Pencitraan

Presiden Jokowi juga master pencitraan ulung, sampai ke tingkat bisa mengelabui banyak orang tanpa yang bersangkutan merasa dikelabui.

Sabtu, 9 April 2022 | 07:59 WIB
1
51
Pencitraan
Ilustrasi pencitraan (Foto: sonora.id)

Dari sekian banyak presiden RI yang dapat stigma "pencitraan" cuma SBY. Istilah "pencitraan" ini secara semantik sebetulnya kurang tepat, tetapi karena kita memang tidak punya istilah lain yang lebih pas, ya diterima saja.

Dalam bahasa Inggris dia disebut "self-aggrandizing" atau "conceited". Dalam kamus "self-aggrandizing" diberi definisi "the acting or practice of enhancing or exaggerating one's own importance, power or reputation".

Betulkah cuma presiden SBY doang yang punya sindrom "pencitraan"?

Menurut saya, semua presiden RI punya sindrom ini. Yang paling parah tentulah presiden Soekarno. Sampai-sampai di pers asing dia dijuluki "megalomania".

Presiden Soeharto juga mengidap "pencitraan" ini. Tapi sesuai dengan gaya wong Solo, pencitraannya dilakukan dengan "lemah lembut".

Sesungguhnya, tendensi "pencitraan" ini dimiliki oleh semua manusia, karena dia ingin dianggap baik, berhati mulia, berjiwa sosial, berwajah tampan/cantik etc etc. Lihat saja di medsos seperti Facebook, Instagram dll kita bisa menyaksikan pameran "pencitraan" itu. 

Lalu bagaimana dengan presiden Jokowi dan dokter Terawan, apakah kedua beliau ini juga melakukan pencitraan?

Kalo saya bilang, keduanya adalah master pencitraan yang sangat piawai. Sedemikian piawainya, sehingga banyak orang menjadi pengagum buta.

Lihatlah pada kasus dokter Terawan. Sedemikian banyak orang, mulai dari petinggi partai, jenderal, sampai orang awam membela habis-habisan dirinya waktu dikenai sanksi pemecatan oleh IDI.

Ini hasil penggalangan (manipulasi) pencitraan yang dilakukan oleh dr Terawan. Mungkin banyak yang tidak tahu, bagaimana seorang dokter kolega dr Terawan yang sudah resmi keluar skep sebagai Kepala RSPAD dibatalkan waktu dokter tersebut baru sehari menjabat dan jabatan kepala RSPAD tersebut dialihkan kepada dr Terawan.

Mungkin banyak juga yang tidak tahu bagaimana dr Terawan bisa mendapat pangkat jenderal bintang tiga. Dan juga akhirnya menjadi Menteri Kesehatan. Semuanya itu karena kelihaian pencitraan yang dilakukannya. 

Bagaimana dengan presiden Jokowi? Saya harus mengatakan bahwa dia juga master pencitraan ulung. Sampai ke tingkat bisa mengelabui banyak orang tanpa yang bersangkutan merasa dikelabui.

Jadi kalo di cerita silat beliau suhu-nya.

Apakah ini merugikan? Ya jelas, karena dia membuat kita menjadi tidak obyektif dan tidak adil kepada orang lain. Dan juga membuat kita jadi terbelah. Anda sudah merasakannya dalam kasus Jokowi dan dr Terawan, bukan?

***