Boleh Gak, Ya? Dosa Gak, Ya?

Sebagaimana kata survai ini itu: masyarakat terlalu puas terhadap dirinya. Situasi yang bisa menjadi terbalik, menjadikan publik rabun untuk melihat betapa banyak fakta hiberbolik yang terjadi di baliknya.

Minggu, 3 April 2022 | 06:28 WIB
0
56
Boleh Gak, Ya? Dosa Gak, Ya?
Ilustrasi patung Jesus (Foto: dok. pribadi)

Ini cuma sekedar bertanya. Bukan bermaksud mensurvai apalagi cari dukungan. Apalagi disclaimer atau apalah namanya testang-testing ini itu...

Setahun lalu, selama bulan puasa Ramadhan 2021. Saya menuliskan serial "Sejatining Jati". Kelakon sih. Gak tepat 30 serial sebagaimana rencana, cuma 18 kalau gak salah ingat. Tapi setiap seri kadang-kadang bisa dua tiga kali. Jadi ya nyaris tiap hari rutin tanpa absen.

Yah, sebuah riset kecil-kecilan mengisi waktu setelah Imsak atau menjelang Buka Puasa. Tak nyana, kemudian jadi draft sebuah buku. Belum lagi terbit, justru karena kemudian berkembang jadi 99 tema yang berbeda.

Justru menjadi ribet, karena ide terus mengalir seperti air. Mengguyur deras seperti air terjun Grojogan Sewu. Persoalannya, menjadi terlalu tebal untuk jadi satu buku. Tapi sayang juga kalau dipisah-pisah karena justru angka 99-nya itu menjadi terlalu bermakna.

Lepas dari itu. Tahun ini saya berencana mengisi Bulan Ramadhan ini dengan tema yang lain. Sesuatu yang lain, yang barangkali adalah sebuah tema yang menjadi penaut masa transisi dari pandemi, endemi, lalu normal kembali. Suatu masa yang membuat sesak dada karena di luar fakta nyatanya, tapi tipu-tipu yang extra-ordinary. Suatu yang tak terelakkan karena Indonesia bagaimana pun adalah bagian dari pergaulan masyarakat internasional.

Suatu masa yang tanpa kita sadari luar biasa aneh! Karena pada masa awal pandemi diawali oleh pencopotan Dr. Terawan dari pos Menteri Kesehatan, hanya karena ia bersikap terus terang bahwa ia dianggap menyepelakan. Bahwa tidak sedemikian berbahayanya Covid 19. Dan ketika pandemi mulai berlalu, tanpa ba bi bu sebuah Muktamar yang mengatasnamakan organisasi profesi itu mencopot keanggotaannya sebagai dokter!

Dan lagi-lagi ia diam. Ia layaknya Kanjeng Gusti Yesus yang tetap tersenyum, bungkam dan tak membalas. Ketika ia difitnah, dilecehkan, dan dianiaya kanan kiri tanpa ampun. Ia justru sedemikian trimah, nrimo, dan sedemikian mudah memaafkan. Ketika ia diminta komentar, apa yang terucap dari mulutnya? Saat dicopot dari Menkes ia berujar singkat: "Pak Jokowi sayang saya". Lalu saat dipecat dari IDI, "Mari kita hormati dokter-dokter yang lain yang terus bekerja menangani Covid".

Sebuah alegori dan sanepan yang sangat halus, tapi bagi yang tahu konteks masalahnya sungguh ironis dan menghujam tajam!

Ini hanya secuplik peristiwa, sak upil. Saya punya sedemikian banyak data, fakta, dan catatan. Yang gayut dengan isu besar di hari-hari ini, yang ujung-ujungnya adalah menampik keinginan betapa tidak pantasnya Jokowi ditigaperiodekan. Lepas dari banyak argumentasi bahwa itu jebakan Batman, tak sesuai konstitusi atau bla bla bla ini itu. Sesunggunya tak banyak yang sadar memang Jokowi tak pantas menerimanya.

Tak banyak yang tahu betapa bom waktu memang menanti kita pasca Jokowi selesai masa jabatannya di 2024. Sangat banyak persoalan, yang seolah-olah memang hanya Jokowi yang bisa mengatasinya. Namun bila dilaksanakan juga, maka juga dampaknya daya ledaknya juga sedemikian besar. Buah simalakama yang sedikit banyak sungguh mengerikan dan harus kita waspadai.

Dari titik inilah sebenarnya terompet siaga harus dibunyikan, isyarat asap dupa mulai dinyalakan. Demi kebaikan masa depan...

Tapi apa iya, di bulan baik begini kita akan dituduh berkongsi jahat (malah) menembak jatuh Jokowi. Padahal faktanya ia tak akan mudah dijatuhkan. Bukan, bukan itu tujuannya. Saya hanya ingin nggrundeli Jokowi, bukan mengkaji apalagi "mengaji". Ia menjadi tampak terlalu besar untuk itu.

Sebagaimana kata survai ini itu: masyarakat terlalu puas terhadap dirinya. Situasi yang bisa menjadi terbalik, menjadikan publik rabun untuk melihat betapa banyak fakta hiberbolik yang terjadi di baliknya.

Jadi bolehkan saya membicarakannya, sambil menunggu datangnya kolek di waktu buka. Dengan mengajukan tema sederhana berjudul:

"30 HARI NGRASANI JOKOWI"

Boleh gak? Dosa gak? Pripun, piye, kumaha....

NB: Ah, ah gak ah.. gak begitu juga sih. Jangan salah sangka. Nanti malah (njuk) dikatakan pasukan sakit hati, karena tak kebagian posisi. Gak pernah kebagian kue apa pun. Padahal karena memang tak pernah pengen ini itu. Karena sejak awal memang mendukung Jokowi tanpa pretensi, melihatnya pun tanpa atensi apapun.
Jadi ketika ia jadi "menara miring" kami pun bisa melihat dan menera juga: kenapa jadi sedemikian miring...

***