Yusril versus Rizieq, Politikus dan Petualang Politik

Selasa, 5 Februari 2019 | 21:35 WIB
0
210
Yusril versus Rizieq, Politikus dan Petualang Politik
Rizieq Shihab dan Yusril Ihza Mahendra (Foto: SuratKabar.id)

 

Gerak langkah dan manufer Yusril yang berbelok mendukung calon presiden, pasangan Jokowi-Amin, membuat riak cukup besar. Paling tidak pentolan FPI yang sedang ngumpet meradang cukup keras. Gerakan cabut calon dari kubu mereka di PBB dijawab suara FPI tidak signifikan, karena tidak pernah membantu lolos ke Senayan.

Opsi mundur pencalegan tidak mudah, akhirnya munculah gerakan jangan pilih kami. Selain menarik, sebenarnya ini juga menggelikan, bagaimana kampanye kog jangan pilih kami. Gerakan aneh, lucu, dan maaf naif. Tidak usah demikian pun, yakin tidak banyak pemilihnya, selain kolega dan keluarga sendiri.  Tragis, ironis, dan naif berkolaborasi jadi satu.

Yusril dan Manuvernya

Dua pasang kandidat memang menjadikan rivalitas hampir bisa ditebak dengan mudah, jika tidak Jokowi, ya pasti 02, tidak 02 ya akan ke Jokowi-Amin. Apalagi jika memang awalnya inten berdialog dan embangun komunikasi politik dengan  kubu sebelah dan kemudian ada di pihak lain.

Langsung terbaca dengan gamblang ada masalah, meskipun tidak dikatakan dengan terus terang. Ditambah banyak orang yang tidak tahu politik malah ikut berkomentar dan menjadikan polemik lama. Orang politik suka dengan polemik dan perbincangan terus menerus.

Alasan PBB tentu tidak akan jauh-jauh sebagaimana dinyatakan PKS-Demokrat, suara koalisi dan figur 02 tidak cukup membantu banyak bagi upaya PBB bisa masuk sebagai salah satu partai politik yang lolos ke Senayan.  Ini tentu cermat dan teliti perhitungannya bukan hanya soal kardus dan seterusnya. Esensi lolos ke legeslatif jauh lebih besar.

Peran FPI sebagaiman klaim dan gembar-gembor dari luar negeri toh dijawab dengan lugas oleh Yusril dalam dua jawaban cukup telak dan membuat terdiam, jika mau berpikir dengan rasional.

Yusril menantang Rizieq untuk membuat partai politik, jika memang ia bisa. Ini jelas pernyataan yang lugas, untuk membuat tetap PBB terdengar dan diperbincangkan. Akan lahir terus perang pernyataan dengan pribadi “brangasan” begitu. Dan keinginan Yusril memang terbukti dan terjadi.

Jawaban kedua, suara FPI tidak signifikan, toh tidak membawa kemenangan, minimal lolos ke Senayan dalam edisi-edisi pemilu lampau. Jelas ini meledek soal partai politik bagi Risieq. PBB saja yang kamu dukung tidak lolos, padahal masih ada banyak komponen lain, kira-kira begitu, apalagi hanya kamu sendirian.

Manufer cerdik demi keberadaan PBB yang masih ada, bukan hanya pernah ada. Pilihan yang tidak sulit dan itu rasional. Polemik jelas menguntungkan, daripada sekadar isu, kebohongan, hoax, dan kebencian. Ini masih normal dan normatif bagi dunia perpolitikan. Dukungan untuk mendapatkan juga keuntungan. Jangan campur adukan dengan dunia spiritualitas. Yang memegang komitmen tanpa pamrih. Naif saja.

Rizieq dan Capaiannya

Kiprahnya dalam keagamaan belum cukup membawa keyakinan sebagaimana NU dan Muhamadiyah atau yang lainnya. Orang akan cenderung melihat sepak terjangnya yang masih mendua. Mengadakan sweeping maksiat katanya, namun perilaku kekerasan dan menang sendiri lebih kuat dan itu tidak pernah ada dalam ormas keagamaan lain. Ini jelas  watak yang tidak akan membawa pengaruh baik jika menjadi partai politik. Yakin tidak akan bisa berkembang baik dan membesar.

Saya kog meyakini, hanya karenaa 212 dan Ahok kalah saja yang membuat mereka seolah besar. Padahal 212 dan Rizieq di dalamnya hanya alat.  Alat semata bagi permainan politik yang lebih besar. Nah apakah alat akan bisa berdiri sendiri? Jelas tidak. Ini pasti dipahami Yusril, namun tidak dengan beberapa orang yang kacau dalam hitungan politiknya.

Alat, yang selama ini “sukses” dalam beberapa aksi, namun kabur dan tidak berani bersikap ksatria hanya untuk menjadi saksi atas perilakunya sendiri. Ini sederhana, tidak rumit, namun menjadi rumit dna berkepanjangan, karena saling sandera dan melindungi kepentingan siapa di balik “alat” itu. itu saja dan sederhana. Politik yang menjadikannya pelik.

Campur aduknya politik, agama, kecenderungan prakmatisme uang dan kemewahan yang menjadikannya lemah dan banyak mencibir pada akhirnya. Perilaku orang beragama itu akan linier dengan sikapnya sehari-hari. Susah ketika mulut meneriakan nama Tuhan, namun kakinya menginjak orang lain sebagai musuh yang boleh dibunuh. Mana ada ajaran agama waras yang demikian.

Tantangan Yusril jelas menohok dengan telak, NU dan Muhamadiyah saja berjarak dengan sangat ketat soal partai politik. Afiliasi pribadi boleh, namun secara lembaga tidak. Mereka paham karena memang itu sangat tidak mudah, dan bisa-bisa menodai kesucian keagamaan melalui partai politik.

Kedua ormas itu tidak memberikan dampak besar bagi partai politik yang banyak kadernya pun berasal dari sana. Ia tahu persis, apalagi hanya FPI dengan segelintir elitnya yang mudah galau dan silau itu.

Penolakan demi penolakan aktivis mereka di banyak daerah jelas menjadi kerugian sangat besar jika berani menyatakan membuat partai. Mana ada partai bisa eksis jika banyak daerah menolak mereka. Mereka hanya kuat dalam cangap, ucapan namun kecil dalam esensi dan pengaruh. Salah satu syarat parpol adalah kepengurusan di setiap daerah. Jelas berat pagi FPI dan Rizieq.

Kecerdikan Yusril sebagai politikus ini jelas membantu banyak untuk menjadikan PBB bahan pembicaraan karena lawan yang ia hadapi banyak omong dan mudah terbakar emosinya. Saling berbalas komentar dan pernyataan itu penting bagi kampanye PBB.

Berkaitan dengan koalisi, hal yang cukup aneh, ketika orang tidak mau bertanggung jawab dalam perilaku pribadinya, malah dijadikan pendukung utama, dibantu ketika ada masalah, dan malah sowan, jauh-jauh, padahal di sana ada potensi pelanggaran hukum.

Hal yang cukup membantu pemilih untuk ke mana melabuhkan pilihan dan memberikan kepercayaan. Apa iya orang dan kelompok yang tidak jelas kemampuannya untuk dipilih. Rekam jejak dan perilaku selama ini  membantu bagaimana pilihan perlu dipertimbangkan.

Terima kasih dan salam.

***