JAKARTA — Pemerintah memastikan stabilitas harga bahan pokok tetap terjaga selama Ramadan 2026 melalui berbagai program intervensi pasar, distribusi logistik, serta sinergi lintas lembaga. Langkah ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan kebutuhan pangan pokok tersedia dengan harga terjangkau.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan pemerintah terus memperkuat kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas harga pangan strategis. Ia meminta pelaku usaha di sektor pangan mematuhi ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Penjualan (HAP) di tingkat konsumen.
“Ini adalah bentuk kolaborasi kita, kita bekerja. Tahun lalu kita melihat harga pangan cukup relatif stabil. Kalaupun terkadang ada kenaikan, hanya satu atau dua komoditas strategis. Kami minta dengan segala kerendahan hati agar diturunkan harganya,” ujar Amran.
Sejumlah program stabilisasi telah digelar secara serentak sejak Februari 2026 dan kini telah berjalan hingga 69 persen. Berdasarkan data Badan Pangan Nasional, Gerakan Pangan Murah (GPM) telah menjangkau 1.218 titik di 497 kabupaten/kota, dengan pelaksanaan aktif di 447 titik hingga pertengahan Februari.
Dalam program tersebut, pemerintah telah melepas sekitar 16,2 ribu kilogram bahan pokok, meliputi beras, cabai, gula, bawang merah, bawang putih, daging sapi, daging ayam, telur, daging kerbau, terigu, dan minyak goreng. Upaya ini diharapkan mampu menekan gejolak harga serta meringankan beban pengeluaran masyarakat menjelang Ramadan.
Selain GPM, pemerintah juga menjalankan program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras bersama Perum Bulog, Fasilitasi Distribusi Pangan, serta penyaluran bantuan beras dan minyak goreng bagi lebih dari 33 juta keluarga penerima manfaat pada Februari–Maret 2026.
Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto, mengatakan hasil pengecekan lapangan menunjukkan harga kebutuhan pokok secara umum masih stabil. Kenaikan signifikan hanya terjadi pada cabai rawit merah, yang dipengaruhi faktor musiman.
“Setelah kami melakukan pengecekan langsung di lapangan, secara umum harga kebutuhan pokok terpantau cukup stabil. Kenaikan yang cukup signifikan hanya terjadi pada cabai rawit merah, dari sekitar Rp45.000 menjadi Rp80.000 per kilogram. Sementara komoditas lainnya relatif stabil,” ujarnya.
Menurutnya, peran Bulog sangat penting dalam menjaga stabilitas harga, khususnya beras dan minyak goreng. Penyaluran beras SPHP dinilai efektif menahan lonjakan harga agar tetap sesuai daya beli masyarakat.
Ia menambahkan, kenaikan cabai rawit merah lebih disebabkan faktor cuaca yang memengaruhi hasil panen.
“Mudah-mudahan ketika kondisi cuaca membaik, harga cabai dapat kembali normal,” katanya. Pemerintah, lanjutnya, memastikan stok pangan dalam kondisi aman dan mencukupi hingga Ramadan dan Idul Fitri.
Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan Bulog telah menyiapkan dukungan logistik secara maksimal untuk menjaga pergerakan harga, terutama beras, minyak, dan gula, agar tidak melampaui HET.
“Dalam bulan suci Ramadan, kami menyiapkan semaksimal mungkin sesuai arahan Menteri Pertanian agar harga-harga pangan, khususnya beras, minyak, dan gula, tidak boleh di atas HET,” ujar Rizal.
Bulog, kata dia, akan memperkuat sinergi dengan Satgas Pangan, TNI, Polri, serta seluruh pemangku kepentingan di pusat dan daerah untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga. Ia menilai stabilitas harga pada periode awal tahun dan Natal lalu menjadi bukti efektivitas kerja sama lintas instansi.
Bulog juga memastikan gudang-gudang di daerah terisi untuk menjamin kelancaran distribusi saat permintaan meningkat. Dengan langkah tersebut, pemerintah optimistis harga bahan pokok tetap stabil hingga Ramadan dan Lebaran, sehingga masyarakat dapat menjalani ibadah dengan lebih tenang.
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews