Setelah Resuffle Kabinet Jokowi

Saya ragu dan pesimis ada perbaikan di sana-sini. Jokowi telah berusaha keras. Para pendukungnya tentu sedikit tersenyum. Para pembencinya, siapa pun yang terpilih akan tetap membenci.

Rabu, 23 Desember 2020 | 22:13 WIB
0
104
Setelah Resuffle Kabinet Jokowi
Presiden Joko Widodo (Foto: Facebook/Andi Setiono Mangoenprasodjo))

Kalau ukurannya adalah nama-nama Menteri yang diganti dan penggantinya, saya sudah mendengar dan diberitahu sejak seminggu yang lalu. Tapi saya bersabar menunggu, pada hari Selasa sore kemarin. Dalam hitungan Jawa, itu sudah masuk hari Rabu Pon sebagaimana weton-nya Jokowi.

Sebagaimana kita tahu, banyak orang baik yang rela berpuasa pada hari tersebut, karena saking cintanya pada figur unik dan langka ini. Saya setuju dengan pendapat mereka, bahwa tak semua harus bersuara keras agar didengar. Sebagian memilih, bersuara dengan lirih, dengan laku prihatin.

Konon mereka percaya, satu doa tulus mereka akan mampu mengatasi suara kasar dan ngawur 300 orang pembenci yang lainnya. Semoga juga...

Dan sebagaimana yang saya duga, keenam menteri pengganti diminta untuk memberikan sambutan atas penunjukannya. Catat penunjukkan, karena mungkin baru hari ini mereka diangkat secara resmi. Dan barangkali, maaf saya sungguh gak happy, sebagaimana banyak teman-teman saya bersorak sorai. Gak satu pun bikin happy, bukan saja karena itung-itungan politiknya. Tetapi minimal dari kata-kata sambutan yang diberikannya. Mereka bukan saja tidak siap, bahkan sebagian di antaranya malah sangat norak!

Mari kita petani, urai satu persatu.

Pertama, Risma Tri Harini. Penunjukkannya sebagai Menteri Sosial, saat ia belum lagi selesai masa jabatannya. Lalu ia, sebagaimana calon Lurah dalam kampanye-nya menguraikan rencana-rencana kerja yang akan dilakukannya. Dan semakin tidak siap, kala seolah ia mengingatkan Pasal 33 UUD, yang menyatakan bahwa akan mengurus anak jalanan, orang terlantar, atau penyandang disabilitas.

Hallo bukankah itu urusan masing-masing Dati II. Waduh, ini menteri kok masih rasa Walikota. Penunjukkan juga memupus, kemungkinan dimajukannya ia sebagai calon Gubernur DKI. Rupanya partai pengusungnya, khawatir kasus-kasus korupsi anak-anaknya akan jadi titik lemah bila ia harus berkampanye terbuka.

Kedua, Sandiaga Uno. Bagi banyak orang ini simbol, bahwa Pilpres 2019 kemarin sungguh lelucon dan tak berguna. Buat apa semua sandiwara itu semua, yang memakan juga korban jiwa yang tak perlu itu. Dan tak pernah diusut tuntas siapa dalang sesungguhnya. Penunjukkan bagi saya, hanya masalah waktu.

Sebelumnya telah diisukan sejak awal pembentukan Kabinet pada periode kedua. Tapi masak ya borongan begitu? Pos yang ditempatinya, tampak penting Ekonomi Kreatif? Tapi dalam sambutannya ia mengatakan akan menggunakan Big Data dan cara-cara kekinian. Istilah indahnya menangkap peluang jadi pemenang? Bohong besar, bila menilik Program OC-OK-nya tak jelas juntrungnya itu.

Ketiga, Budi Gunadi Sadikin. Ia menggantikan dr. Terawan sebagai Menteri Kesehatan. Lepas dari pendapat netizen yang nyinyir itu, yang mendorong ia segera diganti. Saya adalah pendukung beliau. Bukan sekedar karena ia putra daerah, sama-sama dari Jogja. Tapi juga terutama sikap sabar, diam, dan besar jiwa yang ditunjukkannya. Ia menyelesaikan masalah dengan cara yang taktis.

Saya tidak bayangkan, betapa beratnya harus berhadapan dengan karakter warga yang sulit diatur, merasa paling benar, paling teraniaya, dst dst. Ia dipermalukan, hanya karena tak bersedia diwawancara NS yang lebay itu. Lalau si presenter ini mewawancarai kursi kosong.

Terus terang, bagi saya ini salah satu blunder Jokowi. Walau saya tahu alasannya, kenapa ia diganti. Karena ia dianggap gagal menjalankan misi Jokowi untuk membabat mafia farmasi dan ala kesehatan. Di sini Jokowi tidak fair. Jelas waktunya terlalu pendek, dengan situasi pandemik yang tak memungkinkan.

Sialnya, penggantinya justru adalah bukan sekedar orang kesehatan, tapi adalah seorang dengan latar belakang perbankan. Bagian yang orang tidak tahu atau lupa, ia adalah orang yang berkontribusi dalam "perampokan" Bank Bali. Sebagai salah satu direktur pada masanya, ia gagal mempertahankan bank ini dari rongrongan bukan saja dari BI tapi juga Standart Chartered Bank (SCB).

Saya berharap blunder ini, tidak menjadi batu sandungan di masa sisa jabatan Jokowi. Bagi saya, Jokowi mengabaikan salah satu menteri-nya yang paling tulus membantu.

Keempat, Yaqut Cholil Qoumas (YCQ). Menteri agama yang digantikannya memang pantas diganti. Bukan sekedar karena "mendadak kadrun". Ia juga gagal mengatasi tekanan, bahwa kemetrian ini adalah jatah NU secara tradisional. Padahal penunjukkan Fachrul Razi yang berlatar belakang militer adalah untuk dua hal: membasmi radikalisme dan mengurangi potensi KKN di kementrian ini.

Namun penunjukkan YCQ yang juga adalah adik kelas saya di FISIP UI, tak membuat saya girang. Makanya, ia sampai harus mengucapkan Innalilliahi wa inna lilliahi rojiun. Bahwa penunjukkan adalah "musibah" bagi dirinya.

Ia bukan saja sudah kagok dan canggung dari awal. Sehingga sebagai Menteri Agama, ia lupa ia adalah menteri semua agama. Bila 5 calon menteri baru lainnya menyapa publik dengan lima salam yang berbeda. Ia hanya mengucapkan salam hanya dari agama-nya sendiri.

Lalu dalam sambutannya, ia dengan slapstick justru menekankan peran warga NU dalam merebut kemerdekaan secara militer. Tidak salah! Tapi ia sadar bahwa penunjukkan adalah justru akan memperhadapkan lembaga yang pernah dipimpimnya Banser NU dengan dengan ormas-oramas Islam radikal lainnya. FPI terutama! Lalu kita harus berharap banyak padanya? Ya kasihan lah masbro....

Kelima, Wahyu Sakti Trenggono. Sebelumnya ia adalah kader partai medioker PAN, sebelum bergabung dengan PDI-P, sebagai anggota pemenangnan Tim Sukses Jokowi Maruf. Sebelum dipasang sebagai watch-dog-nya Prabowo Subianto di Kementrian Pertahanan. Ia adalah salah satu menteri terkaya barangkali di kabinet Jokowi. Taipan dalam bisnis telekomunikasi.

Perusahaannya menjadi yang terbesar di bidangnya se-Indonesia dengan kepemilikan lebih dari 14.000 menara. Hingga disebut sebagai Raja Menara di Indonesia. Lalu ketika ia mengatakan akan mewakafkan diri untuk bangsa ini. Lalu tiba-tiba kita harus percaya?

Keenam, Mohammad Lutfi. Ia salah mantan menteri dari era SBY yang diopeni Jokowi. Ia mengatakan berjanji bekerja "secakep" mungkin ke arah ekonomi Indonesia yang lebih baik. Gak tahu apa maksudnya ia bilang kerja yang cakep itu, mungkin maksudnya istrinya cantik sekali. Ia satu-satunya menteri yang berani berjanji, saya catat empat kali ia mengatakan saya berjanji.

Mungkin, sebagaimana dulu SBY pernah mengatakan juga kalau Demokrat terpilih lagi memimpin negara ini, ia berjanji akan bekerja lebih baik lagi. Sebuah pengakuan jujur bahwa ia sebenarnya pernah gagal. Lalu kita berharap akan ada keajaiban untuk bangkit seceepatnya?

Saya sungguh ragu dan pesimis ada perbaikan di sana-sini. Jokowi telah berusaha keras. Para pendukungnya tentu sedikit tersenyum. Para pembencinya, siapa pun yang terpilih akan tetap membenci. Dan saya bingung harus bersikap apa sebagai orang yang independent yang berdiri di tengah-tengah....

Namun sebagaimana saya tulis di atas, harapan saya semoga para pendukung tulus garis diam, yang tak lelah menjaga Jokowi dengan terus menarik energi semesta yang baik kepadanya. Semoga tetap efektif sampai empat tahun ke depan. Hanya kepada merekalah kita bisa berharap banyak...

Sedangkan bagi yang cerewet, nyinyir pada apa saja, dan sekarang mendadak berani bersuara hanya karena FPI dan HRS sudah dikerakap. Semoga juga gak kenal lelah terus bersifat demikian. Medsos bukan medsos tanpa kalian.

Saya pamit mundur, bosan menulis berbau politik seperti ini. Sampai jumpa di tulisan-tulisan yang gak kayak gini lagi. Kalau saya lelah, semoga yang lain tak kenal lelah menjaga Jokowi ....

***