Isu Ahok di BUMN dan Ketakutan Orang-Orang "Jadul"

Lihat bagaimana DKI berubah di tangan Ahok, atau KAI di bawah Jonan. Jokowi perlu orang berkarakter "perusak" dan bermental baja untuk merombak dan mengalahkan mafia BUMN.

Selasa, 26 November 2019 | 05:26 WIB
0
364
Isu Ahok di BUMN dan Ketakutan Orang-Orang "Jadul"
Basuki Tjahaja Purnama menjadi Komut Pertamina (Foto: Kompasiana.com)

Sebelumnya, belum sah Ahok menjabat sebagai petinggi BUMN, belum jelas juga di BUMN mana dia bakal berlabuh, bahkan belum tahu apakah dia lulus seleksi, tapi kegaduhan sudah timbul.

Tak kurang penolakan dari Serikat Pekerja Pertamina FSPPB yang dikomando Arie Gumilar dengan segudang alasan klasik nan retorik. Ditambah lagi dari Rizal Ramli dengan alasan semisal kurang pengalaman ikut meramaikan lini masa.

Di sini saya tak akan melabeli mereka pro koruptor, radikal atau apapun itu. Hanya saja ada satu fenomena menarik yang bisa dipetik. Bahwa era disrupsi tampaknya makin menjalar. Era di mana terjadi pergeseran dan perubahan yang begitu cepat di segala bidang, baik ekonomi atau teknologi, sehingga berujung kehancuran bagi mereka yang tak siap.

Dan tampaknya era ini tengah merasuk ke dalam dunia politik Indonesia. Ya, sejak awal kabinet diumumkan, sudah begitu banyak disrupsi terjadi. Perubahan revolusioner terjadi di banyak pos.

Tidak ada lagi agamawan di pos Menag, ia kini dikomando oleh militer. Sebaliknya, bukan lagi perwira yang berdiri sebagai Menkopolhukam, tapi seorang sipil yang menggawangi. Tak ada akademisi di pos Mendikbud, melainkan wirausaha yang duduk di kursi kemudi. Semua pola lama ditabrak, ditinggal, "dihancurkan". Era disrupsi.

Sepertinya, ini jg yang bakal terjadi di BUMN. Terlepas dari siapapun nanti yang memimpin Pertamina, sudah waktunya pola-pola lama diubah. Revolusi. Jika dalam IGnya, ketua serikat pekerja berujar bahwa mereka menolak Ahok karena dianggap kontroversial dan Rizal Ramli menyebut minim pengalaman, maka izinkan saya bertanya,

Apa yg sudah dicapai petinggi "kalem" dan "berpengalaman" selama ini?

Sudah mampu menumpas mafia migas?
Sudah mampu melakukan efisiensi menyeluruh?
Sudah mampu "menerbangkan" Pertamina?
Sudah mampu menekan impor migas?
Sudah mampu menemukan banyak cadangan baru?

Terlepas dari kemajuan yang sudah diperoleh, maaf, saya pikir masih sangat jauh dari kata "berhasil". Suka atau tidak, itulah faktanya. Benar kan Arie Gumilar & Pak Rzal Ramli?

Seolah menjawab kritik atas semua kontroversi kabinet termasuk hiruk pikuk soal Ahok, Jokowi dalam akun medsosnya berpesan sebuah hal,

"Kalau pakai cara yang lama selalu gagal, pakai cara yang baru. Harus berani berubah."

Sederhana. Tapi tak ada logika yang mampu membantah. Karena kalau kita kerja dengan pola yang itu-itu lagi, cara yang lama lagi, tipe orang "lama" lagi, nanti hasilnya akan begini-begini lagi. Jangan pernah berharap hasil baru dari cara-cara lama. Semudah itu. Pertamina, PLN dan BUMN lain sejak dulu selalu diisi tokoh yang "gitu-gitu" aja. Soal sosok "tenang", pengalaman, apa yang kurang? Lihat Bu Karen, Pak Dwi Soetjipto, Pak Elia Manik. Tapi apa? Semua "mentok".

Memang ada perbaikan, tapi belum sampai tahap yang revolusioner dan signifikan. Tentu butuh waktu. Tapi sudah sejak era reformasi sampai saat ini, mau berapa lama lagi? Masih mau pakai (lagi) cara lama dan konvensional?

Ahok mungkin minim pengalaman korporasi, tapi satu hal jelas sudah ia buktikan. Bahwa ia mampu merevolusi Jakarta mulai dari tahapan dasar. Mulai dari pelayanan publik dengan terobosan semisal pasukan pelangi, aduan balaikota, LRT/MRT. Soal transparansi dengan web eAPBD. Sampai ke soal efektivitas dengan inovasi teknologi semisal Qlue & SmartCity.

Ya, ini yang dimiliki Ahok. Bukti dan rekam jejak bahwa ia mampu mengubah secara total. Kinerja institusi pemerintah daerah yang dikenal lambat, berbelit dan konvensional menjadi lebih melayani, efisien dan modern. Bukti keras yang bahkan tak akan sanggup dibantah sekalipun oleh pembencinya. Siapa yang bisa menyanggah adanya KJP, KJS, PTSP, eAPBD, pasukan pelangi, QLUE atau aduan balaikota yang sangat dirasakan manfaatnya? Tidak ada!

Jadi, terlepas apakah Ahok nanti akan lulus atau tidak, ditempatkan di Pertamina, PLN atau manapun, memang sudah waktunya petinggi BUMN diisi oleh orang berkarakter seperti Ahok. Seorang revolusioner yang mampu menggebrak dan tak segan "merusak" pola-pola lama yg menghambat.

Biarlah orang-orang "kuno" dan berpikiran sempit macam Arie Gumilar atau Rizal Ramli berteriak atau menjerit. Karena toh selama ini faktanya BUMN kita masih seperti jalan di tempat. Di era yang begerak cepat ini, yang tak siap menghadapi perubahan, maka bersiaplah hancur ditelan perubahan.

Lihat bagaimana DKI berubah di tangan Ahok, atau KAI di bawah Jonan. Jokowi perlu orang berkarakter "perusak" dan bermental baja untuk merombak dan mengalahkan mafia BUMN. Tak ada jalan lain.

Jika hasil dari cara lama masih minimalis, maka tinggalkan. Jangan pakai lagi. Ganti. Tinggalkan pola konvensional nan jadul. Cari inovasi baru. Berubahlah. Pakai pendekatan baru dengan orang "baru". Orang yang terbukti telah mampu melakukan revolusi dan mereformasi sebuah institusi.

Pedekate, caranya gitu lagi, gitu lagi. Old school. Modal chat, "hai", "kenalan dong", "udah makan?" Tapi ngarep status berubah? Huh, mimpi! 

***