Sulitnya Menjadi Manusia

Menjadi manusia memang sulit, selama masih memelihara fanatisme buta dan dendam tak berkesudahan.

Kamis, 26 Maret 2020 | 16:49 WIB
0
467
Sulitnya Menjadi Manusia
pic: liputan6.com

Kalau ada manusia yang sangat senang melihat kedukaan orang lain karena kematian salah satu anggota keluarganya, apalagi tega menyumpahi dan mendoakan hal-hal buruk padanya, itu artinya ada yang cacat dalam dirinya terutama pada sisi kemanusiaannya. Dalam pandangan agama ia telah kehilangan akhlaqul karimah.

Dalam bahasa umum ia adalah manusia tanpa budi pekerti yang baik. Dan dalam kehidupan bernegara di Indonesia, perilakunya sangat jauh dari nilai-nilai yang tersirat dalam sila ke-2 yaitu  Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab.

Di media sosial usai pemberitaan meninggalnya ibunda Bapak Presiden Jokowi, yaitu Ibu Sudjiatmi Notomiharjo, banyak netizen memposting hal yang tak sepantasnya dilakukan oleh warga negara yang baik dan manusia yang beragama. Mereka memposting status kegembiraan, rasa syukur dan mendoakan hal-hal buruk menimpa Bapak Presiden Jokowi dan almarhumah ibunda beliau.

Lebih parahnya lagi mereka melakukan itu dengan yakin seolah-olah agama merestuinya dan berpihak padanya. Mereka sangat yakin almarhumah ibunda Jokowi akan bernasib buruk  di alam kubur bahkan mendoakan jasadnya agar disiksa di alam sana. Dan itu turut diamini oleh teman-teman netizen yang sama-sama membenci Bapak Jokowi sejak kompetisi pilpres 2014 dan 2019 yang lalu.  

Padahal, siapapun yang memahami ajaran agama dengan baik akan setuju, bahwa tak ada agama apapun yang mengajarkan kebencian dan dendam diperturutkan seperti itu. Rasulullah memberi teladan untuk bersikap baik bahkan kepada orang Yahudi yang telah berulangkali meludahinya. Di saat orang Yahudi itu jatuh sakit, Rasulullah Muhammad adalah orang yang pertama kali menjenguknya.

Nabi Musa tetap berlemah lembut menyampaikan kebenaran terhadap Fir'aun. Padahal Fir'aun adalah raja yang sangat dzalim. Seorang raja yang tega membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir. Bahkan Musa pun hampir-hampir dibunuhnya saat bayi Musal ditemukan oleh istri Fir'aun di sungai Nil.

Kisah teladan kebaikan akhlak bisa kita lihat juga dalam sejarah Shalahuddin Al-Ayyubi. Ia pernah mengirim utusan kepada Raja Richard yang sedang sakit di saat perang salib pada abad ke 11 Masehi. Bahkan ia sempat menyamar menjadi dokter demi mengobati musuhnya itu. Sebagai panglima perang, Shalahuddin sanggup mengesampingkan permusuhan dan peperangan, dan ia lebih mengutamakan kemanusiaan. Karena sejatinya pesan agama adalah mengedepankan akhlaq dalam menjalin hubungan kemanusiaan.

Sedangkan kita? Kita tidak lebih baik dari Shalahuddin Al-Ayyubi, tidak lebih baik dari Nabi Musa, pun tidak lebih baik dari Muhammad. Begitu pun Bapak Jokowi dia tidak lebih buruk dari orang Yahudi yang meludahi Nabi Muhammad, tidak lebih buruk dari Fir'aun yang telah membunuh setiap orang yang menentangnya, bahkan membunuh bayi-bayi yang baru lahir. Pun tidak lebih buruk dari Raja Richard yang membantai orang-orang tak berdosa di pihak Shalahuddin Al-Ayyubi. Maka dari sisi mana perilaku netizen tersebut pantas mendapatkan pembenaran?   

Masih banyak tentunya teladan kebaikan dalam sejarah kenabian dan orang-orang sholeh di masa lampau. Hanya saja ada sesuatu yang keliru atau terlewatkan dalam dakwah atau pengajaran agama di masa kini sehingga pesan-pesan agama yang termanifestasi dalam akhlaqul karimah justru diabaikan dalam hubungan kemanusiaan. Bahkan untuk sekedar empati pun tidak bisa.

Justru menanggapi sebuah kematian yang siapapun akan mengalaminya dengan komentar kebencian, sinisme, dibalut dengan prasangka buruk dan seolah menjadi obyek yang empuk untuk melampiasan dendam akibat kekalahan pilpres yang tak berkesudahan.

Musibah penyebaran virus Corona sedang berlangsung di negeri ini seharusnya menjadi momen bersama untuk solid mendukung dan membantu pemerintah. Jika pemerintah salah kita koreksi saja dengan cara yang baik, tidak justru menuntut mundur dan memperkeruh suasana.

Selayaknya kita bertanya apa yang bisa kita bantu dan sumbangkan untuk kebaikan negeri ini, tetapi andai tidak ada yang bisa kita perbuat, alangkah lebih baik diam dari pada menambah dosa dengan menyumpahi orang yang sudah meninggal. 

Dalam menghadapi musibah virus Corona yang melanda seluruh warga di berbagai belahan dunia ini, seharusnya kita mengesampingkan rasa dendam, fanatisme buta dan rasa permusuhan. Jika hal ini tak bisa dilakukan, berat rasanya kita melewati musibah ini dengan cepat. 

Menjadi manusia memang sulit, selama masih memelihara fanatisme buta dan dendam tak berkesudahan.

***