Petruk Divaksin, Pinokio, Jokowi dan Buta Terung

Soal mana yang lebih dipercaya, di Indonesia bukan soal salah dan benar, tapi suka dan tidak suka.

Sabtu, 27 Maret 2021 | 07:03 WIB
0
10
Petruk Divaksin, Pinokio, Jokowi dan Buta Terung
Saya dan ANter Asmorotedjo (Foto: Dok. pribadi)

Dalam berbagai acara seremonial, di berbagai tingkatnya, tari seolah merupakan bagian tak terpisahkan. Seni tari, dalam berbagai bentuknya, merupakan 'pernyataan simbolik' yang paling pas dan universal untuk dinikmati, sekaligus dihayati, bersama.

Sebagai seni pertunjukan, di dalam seni tari bergabung berbagai elemen audio-visual seperti seni rupa, musik, sastra, dan teater. Tidak hanya di Gunung Kidul, Papua, Gayo, Mbetawi, dan lain sebagainya termasuk di Eropa, Amerika, Afrika, China, Rusia, Jepang dan lain-lain, tari masih dipercaya sebagai bagian penting dalam konteks ritualitas dan spiritualitas.

Tari merupakan titik aksentuasi bagi tema pokok (mangsud dan tujuan) seremoni. Dalam acara pengantin Jawa ataupun pembukaan dan penutupan pesta Olympiade Dunia pun. Maka, tak ada yang mengherankan pula, jika dalam acara ‘Vaksinasi Seniman-seniman di DIY’ beberapa waktu lalu di PSBK Yogyakarta (10/3/2021), juga dipergelarkan seni tari.

Yang menjadi aneh, justeru ketika salah satu tari yang dipergelarkan itu, ‘Petruk Divaksin’ karya koreografer dan penari Anter Asmorotedjo, dibenturkan dengan mangsud dan tujuan seremoni tersebut secara diametral. Apalagi (atau justeru) karena tarian tersebut untuk menyambut kehadiran Presiden Republik Indonesia.

Meski pun tentu juga bisa dimaklumi, ketika kita tahu siapa yang menafsir atau memaknai. Lebih karena kepentingan berbeda. Di situ seni tari, atau katakanlah seniman (dan lebih spesifik Yogyakarta), dipakai sebagai anak tangga, atau media eksistensi. Dan celakanya, tanpa penguasaan atau pemahaman apa yang ditafsirnya, kecuali hal itu bagian dari kesengajaan. Bukan sekedar faktor ‘asal njeplak’, tetapi memang sengaja melakukan ‘dissenting opinion’, atau lebih tepatnya framing.

Dikatakan bahwa dengan tarian penyambutan ‘Petruk Divaksin’, seniman Yogya sedang mengolok-olok Presiden Jokowi. Katanya, jika seniman sudah bertindak seperti itu, pertanda gawat, ada peristiwa penting yang bakal terjadi. Apalagi dikatakan pula mengenai Jokowi yang makin kehilangan kepekaan tafsir. Dan lebih jauh lagi sudah kehilangan wahyu (kekuasaan). Waduh, klenik juga nih!

Beberapa teman, ketika mengetahui yang ‘menafsir’ itu adalah Rocky Gerung di kanal youtubenya, malas mengomentari. Karena katanya, itu hanya akan memperbesar ruang RG. Dalam banyak hal, saya tak sependapat dengan hal itu. Karena pola komunikasi di medsos, informasi apapun yang bersifat sepihak, tanpa konfirmasi dan informasi pembanding, akan dianggap benar.

Bagi mereka yang mengalami mental block, move on tentu bukan barang mudah. Tetapi ketidaklurusan akan dianggap lurus, ketidakseimbangan akan dianggap seimbang.

Apalagi ketika framing itu berangkat dari argumentasi yang tidak memiliki landasan pengetahuan yang kuat. Yakni hanya berangkat dari data fisik, verbal, berupa ‘hidung panjang’. Mereka yang berangkat dari referensi dongeng bocah Pinokio, atau bacaannya hanya kitab dongeng anak-anak karya Carlo Collodi dari Italia itu, akan missleading, menyesatkan ketika dipakai sebagai tafsir untuk melihat hidung panjang Petruk.

Sesuatu yang sama sekali asimetris. Karena hidung panjang Pinokio dengan hidung panjang Petruk, sama sekali berbeda makna filosofisnya.

Apalagi dalam kasanah tafsir filsafat Jawa, sosok Petruk adalah bagian dari simbolisasi yang kaya dan berlapis-lapis. Multi-dimensi. Menjadi ecek-ecek ketika bekalnya hanya ‘hidung panjang’ Pinokio.

Secara sederhana saja, apakah Rama Pastor Sindhunata, yang juga penulis dengan tema-tema kemanusiaan serta filsafat kebudayaan itu adalah pembohong, dengan menamai kediamannya di Kaliurang, sebagai ‘Omah Petruk’?

Karena itulah saya menginterview Anter Asmorotedjo, pencipta, koreographer dan juga penari dalam tarian ‘Petruk Divaksin’ yang dipertunjukkan di hadapan Jokowi, presiden yang pernah digambarkan wajahnya oleh Majalah Tempo, dengan hidung panjang seperti hidung Pinokio.

Di sini saya menduga, majalah yang konon dulu bisa jenaka itu, menjadi biang tafsir hidung panjang Pinokio itu sama makna dengan hidung panjang Petruk, yang pada sisi lain identik dengan Jokowi. Itu juga tampak pada pembiasan makna lakon wayang ‘Petruk Dadi Ratu’ ketika dipakai untuk mendelegitimasi Jokowi (yang konon tak layak) sebagai Presiden.

Bullying dibalas perundungan, mungkin benar hanya akan membuat si pembully viral, terkenal, mumbul dan sejenisnya. Namun, penyebaran hoax setidaknya akan tereduksi kalau publik mendapatkan informasi pembanding, agar lebih proporsional. Soal mana yang lebih dipercaya, di Indonesia bukan soal salah dan benar, tapi suka dan tidak suka. Dan seolah menjadi hukum alam, yang tidak suka atau oposan, akan cenderung lebih vokal.

Tapi meminjam idiom Raden Ngabehi Ranggawarsita, sabegja-begjane wong kang lali, isih begja sing ora percaya kambek Buta Gerung, eh, Buta Terung ding

@sunardianwirodono

***