Menjerumuskan, Usulan Presiden Tiga Periode

Itulah sebab, meski Jokowi sudah menampik gagasan presiden tiga periode, karena katanya hal itu hanya disampaikan oleh mereka yang carmuk atau mau menjerumuskannya.

Rabu, 17 Maret 2021 | 06:33 WIB
0
64
Menjerumuskan, Usulan Presiden Tiga Periode
Presiden Joko Widodo (Foto: Facebook/Presiden RI Joko Widodo)

Pertanyaannya, siapa yang senang dengan terjadinya berbagai keruwetan, kekacauan, kenyinyiran? Siapa pula yang menginginkan? Benarkah ada kekuatan dari luar, yang memanfaatkan semua itu untuk kepentingannya?

Semua tergantung pada centhelan. Kalau rakyat ini kuat, kata Bung Karno, negara kuat. Klau partai kuat, diobok-obok siapapun juga tidak akan ngepek. Di situ kita salute pada Megawati dengan PDI Perjuangan, juga Gu Dur dengan NU, meski tidak dengan PKB-nya. Atau sebetulnya, jangan-jangan apa yang terjadi sekarang ini, adalah karena kebodohan kita bersama.

Ketidakmampuan dan ketidaksabaran dalam memahami substansi masalahnya, di tengah media mainstream dan media sosial yang sama-sama liar?

Yang pasti, sebagian besar warga bangsa dan negara Indonesia ini, tidaklah nyaman dengan kejadian-kejadian yang berkembang. Karenanya, penting kita mengetahui secara persis, sebelum bersikap. Termasuk ketika "sekedar" komentar biar eksis.

Dalam perang asimetris, sebagaimana ciri proxy-war, justeru perancang perang tinggal melihat bom waktu yang ditinggalkan. Karena dalam masyarakat yang bodoh, tak peduli tapi sok pahlawan, aktor intelektual selalu lebih diringankan tugasnya. Tinggal lempar batu kerikil ke kolam pemancingan, ributlah dunia persilatan.

Dimulai dari hal-hal yang tampaknya sepele. Trifles, light as air; are to the jealous confirmations strong; as proofs of the holy writ, tulis William Shakespeare dalam lakon Othello. Entah apa maksudnya bahwa hal-hal yang sepele, ringan seperti udara, dibilangnya konfirmasi dari rasa cemburu yang kuat?

Itulah sebab, meski Jokowi sudah menampik gagasan presiden tiga periode, karena katanya hal itu hanya disampaikan oleh mereka yang carmuk atau mau menjerumuskannya, masih saja ada yang bikin kabar bohong, hanya untuk mendapatkan popularitas agar mendapat dukungan rakyat.

Mau ngomong yang normatif kok kayaknya nggak bakal viral. Dan media mau saja memuatnya. Dan masih ada yang percaya. Memang aneh dunia bul-bul. 

@sunardianwirodono