"Paradoks Indonesia" atau Prabowo dalam Paradoks?

Kamis, 14 Maret 2019 | 11:49 WIB
0
95
"Paradoks Indonesia" atau Prabowo dalam Paradoks?
Buku

Capres nomor 02 Prabowo Subianto menulis buku dengan judul "Paradoks Indonesia". Sebenarnya saya sangsi, itu buku murni karya Prabowo Subianto. Bukan karena apa-apa atau meragukan kemampuan yang bersangkutan.

Tetapi, biasanya seorang penulis buku punya rekam jejak pernah menulis sebelumnya. Minimal tulisan-tulisan dalam bentuk opini atau esai. Bisa jadi Probowo hanya nyumbang pokok-pokok pikirannya dan dikembangkan atau ditulis orang lain. Wallahu'alam.

Dalam buku "Paradoks Indonesia", Prabowo menggambarkan atau mengulas "negara kaya raya tetapi rakyatnya masih miskin". Buku "Paradoks Indonesia" isinya tidak jauh dari yang sering Prabowo ucapkan diatas mimbar atau dari panggung-panggung kampanye.

Seperti kekayaan mengalir ke luar negeri, bahkan tiap tahun mencapai 1000 trilyun, kekayaan dikuasai oleh segelintir elite,  utang negara yang terus naik,bahkan setiap harinya mencapai 1 trilyun dan menurut yang bersangkutan utang negara bisa mengancam stabilitas negara. Dan sistem politik atau demokrasi hanya dikuasai oleh pemilik modal besar.

Begitulah poin-poin dalam buku "Paradoks Indonesia" karya Prabowo Subianto.

Apakah benar Indonesia dalam satu paradoks seperti digambarkan dalam buku yang ditulis Prabowo Subianto atau justru sebaliknya dalam pernyataan-pernyataan Prabowo mengandung "Paradoks"?

Seperti, waktu ketemu dengan petani dan mengeluh soal harga yang rendah, Prabowo berjanji akan menaikkan harga kelak kalau terpilih menjadi presiden. Lain waktu, ketika bertemu dengan konsumen atau masyarakat di pasar yang mengeluhkan melonjaknya harga-harga, Prabowo berjanji akan menurunkan harga-harga yang naik.

Inilah paradoks!

Waktu ketemu dengan peternak daging ayam dan telor yang mengeluh turunnya harga daging ayam dan telor, Prabowo berjanji nanti kalau sudah jadi presiden akan menaikkan harga daging ayam dan telor. Di lain kesempatan ketemu dengan masyarakat yang mengeluhkan naiknya harga daging ayam dan telor, Prabowo berjanji nanti akan diturunkan.

Inilah paradoks!

Waktu bertemu dengan masyarakat yang mengeluh tarif listrik naik, Prabowo berjanji nanti tarif listrik akan diturunkan kalau terpilih menjadi presiden. Lain waktu, ketika tahu Perusahaan Listrik Negara merugi, Prabowo berjanji nanti akan dibuat untung dan tidak perlu khawatir.

Inilah paradoks!

Kalau terpilih menjadi presiden Prabowo berjanji akan menaikkan gaji para PNS, TNI dan Polri. Tetapi disatu sisi Prabowo juga akan menurunkan pajak penghasilan atau menurunkan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Atau ingin menggenjot pendapatan negara lewat pajak tetapi dengan menurunkan pajak penghasilan atau PTKP.

Inilah paradok!

Prabowo mengatakan bahwa kekayaan alam negara dikuasai oleh segilinter elite yang kurang dari 1%. Tetapi ternyata ia juga merupakan bagian dari segelintir elite itu yang menguasai kekayaan sumber alam.

Inilah paradoks!

Prabowo mengatakan kekayaan negara mengalir keluar negeri. Dalam prakteknya selain kekayaan mengalir keluar negeri, ada juga kekayaan dari luar negeri yang mengalir atau masuk ke dalam negeri atau negara kita. Itulah ekspor-impor atau aliran dana asing masuk dan keluar di pasar modal.

Inilah paradoks!

Prabowo mengatakan,bahwa utang semakin meningkat atau mengkhawatirkan dan setiap hari utangnya bertambah 1 trilyun dan bisa mengancam stabilitas negara. Tetapi perusahaannya sendiri pailit dan belum membayar pesangon karyawannya.Bahkan ada yang menggugat karena gagal bayar utang.

Inilah paradoks!

Waktu ketemu dengan dokter rumah sakit karena mengeluh soal pembayaran BPJS yang belum dibayar dan merugikan, bahkan ada selang cuci darah yang dipakai untuk 40 orang, Prabowo berjanji akan membuat BPJS yang defisit menjadi untung atau suplus dan tidak akan merugikan pihak rumah sakit.

Inilah paradoks!

Menurut Prabowo negeri ini sudah menyimpang dari UUD pasal 33, dan ia berjanji akan menerapkan sesuai UUD pasal 33 tersebut, tetapi ia sendiri mempunyai lahan konsesi yang luasnya melebihi provinsi DKI Jakarata.

Inilah paradoks!

Prabowo menyebutkan demokrasi atau sistem politik dikusasi pemilik modal besar. Bahkan menganalogikan pertarungan antara Kurawa dan Pandawa. Kurawa yang dimaksud yaitu pemilik modal besar, kaum borjuis dari bangsa sendiri atau asing. Sedangkan Pandawa yang dimaksud yaitu orang-orang baik yang berjuang demi kesejateraan rakyat atau masyarakat.

Padahal, Prabowo sendiri termasuk pemodal besar atau dari kalangan borjuis, yang dengan adiknya mendirikan partai politik untuk tujuan merebut kekuasaan. Bahkan awal mula mendirikan partai karena ia kalah dalam pemilihan Ketum Golkar waktu itu.

Inilah paradoks!

Prabowo dan partainya Gerindra anti dengan aliran atau ajaran komunis, tetapi mars partainya malah meniru mars partai di Chili yang berhaluan komunis atau kiri.

Inilah paradoks!

Probowo berjanji setelah terpilih atau dilantik menjadi presiden akan mengungkap dalang kasus penghilangan para aktivis 1998, sedangkankan ia sendiri patut diduga terlibat dalam kasus tersebut.

Inilah paradoks!

Inilah retorika-retorika politikus yang ingin berkuasa, terkadang seperti nasionalis tulen tapi sejatinya seperti serigala berbulu domba.

Retorika seperti seribu kambing kalau dipimpin seekor harimau-akan mengaum semuanya, tetapi kalau seribu harimau dipimpin oleh seekor kambing maka akan mengembek semuanya.

Faktanya, kambing-kambing itu akan dimakan harimau satu persatu sampai habis atau tak terisa.

***