Faktor Megawati Mendorong Ahok Merapat ke PDIP

Sabtu, 26 Januari 2019 | 21:05 WIB
1
262
Faktor Megawati Mendorong Ahok Merapat ke PDIP
Megawati dan Ahok
Warga Jakarta belum sepenuhnya lupa tragedi Pilkada DKI Jakarta 2017 dengan berakhir pemenjaraan Ahok. Saat iu pendukung militan Ahok berharap, Jokowi sebagai mantan rekan Ahok saat menakhodai DKI Jakarta ikut campur, ternyata tak terjadi.
 
Memang skenario ini diharapkan oleh penentang Ahok, mereka mempunyai agenda ganda yakni melengserkan Ahok sekaligus Jokowi. Terbukti demonstrasi massa diarahkan ke Istana Merdeka  berkali-kali, salah satu tuntutannya mendesak Jokowi mundur dengan dalih melindungi penista agama.
 
Padahal saat itu pengadilan terhadap Ahok belum digelar, sayang tak terjadi, Jokowi kukuh taat hukum, demikian pula dengan Ahok konsekuen taat hukum sampai akhirnya bebas murni. 
 
Buat kelompok oposisi jelas kegagalan total, tujuan utama melengserkan Jokowi lewat kasus Ahok gagal, pada satu sisi sukses melengserkan Ahok namun tak mampu menembus benteng pertahanan politik Jokowi. Pada akhirnya Habieb Rizieq Shihab, pentolan lapangan penentang Jokowi dan Ahok terpaksa melarikan diri ke Arab Saudi dengan alasan - alasan playing victims.
 
Pertanyaaan mengemuka ke publik, kemana arah politik Ahok setelah bebas? Mantan Wagub Ahok, Djarot Saiful Hidayat mengungkapkan Ahok bakal berlabung ke partai Moncong Putih, PDIP.  Sudah pasti bila benar bakal membuat kubu Prabosan was - was, faktanya Ahok masih memiliki pengikut militan meski 2 tahun di dalam penjara. 
 
Maka pendukung Prabosan seperti Ferdinand Hutahean menyarankan Ahok tidak berpolitik dulu lebih baik terjun ke dunia usaha. "Saran saya sebaiknya hindari politik dulu dan nikmatin kebebasan dengan liburan dulu. Jangan mau diseret-seret oleh siapapun ke dunia politik saat ini," kata Ferdinand kepada Suara.com.
 
Ada aroma ketakutan terhadap arah politik Ahok bila benar - benar omongan Djarot terbukti, yaitu berlabuh ke kandang banteng. Mau tak mau elektabilitas Jokowi bakal terdongkrak lagi mengingat Ahok sendiri memiliki pendukung setia dan militan dari berbagai kalangan di seluruh Indonesia.
 
Alasan Ahok berlabuh di PDIP pun tak berlebihan bila mengingat proses pencalonan Ahok sebagai Cagub DKI Jakarta 2017 diperantarai oleh Megawati. Seorang politisi senior PDIP pun sempat berucap bahwa Megawati sendirilah yang mendaftarkan Ahok ke KPUD Jakarta.
 
Rasa aneh sekali, PDIP mempertaruhkan reputasinya sebagai partai besar dengan mencalon Ahok saat itu mendapat banyak resistensi berkait tuduhan penodaan agama. Soal untung rugi secara politis tak menjadi pertimbangan utama Megawati, dari informasi yang saya dengar Megawati hanya mempertimbangkan setiap warga negara, apapun suku dan Ras nya memiliki hak sama. 
 
Megawati harus menebusnya dengan mahal ketika Ahok kalah dan masuk penjara, seperti keputusannya saat menuntut rezim Orba ke pengadilan paska kerusuhan 27 Juli 1996.
 
Bagi sebagian orang mungkin sebuah kekonyolan, untuk apa menempuh jalur hukum yang hasilnya sudah diketahui pasti kalah. Kalau dipikir, kenapa Megawati tak menempuh jalan revolusi, faktanya Megawati tidak mau korban sia - sia jatuh saat proses revolusi terjadi.
 
Sebagai pemimpin Megawati terlihat tak hanya memikirkan kepentingan jangka pendek, yakni kekuasaaan semata namun juga nilai - nilai  utama kebangsaan yang diwariskan para pendiri bangsa ini termasuk Ayahanda, Ir. Soekarno, yaitu Bhineka Tunggal Ika. Siapa pun warga negara Indonesia berhak mendapatkan kesempatan sama, kewajiban sama dan hak yang sama.
 
Barangkali pemikiran ini kurang dapat dipahami oleh generasi di bawah Megawati yang cenderung pragmatis dan instan. Namun NKRI ini perlu penjaga nilai - nilai kebangsaan, dan Megawati telah membuktikannya kepada kita, rupanya faktor Megawati ini menjadikan Ahok tertarik untuk bergabung ke PDIP seperti dikemukan Djarot.
 
***