Sodomer, Tepatkah Julukan Ini Untuk Akal Sehat Rocky Gerung?

Selasa, 5 Maret 2019 | 13:17 WIB
1
3681
Sodomer, Tepatkah Julukan Ini Untuk Akal Sehat Rocky Gerung?
Faizal Assegaf dan Rocky Gerung (Foto: Fimadani)

Media sosial tak asing lagi dengan kata pernyataan “Dungu”, Kitab Fiksi”, “IQ se-kolam” dari Rocky Gerung (RG), mantan dosen tamu di FIB UI. Narasi ini kini dijadikan senjata utama laskar “Kampret” julukan untuk pendukung oposisi untuk menyudutkan laskar “Cebong” julukan untuk pendukung petahana, Joko Widodo. Diksi pernyataan Rocky dari sudut etika umum dikategorikan sarkastis (kasar) bagi telinga netizen kebanyakan.

Lalu mengapa pernyataan Rocky bisa begitu populer di kalangan “Kampret” ?

Sejak Joko Widodo memegang tampuk RI 1 semburan fitnah dan hoax disemburkan ke kubu Jokowi, paling populer adalah "Joko Widodo antek PKI, Jokowi keturunan Cina, Jokowi bukan anak kandung ibunya". Rupanya fitnah – fitnah tak mempan, Jokowi membuktikan diri sebagai seorang pemimpin dengan capaian prestasi luar biasa di bidang pembangunan dan kesejahteraan dalam tempo singkat.

Rupanya prestasi Jokowi tak disukai oleh kaum oposisi, sehingga dimunculkan narasi "Jokowi Kriminalisasi Ulama", "Jokowi Musuh Islam". Padahal faktanya jauh dari tuduhan dan fitnah itu, justru sebaliknya umat Islam Indonesia mendapatkan tempat kehormatan di pemerintahan Jokowi.

Bidang Ekonomi Syariah, Presiden Jokowi menggulirkan Bank Wakaf Mikro untuk membantu pengusaha kecil agar tak terjebak rentenir dengan melibatkan pesantren sebagai motor program ini. Program KIP, KIS, PKH penerima manfaatnya adalah umat Islam dari kalangan bawah  di desa – desa dan pinggiran. Juga Program Dana Desa, lagi – lagi umat Islam di pedesaan merasakan sekali manfaat program ini, infrastruktur desa yang selama tidak terjangkau oleh program Kementerian PUPR bisa direalisasi lewat program ini.

Lalu apalagi kurangnya, memang tidak ada program pemerintah yang sempurna, di lapangan selalu ada ekses – ekses negatif. Satu hal yang menimbulkan kecemburuan oposisi dan partai non-oposisi dan non-pemerintah yaitu Partai Demokrat adalah Joko Widodo mampu meng-eksekusi program – program infrastruktur dan kesejahteraan sosial secara terukur dari waktu dan hasil.

Inilah salah sumber persoalan, di era SBY berkuasa 2 periode banyak program infrastruktur terkendala di lapangan dan tak kunjung selesai hingga akhir masa jabatan, hingga muncul julukan pemerintahan SBY sebagai “rezim mangkrak dan korup”. Julukan ini tak mengada –ada, era SBY sejumlah menteri, Ketua, Bendahara Partai Demokrat adalah pasien Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ditambah kasus proyek Hambalang yang menelan duit negara trilyunan rupiah tanpa hasil, proyek ini tak dilanjutkan pembangunan karena kasusnya masih dibawah pengawasan KPK.

Rakyat pun makin cerdas dan bisa menilai pemerintahan mana yang bersungguh bekerja untuk rakyat atau yang bekerja untuk partai pengusungnya. Fenomena ini memunculkan pembela – pembela rezim terdahulu dan diberikan panggung di media massa terutama di TV ONe lewat program Indonesia Lawyer Club (ILC)  yang dipandu Karni Ilyas. Dari sini sosok Rocky Gerung diberikan ruang publik untuk menyemburkan pikiran - pikiran pendeknya yang dibungkus terminologi-terminologi filsafat. Sebenarnya bukan hal luar biasa, Rocky adalah mantan dosen tamu mata kuliah filsafat di FIB UI, sempat dikabarkan dirinya seorang Profesor tapi dibantah oleh Civitas Academika UI.

Publik mengetahui Rocky adalah aktifis Partai Demokrat dan salah satu mentor politik dari putra mahkota Cikeas, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), bahkan dalam pencalonan AHY di Pilkada Jakarta 2017 lalu, RG intensif mendampingi AHY. Setelah PD bergabung dengan PAN, Gerindra dan PKS di kapal Koalisi, cuitan RG mendapatkan tempat istimewa dan dijadikan jargon resmi laskar "Kampret".

Logika Rocky Gerung dan Persoalannya

Postingan Rocky di Twitter terlihat istimewa di mata laskar "Kampret", benarkah demikian ? Bisa jadi, Rocky mem-posting kalimatnya dengan terminologi Filsafat, dimana istilah filsafat tidak mudah dicerna oleh publik. Karena tidak dimengerti dan terlihat unik dan keren, para pro - Koalisi menganggapnya seperti sebuah "Kalimat Tuhan". Tak heran pemujaan terhadap sosok RG marak dan massif di media sosial, bahkan ada yang menyamakan RG seperti seorang nabi.

Dosen Filsafat, Reza Wattimena menyatakan postingan RG memang berbau filsafat namun dangkal dalam soal wacana, lain lagi Faizal Assegaf, Ketua Proggres '98 menganggap postingan Rocky hanya sebuah pikiran pendek. Anehnya, menurut Faizal setiap kata dari RG hanya ditujukan pada satu nama, yaitu Joko Widodo, dibalik narasi RG ini, Faizal menengarai sebuah upaya untuk menyelimuti suatu kejahatan dari sang pemberi ruang RG.

Seperti kita tahu, RG banyak diberikan panggung oleh TV One di Program TV ILC yang dimiliki oleh Keluarga Abu Rizal Bakrie. Ada apa dibalik konspirasi Abu Rizal, RG dan partai tempat RG bernaung, yaitu Partai Demokrat dan kelompok lainnya? Kilas balilk di atas sesungguhnya dapat menjadi pintu untuk melongok ke belakang, siapa – siapa perlu diselimuti kejahatannya di masa lalu.

Kita tahu “Ical” panggilan Abu Rizal Bakrie adalah menteri senior di era SBY, Ical tertimpa kasus di Lapindo, Jatim dan diwajibkan mengganti rugi kepada pemilik tanah dan usaha di tempat tersebut. Pada era SBY, Ical mendapatkan hak istimewa dari rezim SBY, ganti rugi kepada masyarakat terdampak Lapindo ditalangin sebagian oleh APBN. Meski sudah berlalu 12 tahun,  hingga kini kabarnya ganti rugi belum juga selesai.  

Faizal Assegaf mencurigai sosok RG adalah hasil "konspirasi politik" untuk mengacaukan opini publik dengan logika  pendek berbungkus filsafat dan dengan misi bernarasi “melawan tirani. RG dan laskarnya menjadikan Jokowi musuh bersama atau tiran itu sendiri. Padahal, menurut Faizal , RG bisa menikmati kebebasan berpendapat ini di era sekarang, Faizal mencurigai kelompok ideologis agama yakni HTI dan PKS juga ikut memanfaatkan narasi – narasi RG untuk menyerang Jokowi.  

Prasangka Faizal itu wajar, di era Jokowi kelompok HTI dikerdilkan secara konstitusional sehingga dianggap organisasi terlarang,  juga dengan PKS kini tak lagi bisa leluasa membangun jaringan setelah terlempar dari pusat kekuasaan. Sebelumnya partai turunan organisasi IM dari Mesir ini pengaruhnya menggurita dimana – mana di era SBY, sebab rezim SBY butuh dukungan massa riil yang bisa diperoleh dari PKS dan HTI.

Disinilah persoalannya, menurut Faizal narasi filsafat RG di media sosial adalah pemaksaan logika dengan logika dangkal dengan kemasan seolah - olah canggih. Faizal mengibaratkan logika RG  seperti hubungan seksual lelaki sesama jenis yang dikenal dengan sodomi. Saya sangat setuju sebutan  sodomer untuk RG dan pengikutnya dengan alasan mereka memaksakan logika tidak umum kepada publik, seperti kelakuan hubungan seks laki - laki dengan laki - laki yang dilakukan lewat lubang dubur. 

*Tulisan ini disarikan dari acara "Diskusi Membongkar Sodomi Akal Sehat Rocky Gerung" .

***