Bukan Konflik Agama, tapi Politik

Jumat, 1 Februari 2019 | 08:56 WIB
0
99
Bukan Konflik Agama, tapi Politik
Ilustrasi konflik (Foto: Tribunnews.com)

Tak perlu teori ndakik-ndakik. Apakah kita mengalami konflik keagamaan secara nasional? Rasanya tidak.

Tak ada satu argumentasi yang dibangun konsisten untuk itu. Sampai pun kita juga akan bingung, ketika melihat bagaimana GNPF yang berbasis Rizieq Shihab (FPI) bisa bertemu mantan Muhammadiyah macam AR dan DAS. Kemudian ada HTI, PKS, Orbais, Tommy Soeharto.

Tiba-tiba Hasjim Djojohadikusumo membuka pintu untuk anak-turun PKI. Sementara KZ sebagai dieharder Prabowo selalu mengkampanyekan bahaya bangkitnya PKI di Indonesia. Atau Hasjim tergoda dengan informasi KZ, ada 30 juta anggota baru PKI?

Ini soal kelompok yang tersingkir secara politik dan ekonomi, karena terlempar dari kekuasaan, dengan kelompok yang mendaku berbekal Piagam Jakarta (tetapi juga punya kepentingan yang lain lagi, karena bisa jadi proxy war pihak asing –Arab Saudi pun bisa disebut pihak asing, bukan hanya Cina dan AS), yang sesungguhnya minoritas dari sisi jumlah. Hanya ngecer dan nebeng pada momen-momen tertentu, untuk mendapat tumpangan gratis.

Hasjim Djojokusumo berkali-kali nyebut bagaimana pengorbanannya (membiayai sang kakak nyapres). Kubu Capres 02 konon akhir Januari ini sudah mengeluarkan dana kampanye di atas Rp 80 milyar, sementara dana yang masuk Rp 93 milyar (kompasdotcom, 1/2).

Jumlah penyumbang terbesar, Sandiaga Uno Rp 60-an milyar dan Prabowo Rp 30 milyar. Dari masyarakat dan kelompok sekitar Rp 600 juta. Dan (menurut Sandiaga) belum ada setoran dari partai koalisi. Sementara kita lihat, beberapa orang HTI dan PKS menjadi tim pemenangan capres. Apakah ini perjuangan gratisan? Sementara kita juga tahu, PKS terancam mesti keluar duit Rp 30 milyar, karena konfliknya dengan Fahri Hamzah.

Sampai di sini dulu, kita merenungkan angka-angka itu, dan bagaimana peta kekuatan soliditas koalisi itu. Jika perlu, bisa dipertajam pertanyaannya; Soal elektabilitas capres, kemungkinan kemenangan dan kekalahannya, serta apa sebetulnya orientasi dan motivasi orang-orang di seputar capres? Mereka sesungguhnya pendukung fanatik, atau para oportunis?

Ini politik macam apa? Agama dimanfaatkan sebagai justifikasi untuk melakukan pembenaran pada apapun langkah mereka, dan legitimasi untuk mengesahkan apapun pilihan mereka. Agama dieksploitasi bukan untuk pencerahan, melainkan penggelapan.

Bayangkan saja FZ, FH, DAS, AR, AA, begitu agamaisnya ketika membela AD, dan umat bertakbir menyambut RG yang mengatakan kitab suci hanya fiksi, berkutbah di dalam masjid. Ini agama? Bukan. Ini politisasi agama. Makanya dulu, Cak Nur maupun Gus Dur pernah bilang ‘Islam yes, Partai Islam No.!’ dalam konteks bahaya politisasi itu.

Kalau ingin ngomongin agama dalam konteks religiusitas dan spiritualitas, datanglah pada ulama macam Quraish Shihab atau Gus Mus, dan yang sejenis keduanya. Engkau akan mendapatkan pencerahan yang berbeda.

***