"Ngoncek'i" yang Mau Nyapres

Jadi presiden RI itu tidak bisa cuma modal pede, karena ini bukan beauty contest, sehingga dibutuhkan kecerdasan emosi dan kinerja yang luar biasa serta rekam jejak terukur agar hasilnya tidak ngawur.

Minggu, 5 Juni 2022 | 08:23 WIB
0
53
"Ngoncek'i" yang Mau Nyapres
Kursi kayu (Foto: dok. pribadi)

Karena mulai rame menjelang pilpres 2024 banyak yang test market, ada yg malu-malu dan malah ada yang malu-maluin.

1. PUAN MAHARANI

Putri Megawati yang dibesarkan di partai dinasti ini begitu sangat kelihatan memaksakan percaya diri. Hal ini bisa karena karakternya atau karena penjilat di kanan kiri yang terus membisiki.

Percaya atau tidak dari hasil survey saja namanya jauh di bawah yang lain, khususnya GP (Ganjar Pranowo) yang mereka musuhi.

Ada dua kemungkinan dari kehadiran tim sorak di sekitarnya. Bisa memang memaksa dan cari muka, atau mereka sengaja menjerumuskan. Maju dengan hasil malu.

Bayangkan setelah berseteru dengan GP langsung balihonya tersebar. Bahkan saat bencana Semeru di Jatim, balihonya hadir di tengah orang yang kekurangan air. Model pencitraan beginian sudah basi, rakyat saat ini belajar banyak dari Jokowi, sehingga akan semakin seksama mencari pengganti.

Serangan kepada GP yang terus dilakukan dengan sindiran sebagai pemimpin di medsos, pemimpin tidak hanya ganteng, dan seterusnya. Ini adalah reaksi caildis, karena makin mereka menyerang sosok yang dielukan, maka mereka bak melempar bumerang.

Mereka lupa gegara mulut almarhum Taufik Kemas yang menyindir SBY sebagai jendral kekanak-kanakanlah yang membuat SBY naik daun.

Ingat saat kami ngobrol bersama almarhum Sys NS, bahwa partai Demokrat saat itu yang sudah 4 tahun berdiri beranggotakan 2 juta orang, dan pasca salah ucap untuk SBY dalam seminggu anggotanya menjadi 4 juta. Ini fakta dari salah gaya bisa berbahaya.

Puan harus ingat, bahwa nama besar kakeknya adalah karena perjuangan, bukan besar dalam timangan, Ibunya kecipratan nama besar itu, apakah Puan berharap masih bisa menompang nama besar itu sebagai kenderaan, wallahu a'lam.

Keharusan berikutnya adalah bahwa mereka yang maju pilpres 2024 akan menggantikan Jokowi yang tingkat kepuasan rakyat atas kepemimpinannya mencapai 77%. Closingnya bisa diatas 90% pada akhir masa jabatan 2024.

Hal di atas sangat beda saat Jokowi menggantikan SBY yang memble. Jokowi lebih mudah membuat diprensiasi atau devisasi karena yang digantikan nyaris wan prestasi kepada rakyatnya. Lha skrg Jokowi sedang di puncak prestasi yang sangat tinggi, kalau yang akan menggantikan kelas kawe ya pasti akan mengulang kememblean SBY.

Jadi presiden RI itu gak bisa cuma modal pede, karena ini bukan beauty contest, sehingga dibutuhkan kecerdasan emosi dan kinerja yang luar biasa serta rekam jejak terukur agar hasilnya gak ngawur.

Teman-teman mari kita buat survey sederhana. Cukup tulis angka saja atas pertanyaan dinawah ini.

1. Siapa yg gak bakal milih Puan andai dia nyapres.
2. Apakah lebih baik Puan tetap menjadi Ketua DPR.
3. Atau Puan jadi Ketum partai saja.

Terima kasih atas partisipasinya. Salam.

***