Coklat Swiss 7.000 Triliun

Coklat Swiss memang lumer dan penuh aroma, tapi yang kenyal juga enak rasanya, kita punya coklat Yogya yang juga menggoda, sayang belum ada coklat Minahasa.

Rabu, 30 Oktober 2019 | 23:56 WIB
0
78
Coklat Swiss 7.000 Triliun
Ilustrasi Swiss (Foto: mediaindonesia.com)

Gonjang ganjing harta koruptor Rp7.000 T di belahan dunia mana tidak terlalu pasti, TA jilid 2 juga masih katanya, tapi MLA ( mutual legal assistance) sudah ditandatangani, di mana uang haram para koruptor bermukim sudah terdeteksi. Ibarat tabungan inilah yang akan dibawa kembali ke dalam negeri. Kebayang, bisa untuk bayar hutang dan membuat Indonesia gemilang.

Tapi yang namanya mengambil barang sitaan tak sama dengan OTT, energi Rp7.000T itu terlalu besar untuk begitu saja diminta kembali, Rp7.000T itu bisa mencacah Indonesia jadi berapa, dengan memakai tangan siapa saja. Sehingga yang merasa punya akan melawan dengan segala cara. Seperti cara mendapatkannya mereka tak peduli Indonesia tinggal nama yang penting mereka bisa membeli dunia.

Benang merah semua kerusuhan sudah terbaca, dari mulai Jakarta sampai Papua, dan bahkan dengan jelas gerakannya, ada yang pura-pura pergi, pulang nyuci jalan, bahkan bezuk pejabat tertusuk, seolah matanya ngantuk. Polisi berkeringat menghadapi karena musuhnya kawan sendiri. Mundur kena, maju kena. Kebayang perjuangan mau membawa uang pulang dengan resiko Indonesia dibuat bak Tanah Abang.

Akankah mental gali bisa jadi kiayi, adakah akhlak perampok bisa kapok, mungkinkah pengkhianat bisa tobat. Semua bisa mungkin, tapi butuh mukjizat, karena pertaubatan ibarat ngelepeh permen coklat, rasa lumer dimulut meninggalkan kerinduan antara mau terus diemut atau dicabut.

Harga diri dikebiri, tak jadi presiden menteripun jadi, bonusnya uang tak jadi diminta kembali, atau kembali dengan dilabeli tax amnesty, kita tunggu saja apa jadinya nanti.

Ngurus negara besar ini butuh kesabaran, walau ada kekesalan kadang harus diredakan, mengambil ketegasan bukan berarti membiarkan kerusakan, sehingga butuh kehati-hatian. Rp7.000T itu besar, itulah hasil dari sebuah rezim yang dibiarkan barbar, virusnya menyebar menjadi budaya merampok negara tanpa rasa berdosa.

Susunan kabinet ditata, suka tidak suka, harus suka. Rasa kecewa dan takut pasti ada, komentar netizen beragam rasa, ada yang bilang anak macan jangan dipiara. Saya berfikir positif saja, macan atau kucing sama bahayanya, karena kita bukan sedang mencari merak yang indah bulunya, sehingga resiko terluka pasti ada, tapi semua tergantung siapa pawangnya.

Coklat Swiss memang lumer dan penuh aroma, tapi yang kenyal juga enak rasanya, kita punya coklat Yogya yang juga menggoda, sayang belum ada coklat Minahasa.

Ah, entahlah dik, tak pernah kebayang rasa coklat, karena waktu terlalu singkat. Hari ini interview disingkat, besok diangkat, lusa sudah harus bekerja, ada atau tidak Swiss mengirim coklat, pertahanan Indonesia harus kuat, kalau tdk kuat, ta' copot.

***