Agama, Kemiskinan dan Politik Kekuasaan

Minggu, 18 November 2018 | 09:11 WIB
0
208
Agama, Kemiskinan dan Politik Kekuasaan
Ilustrasi kemiskinan dan doa (Foto: Netizenia.com)

Seorang teman bertanya, mengapa orang Indonesia begitu fanatik dengan agamanya? Ia berasal dari negara yang tak peduli pada agama. Maka dari itu, ia heran, mengapa orang Indonesia sangat gandrung dengan agama. Saya terdiam di hadapan pertanyaan tersebut.

Saya mulai berpikir soal asal muasal agama. Mengapa agama ada? Mengapa ia bisa begitu tersebar di berbagai belahan dunia?

Agama dan Alam

Sudah sejak awal, alam selalu menjadi misteri bagi manusia. Begitu banyak hal yang di luar kendalinya. Perubahan cuaca sampai dengan bencana alam, semuanya menciptakan rasa takut di dalam diri manusia. Di hadapan alam yang penuh ketidakpastian ini, hidup manusia terasa kecil dan tak berarti.

Tak hanya itu, alam juga mengundang rasa kagum di dalam diri manusia. Keindahan alam, dengan gunung dan lautnya, membuat hati manusia bergetar. Ia merasa kecil, sekaligus merasa bangga menjadi bagian dari alam ini. Dititik inilah agama tercipta.

Di hadapan yang tak dapat dikendalikannya, manusia menciptakan agama. Ia merasa, ada sesuatu yang mengatur segalanya. Ia memiliki beragam nama, misalnya Tuhan, Dewa, Allah dan sebagainya. Jika manusia memuji dan menjalankan kehendaknya, maka ia akan selamat. Jika tidak, maka petaka sudah menanti.

Dalam hal ini, agama adalah kombinasi antara rasa takut dan rasa kagum terhadap ketidakpastian hidup. Agama juga berkembang, karena dua hal itu terus berkembang di dalam diri manusia. Ilmu pengetahuan modern dan teknologi sudah berupaya melepaskan manusia dari ketakutan ini. Namun, upayanya baru berhasil sebagian.

Di Indonesia, ilmu pengetahuan dan teknologi hanya berperan sebagai barang pakai. Indonesia belum, (atau tidak mau?) mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologinya sendiri. Akibatnya, walaupun terlihat canggih dan modern di luar, jiwanya masih penuh ketakutan primitif terhadap ketidakpastian hidup. Maka dari itu, agama, beserta sisi gelap fanatisme bodoh dan perpecahan yang dilahirkannya, berkembang begitu pesat di Indonesia.

Agama dan Kemiskinan

Di hadapan tekanan kemiskinan, agama seringkali menjadi sumber harapan. Agama menjadi penghiburan satu-satunya, ketika dunia terasa begitu kejam dan tak adil. Agama memberikan janji, bahwa penderitaan, jika dijalani dengan mulia, akan bermuara pada surga. Inilah juga yang terjadi di Indonesia.

Di Indonesia, kesenjangan sosial masih begitu terasa. Beberapa kelompok elit menguasai begitu banyak sumber daya, dan menjadi begitu kaya. Sementara, sebagian besar warga masih hidup dengan susah payah, bahkan di bawah garis kemiskinan. Agama berperan besar di dalam memberikan penghiburan bagi kaum miskin, supaya mereka bisa menjalankan hidup mereka dengan mulia.

Sayangnya, ini juga merupakan sisi baik sekaligus sisi buruk dari agama. Di hadapan kesenjangan dan ketidakadilan sosial, seperti diungkapkan oleh Marx, agama mendorong orang untuk menerima keadaan, bahkan bersyukur. Dalam hal ini, agama menjadi halangan untuk mendorong terjadinya perubahan sosial. Agama tidak hanya menjadi hiburan bagi orang miskin, sebagaimana kata Marx, tetapi juga menjadi pelestari dari kemiskinan itu sendiri.

Di Indonesia, apalagi sejak pilkada Jakarta 2017, agama diperalat oleh penguasa politik. Agama digunakan sebagai alat untuk mendulang suara. Akibatnya, agama tidak lagi menjadi hiburan dan sumber kedamaian, tetapi menjadi sumber konflik. Pilpres 2019 juga berpeluang mengalami hal serupa.

Agama dan Keadilan

Ini semua tentu harus disadari oleh para pemeluk agama di Indonesia. Pertama, jangan sampai agama menjadi pelestari kemiskinan. Keadilan sosial tetap harus diperjuangkan. Jika ditafsirkan dengan tepat, agama juga bisa memberikan dasar teologis bagi perjuangan mewujudkan keadilan sosial bagi semua, tanpa kecuali.

Dua, agama juga tidak boleh dipermainkan oleh kekuasaan politik. Ketika agama berbaur dengan politik kekuasaan, maka keduanya akan hancur. Perpecahan dan konflik akan menjadi kenyataan. Semua memiliki peran dan kedudukannya masing-masing, apalagi di dalam masyarakat majemuk demokratis, seperti Indonesia.

Setelah minum seteguk air, saya menjawab pertanyaan teman saya tersebut. Agama bisa begitu berkembang di Indonesia, karena kita masih diselimuti oleh rasa takut yang besar terhadap kehidupan. Kita merasa tak berdaya di hadapan ketidakadilan sosial, dan ancaman bencana alam tanpa henti. Karena itu, kita masih butuh hiburan dari agama.

“Sampai kapan?” ia bertanya… Saya tak tahu jawabannya.

***