Mari Ngomong Ngawur!

Senin, 15 Oktober 2018 | 08:15 WIB
0
245
Mari Ngomong Ngawur!

Fahri Hamzah bilang presiden ngomong fiksi, soal Avengers, Thanos dan sebagainya. Tapi, kata Fahri, sejarah dilupakan. Padahal apakah Jokowi melupakan sejarah? Tentu saja Fahri asbun.

Namanya juga upaya mendelegitimasi. Cara yang dipakai ialah simplifikasi. Kemudian dibenturkanlah ruang paradoksalitas itu. Targetnya memang hanya untuk mendiskreditkan, bukan mencari kebenaran tudingan.

Cara berfikir parsial gitu, khas politikus, wa bil khusus politikus busuk. Apalagi ketika Fahri ngomong daripada ngomong fiksi, mendingan ngutip kitab suci. Tapi jangan tanyakan gimana komentarnya, ketika Prabowo ngutip novel fiksi di mana Indonesia bakal hancur di 2030. Makanya dia ngomong kita boleh menyerang lembaga kepresidenan, tetapi tidak untuk lembaga DPR.

Omongan ngawur itu, sama persis dengan yang dikatakan Sandiaga, dengan membandingkan Game of Thrones dengan film tentang Nabi Yusuf. Ketahuan 'kan, framing yang mau dibangun?

Tak jauh beda dengan omongan Sudirman Said dan Ferry Mursidan, yang menilai UGM bukan lagi representasi lembaga pendidikan yang demokratis. Anda tahu arahnya? Gara-gara Jokowi lulusan UGM? Tapi, bagaimana dengan alur penyelenggaraan seminar yang ditolak itu? Yang maunya ngomong kepemimpinan milenial, tapi semua narsumnya berasal dari satu kubu yang sedang berkontestasi politik?

Kenapa penyelenggara bukan mahasiswa Fisipol? Kenapa mahasiswa FT UGM? Ada apa di fakultas ini? Organisasi mahasiswa apa yang dominan di sini? Anda tahu, setelah gagal "berseminar" di UGM, mereka kemudian memindah acara di sebuah cafe. Bukan seminar, melainkan (bersama Sudirman Said dan Ferry Mursidan), mereka melakukan Deklarasi Politik mendukung Prabowo-Sandi.

Ngomong ngawur itu bukannya tanpa akar. Kita lihat bagaimana komentar Fadli Zon mengenai penyelenggaraan IMF di Bali? Tampak sekali ia menjadi faktor negatif yang mendegradasi daya saing Prabowo.

Para alumni UGM yang tersebar ke seluruh Indonesia, dan apalagi yang menduduki jabatan publik, dicurigai sebagai basis massa Jokowi. Tapi kalau benar manuver Sudirman Said untuk mendelegitimasi UGM, bagaimana dengan Amien Rais, yang juga alumnus UGM dan pernah mengajar di kampus biru itu? Jangan-jangan Amien orang yang diam-diam disusupkan ke kubu Prabowo?

Omongan ngawur, tak mementingkan baik dan benar. Menurut Prabowo, pertarungan politik adalah soal kalah-menang. Bukankah Presiden PKS juga sudah bersabda, bahwa kampanye negatif dibolehkan, karena beda dengan black-campaign?

Ya, kita lihat saja. Apakah bangsa Indonesia akan sama konyolnya dengan bangsa Amerika Serikat, yang memenangkan Trump? Jadi, mari ngomong ngawur.

Tak ada urusan moralitas politik. Ajak anak-anak sekolah bawah umur, yang sebenarnya tak boleh diikutkan berkampanye oleh aturan Pemilu. Ajari mereka takbir bertalu-talu, diiring teriakan ganti presiden.

Ini memang menyebalkan. Tapi harus kita lalui. Agar semakin cepat kita segera tinggalkan praktik politik busuk rasa orde bauk Soeharto ini.

***