catatan terkini kenegarawanan Megawati adalah ia menunjuk Ganjar Pranowo sebagai calon Presiden 2024 dan banyak orang tahu majunya Ganjar adalah kejutan bak petir di siang bolong. Banyak analisis yang saat itu mengatakan, bahwa Megawati dipastikan akan memberikan ruang pada Puan Maharani, puterinya sendiri. Bagaimanapun naluri seorang Ibu ingin anaknya berhasil, tapi demi kepentingan bangsa yang lebih luas Megawati justru memilih Ganjar. Hal ini bisa dibandingkan dengan SBY yang melakukan usaha mati-matian agar AHY bisa jadi Presiden, lewat banyak usaha seperti penyingkiran para pendiri Demokrat, dan juga Anas Urbaningrum serta begitu banyak rekayasa di tubuh Partai Demokrat untuk menaikkan AHY sebagai Ketua Umum Partai. SBY juga memaksa koalisi pro Anies agar menerima AHY sebagai Cawapres. Karena itulah, rakyat kini bisa melihat, bahwa apa yang dilakukan oleh SBY adalah murni untuk diri dan keluarganya. Tidak heran, SBY lebih memilih membangun Museum untuk memgabadikan dirinya yang sebenarnya miskin prestasi dan hanya mengabdi pada dirinya sendiri.

Kini rakyat Indonesia semakin mengerti bahwa satu mimpi besar Megawati adalah melanjutkan cita-cita Bung Karno yang tertunda karena Orde Baru dan 10 tahun kepemimpinan SBY. Dalam rangka Pembangunan Semesta Berencana dimana Trisakti, Berdaulat dalam Politik, Berdikari dalam ekonomi, dan Berkepribadian dalam berkebudayaan menjadi acuan bangsa ini. Hal ini tergambar dari pidato politik Ganjar saat penunjukan dirinya sebagai Capres dari PDIP untuk tahun 2024. “Saya lahir dari partai ini, digembleng oleh partai ini, dan besar di partai ini dengan nilai-nilai kejuangan partai, dengan semangat, spirit, dan inspirasi dari Bung Karno yang tentu kita sebagai anak-anaknya, sebagai anak-anak bangsa, sangat menghormati, mengikuti, dan selalu menjalankan apa yang menjadi pemikiran beliau. Sebagai seorang pemikir politik, bagaimana beliau berbicara dalam taraf global, dalam taraf, nasional bahkan sampai yang kecil, sampai tingkat lokal yang tadi disampaikan bagaimana kita bersentuhan dengan rakyat secara langsung. Seluruh inspirasi dari pemikiran Bung Karno inilah yang kemudian mesti kita wujudkan”.

Ganjar adalah sosok anak muda di tahun 1990-an yang bangkit membela Bung Karno, sama seperti jutaan anak muda Indonesia yang turun ke jalan memakai baju merah banteng dan mengusung Poster Bung Karno melawan Suharto, sebuah kebangkitan mengharukan sepanjang dekade 1990-an dimana pada akhirnya rezim fasis Suharto tumbang. Kini Ganjar dipercaya PDIP melanjutkan dan membumikan Pemikiran Bung Karno kembali ke tengah-tengah rakyat.

Dan dipundak Ganjar-lah sekarang pemikiran Sukarno dihidupkan kembali ke bumi Indonesia. Setelah diperjuangkan Megawati dan Jokowi.

Anton DH Nugrahanto