Minangkabau Pasti Islam, Jawa Belum Tentu Kejawen

Itulah paham Sektarianisme dan Populisme Agama yang kini menyeruak di dunia yang sudah mengglobal, yang sudah terkoneksi dengan internet G-5, tapi memamerkan keterbelakangan berpikir.

Senin, 18 Juli 2022 | 14:53 WIB
0
171
Minangkabau Pasti Islam,  Jawa Belum Tentu Kejawen
Ahmad Tohari sholat di Gereja (Foto: fakta.news)

Orang Sri Lanka harus Budha Sinhala. Kalau bukan Budha Sri Lanka dianggap bukan Sri Lanka. Warga Suku Minangkabau harus Islam. Kalau bukan Islam, keluar dari Suku Minangkabau. 

Itulah paham Sektarianisme dan Populisme Agama yang kini menyeruak di dunia yang sudah mengglobal, yang sudah terkoneksi dengan internet G-5, tapi memamerkan keterbelakangan berpikir. 

Terekspos kini, dua contoh populer di antaranya. Dua suku dari dua negara yang sedang jadi bahasan di negeri kita. 

Sebagai orang dari suku Jawa saya lega. Di Jawa semua orang boleh menganut agama apa saja. Khususnya agama impor; Islam, Kristen, Hindu, Budha. Sedangkan Kejawen – asli kepercayaan dan keyakinan Jawa - dianggap bukan agama. Dan orang Jawa baik baik saja. Bhinneka Tunggal Ika. 

Orang Jawa dulu dan sekarang bahkan ada yang tidak beragama – atau beragama tapi tak menjalankan syariatnya, seperti saya. Abangan, Nasionalis, Moderat seperti saya enak makan dan enak tidur. Diajak tahlilan hayo, dugem dan nge-bier pun oke. Longgar. Nyantai. 

Menjadi kelaziman di Jawa, dalam satu keluarga beda agama, dan mereka baik baik saja. Pernikahan antar agama juga diam diam berjalan dengan rapinya. Pertemanan dan berniaga antar suku dan agama juga lancar jaya. Tak ada masalah. 

Tentu saja ada saja keluarga Jawa yang keberatan pernikahan beda agama. Tapi keberatan itu tidak dilembagakan dan disukukan seperti di Minangkabau. Adat istiadat Jawa tidak mengatur pernikahan beda agama. 

“Agama iku ageming ati, “ kata pepatah kebajikan sesepuh Jawa. Agama itu busana hati. Ganti saja kalau tidak cocok. 

Di Jawa, tidak ada orang yang dikeluarkan dari Suku Jawa karena pindah agama, sebagaimana Muslim Minangkabau dikeluarkan secara adat jika keluar dari Islam. 

Konon, warga suku Minangkabau yang pindah agama tidak berhak lagi disebut sebagai orang bersuku Minang dengan segala ketentuan adat yang melekat padanya; tidak punya hak atas waris pusaka dan gelar sako, dibuang. Bahkan tidak boleh bermukim di kampung halaman, dan keluarganya pun sudah tidak mengakuinya lagi sebagai anak. Apes bener. 

Dalam hal ini Suku Minangkabau tidak tunduk pada hukum positif, bahwa setiap warga negara bebas menganut agama, kepercayaan dan bebas menjalankan keyakinannya (pasal 28 UUD 45).

Orang Jawa tidak begitu. Asyik aja. Adat budaya Jawa tidak bersandar pada hukum agama tertentu, tidak “basandi” pada kitab asing, budaya asing untuk meneguhkan adat dan budaya sendiri. Sebagaimana di Kupang – NTT, dimana keluarga Muslim mengantar anaknya ditasbihkan sebagai Partur Katolik. Mereka tetap harmonis. 

Jawa adalah budaya besar, dimana paham asing malah menJawakan diri. Menjadi Jawa dengan sendirinya, larut, lebur. Tentukah Anda pernah mendengar sebutan “Islam Jawa”, “Kristen Jawa”, “Katolik Jawa”, “Hindu Jawa”, “Budha Jawa”. Selalu ada “Jawa” di belakangnya. 

Orang Jawa tidak tunduk pada agama asing. Jawa sudah punya agama sendiri, yaitu agama Kapitayan, sebelum kedatangan Hindu, Budha, Islam dan Kristen. 

Meski tidak populer, sebagian orang Jawa masih merawat aliran kepercayaannya, dan bikin perkumpulan, seperti Sapta Dharma, Pangestu, Paguyuban Sumarah, Perhimpunan Murid Sejati, dll. Masing masing ada kitabnya juga seperti Sasangka Jati, Kawruh Kasunyatan, Serat Penget, Wewerah Dharma, dll. 

Memamg ada sebutan bagi orang Jawa yang belum dan tidak menJawa diri. Mereka hanya mendapat sebutan dengan harapan bisa berubah.

Misalnya, anak kecil dan remaja yang belum tahu tata krama, sopan santun, disebut “durung Jawa” (belum Jawa). 

Orang Jawa dewasa atau yang tidak paham “unggah ungguh” dan “andap asor” disebut “dudu Jawa” (bukan Jawa). 

Orang Jawa yang menolak menJawakan diri dan tidak mengormati budaya Jawa disebut “Wis ilang Jawane” (Sudah hilang Jawanya). 

Cuma sebutan saja. Dengan pemakluman.

Muslim Jawa tidak makan daging babi. Tapi sejauh ini tak ada penjual daging babi dipolisikan. Rumah makan penyedia “SengSu”; Tong Seng Asu – hanya diedukasi, diarahkan untuk mengurangi konsumsi daging anjing. Tidak dianiaya dan dipolisikan. Apalagi dipidana. 

“Apa yang terjadi di Sri Lanka bukan people power, “ kata Hasan Nasbi, pengamat politik membandingkan krisis Srilanka, Turki dan Indonesia. “Sebab People Power ada pemimpinnya. Tapi Sri Lanka itu negara yang bangkrut. Ekonomi morat marit dan tidak punya pemimpin alternatif, “ jelasnya. 

Sebutan “People Power” populer dikobarkan Corazon “Corry” Aquino saat menumbangkan Ferdinand Marcos di Filipina. Di Indonesia, people power digerakkan mahasiswa, menurunkan Suharto, ditunggangi Amin Rais Cs. 

Setelah mahasiswa menyelesaikan tugasnya, beberapa kali, Amin Rais tanpa mahasiswa mencoba menggerakkan People Power, tapi gagal. 

Meski begitu, setidaknya ada figur pemimpin ditawarkan, yaitu Amin Rais, yang tentu saja tidak laku. Sedangkan Sri Lanka tidak ada. Rakyat berontak, menduduki istana, menikmati kolam renang dan kemewahan di dalamnya, tapi setelah itu, mereka tak punya pemimpin alternatif.

Selain Sri lanka Turki kini menjadi negara yang mengobarkan populisme agama. Menampilkan wajah agamis (Islami), kebijakan ekonomi yang populis, anti kenaikan suku bunga, dan kini dua duanya kena inflasi. Srilanka 50%, Turki 75%. 

Dua duanya sok pro kerakyatan tapi malah sedang menyusahkan rakyatnya. Hidup rakyat di sana malah jadi susah. 

Luar negri khususnya IMF siap membantu mereka, tetapi perlu jaminan pemerintah yang legitimate dan stabil. Dan Sri Lanka belum memilikinya. 

Bagaimana mau membandingkan dengan Indonesia? Inflasi kita cuma 3%. PDB kita 145 miliar dollar. Sri Lanka nol! Rakyat antre hingga tiga hari di pom bensin, listrik padam tak ada uang buat beli sollar.  

Sedangkan di sini, BBM masih dijual merata di SPBU, ke seantero negeri; separuh dari harga pasar dunia.

Secara ekonomi masuk lima terkuat di ASEAN. Tak ada pemadaman listrik, mall, resto, cafe penuh, dan ABG mejeng di Dukuh Atas dengan nama keren, Citayam Fashion Week.  

Meski di wilayah ibukota lain kebanjiran, lantaran gubernurnya meyakini aliran air mengikuti Sunatullah, yaitu masuk ke bumi, bukan ke laut!  

Ketularan Populisme Agama.

***