Jakarta – Program Sekolah Rakyat yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto telah mencuri perhatian publik sebagai langkah besar untuk mempercepat pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.
Diluncurkan dengan tujuan memperluas akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, program ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk menanggulangi ketertinggalan di sektor SDM, terutama di daerah-daerah yang selama ini terabaikan.
Presiden Prabowo Subianto menyebutkan bahwa pendirian Sekolah Rakyat adalah sebuah keberanian negara dalam mengambil langkah besar demi masa depan generasi muda.
"Sekolah berasrama ini untuk anak-anak yang mungkin selama ini tidak punya harapan, mereka yang berasal dari keluarga yang kondisinya tertinggal," ujar Presiden.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan dukungannya terhadap program ini, khususnya dalam aspek akademik.
Menurutnya, Kemendikdasmen mendukung penuh implementasi Sekolah Rakyat dengan penyediaan kurikulum yang sesuai, pelatihan untuk guru, serta penguatan tata kelola pembelajaran agar Sekolah Rakyat dapat berjalan optimal.
"Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi diri," ungkap Abdul Mu’ti.
Sekolah Rakyat dirancang untuk menjangkau anak-anak yang sebelumnya tidak mendapatkan akses pendidikan formal karena keterbatasan sosial dan ekonomi.
Dengan pendekatan kurikulum multi-entry dan multi-exit, Sekolah Rakyat diharapkan mampu mengakomodasi beragam latar belakang dan kebutuhan belajar peserta didik.
Selain itu, pelatihan khusus bagi guru juga memastikan bahwa proses pembelajaran tidak hanya adaptif tetapi juga berfokus pada penguatan karakter dan kompetensi dasar.Program ini bukan hanya sekadar soal pendidikan, tetapi juga penguatan keadilan sosial.
Sebagai bagian dari sinergi antar kementerian, Kemendikdasmen bekerja sama dengan Kementerian Sosial untuk memperkuat kapasitas sekolah dan guru-guru yang terlibat dalam program ini.
Ke depan, diharapkan Sekolah Rakyat akan terus berkembang dengan memperhatikan prioritas wilayah, terutama di daerah-daerah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi.
Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, mengapresiasi inisiatif ini dan mendorong agar pendirian Sekolah Rakyat didahulukan di wilayah dengan tingkat kemiskinan ekstrem.
Menurut Hidayat, dengan memberikan pendidikan yang layak kepada anak-anak dari keluarga miskin, program ini dapat memutus mata rantai kemiskinan antar-generasi.
“Sekolah Rakyat merupakan bagian dari upaya besar untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga siap berkompetisi di kancah global,” ungkapnya.
Melalui pendidikan yang merata dan berkualitas, pemerintah berkomitmen untuk mengejar ketertinggalan SDM Indonesia dan mempersiapkan masa depan bangsa yang lebih baik.
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews