Halusinasi SBY

Sebenarnya harus ada evaluasi politik terhadap Pemilu 2009 yang janggal tapi bangsa kita adalah ‘bangsa yang mudah lupa’ sehingga SBY sampai saat ini aman-aman saja.

Minggu, 25 September 2022 | 12:27 WIB
0
34
Halusinasi SBY
Pemilu 2009 (Foto: antaranews.com)

Pidato SBY di acara Rapimnas Partai Demokrat pada 16 September lalu menjadi alat hasutan untuk memandang Pemilu 2024 akan berlangsung curang. Ini adalah ekspresi kekecewaan SBY karena anaknya AHY kemungkinan tidak bisa dimajukan oleh Partai Politik sebagai kandidat Capres-Cawapres 2024.

Seperti kata pepatah: “Orang jujur selalu melihat orang lain baik, orang curang selalu melihat orang lain curang. Karena pada hakikatnya orang akan melihat sebagaimana dirinya”.

Tuduhan curang itu sebenarnya refleksi dari kelakuan SBY yang berlaku curang pada Pemilu 2009. Ini psikologis dalam teori permainan, “orang curang akan melihat orang lain juga curang”.

Hebatnya lagi gugatan kecurangan Pemilu 2009 tidak ada tindak lanjutnya sehingga SBY sampai saat ini aman. Harusnya ada langkah-langkah dari kaum akademis untuk meriset kecurangan pemilu 2009 sebagai bahan evaluasi politik. Karena kecurangan Pemilu 2009 melibatkan sistem.

SBY saat itu merusak mental orang-orang di KPU dengan iming-iming jabatan politik, mengondisikan anggaran negara untuk logistik kampanye partainya dan permainan data DPT (Daftar Pemilih Tetap) fiktif. Kecurangan berlangsung massif dan merusak tatanan sistem yang ada. 

Membaca kecurangan Pemilu 2009 yang menaikkan SBY dan menjadikan Demokrat sebagai Partai terkuat saat itu sebenarnya gampang. Dengan logika sehat saja, jumlah partai saat itu banyak sekali dengan persaingan ketat. Ternyata dalam Pemilu 2009 ada semacam ‘skyrocketing’ dalam jumlah suara yang dimenangkan Partai Demokrat yang melejit 300%, ini sangat tidak masuk di akal di tengah persaingan antar Partai yang ketat.

Rupanya melejitnya suara yang tidak masuk diakal sudah dikondisikan sebelumnya. 

Pertama adalah manipulasi DPT berbagai data fiktif DPT bermunculan di sejumlah kantong wilayah padat penduduk, kedua, digunakannya kebijakan negara untuk kepentingan politik menurut penelitian Marcus Meitzner ada gelontoran dana sebesar 2 milyar dollar yang digunakan untuk kepentingan elektoral yang membuat rusak mentalitas demokrasi rakyat Indonesia juga manipulasi penurunan harga BBM yang dipropagandakan sebagai kerja pribadi SBY padahal itu adalah cerminan penurunan harga BBM internasional.

Masuknya petinggi KPU seperti Anas Urbaningrum dan Andi Nurpati sebagai kader Demokrat setelah Demokrat memenangkan suaranya juga merupakan bentuk kecurangan dan pelanggaran etika berat tapi dilihat sebagai hal normal-normal saja. Pemilu 2009 bisa dikatakan sebagai ‘titik balik kehancuran demokrasi Indonesia’. 

Belum lagi adanya ‘dana-dana gelap yang mengalir dari manipulasi kebijakan anggaran negara ke kepentingan elektoral seperti ‘dana talangan’ Bank Century yang sebenarnya sudah jadi ‘rahasia umum’ kecurangan SBY. Dinaikkannya Budiono sebagai Wapres juga adalah bentuk ‘terimakasih’ SBY setelah rekayasa kasus Century berhasil dilakukan. 

Sebenarnya harus ada evaluasi politik terhadap Pemilu 2009 yang janggal tapi bangsa kita adalah ‘bangsa yang mudah lupa’ sehingga SBY sampai saat ini aman-aman saja.

Bahkan tanpa tahu malu sudah menuding Pemerintahan Jokowi akan berlaku curang pada Pemilu 2024.

Anton DH Nugrahanto