Nina Da’i Bachtiar, Maju Pilkada untuk Merajut Masa Depan Indramayu

Pasangan bacalon Nina Da’i Bachtiar-Lucky Hakim itu memang bukan warga Indramayu. Namun, mereka mempunya darah keturunan Indramayu.

Jumat, 11 September 2020 | 11:46 WIB
0
59
Nina Da’i Bachtiar, Maju Pilkada untuk Merajut Masa Depan Indramayu
Nina Agustina Da'i Bachtiar. (Foto: Liputan5.com)

Ada yang menarik pada Pilkada Indramayu 2020 ini. Dari 4 pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati yang berkontestasi pada Pilkada Indramaya, 9 Desember 2020, mendatang, satu bacalon diantaranya adalah putri mantan Kapolri Jenderal (Purn) Da’i Bachtiar.

Adalah Nina Agustina Da’i Bachtiar, SH, MH, CRA, C.Li. Dia putri Kapolri periode 2001-2005 tersebut. Nina Da’i Bachtiar berpasangan dengan Lucky Hakim sebagai bacalon wakil bupatinya. Pasangan bacalon ini diusung 3 parpol: PDIP, Gerindra, dan NasDem.

Pasangan bacalon pada Pilkada Indramayu 2020 ini terdiri dari bacalon perseorangan, yakni Toto Sucartono-Deis Handika, dan 3 bacalon yang diusung parpol.

Selain Nina Agustina-Lucky Hakim, kedua bacalon dari parpol itu adalah Daniel Mutaqin Syafiuddin-Taufik Hidayat yang diusung Partai Golkar dan Muhamad Sholihin-Ratnawati yang diusung PKB, Partai Demokrat, PKS, Perindo, Hanura, PPP, dan PAN.  

Pertanyaan menarik jelas ditujukan kepada Nina Agustina Da’i Bachtiar. Apa yang membuat  wanita enerjik kelahiran Purwodadi, 17 Agustus 1973 ini tertarik untuk ikut kontestasi dalam Pilkada Indramayu 2020 tersebut?

Yang jelas, Nina Da’i Bachtiar mengaku tersentuh ketika melihat perkembangan Indramayu yang lamban di tengah kemajuan kota-kota di sekelilingnya.

Itu semua berawal dari keprihatinan yang mendalam melihat keadaan Indramayu yang relatif terbelakang dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Jawa Barat, Nina Da’i Bachtiar pun tergerak untuk membantu membenahi tanah leluhurnya ini.

Maklum, kemiskinan di Indramayu masih cukup tinggi mencapai 13 persen. “Ini tidak boleh dibiarkan. Harus ada gebrakan untuk membuat masyarakat Indramayu lebih sejahtera,” kata Nina Da’i Bachtiar, seperti dikutip DetakJabar.com.

Menurutnya, Indramayu bisa berubah jika pemimpinnya punya konsep dan punya kepedulian. “Punya konsep kalau tidak punya kepedulian, mana mungkin berubah. Demikian juga punya kepedulian, jika tidak punya konsep, akhirnya hanya mengeluh,” paparnya.

Intinya, menurut Nina Da’i Bachtiar, untuk memajukan dan mensejahterakan masyarakat Indramayu harus di-setting sejak awal memimpin.

Beberapa hal yang mutlak harus segera dibenahi, yaitu pertama adalah dunia pendidikan, kedua masalah kesehatan, dan ketiga ekonomi kerakyatan. Masyarakat harus diedukasi betapa pentingnya pendidikan.

Karena pendidikan merupakan modal utama untuk sebuah kesejahteraan dan kemajuan. Pembenahan pendidikan bisa dilakukan dengan memperbanyak akses pendidikan bagi anak-anak sekolah hingga tingkat SMA.

Pendidikan yang murah harus diwujudkan agar semua anak bangsa menikmati pendidikan. Masyarakat punya hak yang sama untuk mengenyam pendidikan. Anak-anak di bawah umur harus diberi pemahaman agar tidak dipaksa bekerja oleh orang tuanya.

Persoalan serius yang kedua yang terjadi di Indramayu adalah soal kesehatan masyarakat. Sanitasi dan pola hidup masyarakat sehat harus menjadi prioritas penanganan.

Yang ketiga soal minimnya usia produktif yang memiliki ketrampilan dan keahlian. Kelak Nina Da’i Bachtiar akan memberikan bantuan dan pelatihan bagi UKM sampai ke tahap produksi dan pemasarannya sehingga antara suplai dan demand bisa seimbang.

Tidak hanya itu, Nina Da’i Bachtiar kelak akan berupaya meningkatkan produksi di sektor pertanian dan perikanan. Intinya Indramayu harus mampu berdikari. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk merajut bersama -sama membenahi Indramayu.

Sebagai putri Kapolri, ia tidak menetap di satu tempat. Ia pernah tinggal di Purwodadi, Jawa Tengah sejak kecil hingga usia sekolah. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMAN 1 Klaten, Jawa Tengah.

Setamat SMA, Nina Da’i Bachtiar kemudian melanjutkan jenjang pendidikan Sarjana di Fakultas Hukum, Universitas Negeri Veteran Jakarta. Di kampus yang sama ia menekuni bidang hukum untuk menempuh pendidikan Pascasarjana.

Di tengah kesibukan menimba ilmu, Nina masih sempat membangun bisnis dan usaha, bahkan berkecimpung di sektor sosial. Ia menjadi Ketua Yayasan Dai An Nur, Losarang Indramayu sejak 2017 hingga sekarang.

Di dunia bisnis dia menjabat Direktur CV. Dinda Abadi sejak 2009. Ia juga menduduki jabatan Komisaris PT Dinda Abadi sejak 2009.

Pada 2013 ia menduduki jabatan sebagai Direktur Utama PT Delta Buana Pratama hingga sekarang. Jabatan terbaru, ia menjadi Managing Partner di NDB Law Firm & Partners sejak 2018.

Untuk memperkaya pengalaman, tak lupa ia menyempatkan diri menekuni berbagai keahlian. Nina tercatat sebagai kurator di Himpunan Kurator dan Pengurus Indonesia tahun 2016. Nina juga menjadi anggota Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) pada 2016.

Tak hanya itu, ia juga mengikuti Pendidikan Likuidator di PPLI. Nina juga tercatat mengikuti Pendidikan Pengacara Pengadaan di PERKAHPI pada 2019.

Nina juga aktif di organisasi profesi maupun partai politik, baik sebagai anggota maupun pengurusnya. Ia menjabat sebagai Ketua Bidang Hukum di DPP PDIP Bidang Kelautan Perikanan dan Nelayan Tahun 2016 sampai sekarang.

Bersamaan dengan itu ia menjadi Bendahara Umum di DPP Gerakan Nelayan dan Tani Tahun 2016 sampai sekarang.

Di kancah internasional, Nina tak kalah lincah. Saat ini Nina menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) di IKFA (Indonesian Korean Friendship Association) sejak 2019.

Melihat jejak perjalanan karier Nina Da’i Bachtiar yang cukup padat sudah selayaknya Indramayu maju. Indramayu butuh pemimpin yang punya jiwa enterpreneurship.

Pasangan bacalon Nina Da’i Bachtiar-Lucky Hakim itu memang bukan warga Indramayu. Namun, mereka mempunya darah keturunan Indramayu. Ayah Nina Agustina, Dai Bachtiar, asli kelahiran Indramayu, tepatnya Losarang.

Sedangkan Lucky Hakim, ibunya adalah orang Indramayu. Dia lahir di Indramayu, namun tak lama pindah ke Cilacap. Lucky Hakim pun dikenal sebagai pemain film dan sudah sering berseliweran di layar kaca televisi Indonesia.

Nina Dai Bachtiar mengungkapkan, meskipun bukan tinggal di Indramayu, namun dirinya hadir pada Pilkada Indramayu karena bentuk kepeduliannya terhadap tanah kelahiran orang tuanya. Sehingga, Indramayu menjadi lebih bisa bersaing dengan daerah lain di Jawa Barat.

“Saya ingin mengabdi kepada tanah kelahiran ayah saya,” jelasnya, Jumat (4/9/2020). Nina berpesan, agar masyarakat Indramayu tidak ada yang golput, dan ikut berpartisipasi dalam Pilkada Indramayu.

Karena, Pilkada Indramayu 2020 merupakan wujud perubahan menuju ke arah yang lebih baik lagi. Nina juga mengingatkan, saatnya melakukan perubahan ke arah yang lebih baik bagi masyarakat Indramayu.

“Kami akan hadir memimpin dengan hati dan berkomitmen,” jelasnya ketika mendaftar ke KPU Indramayu.

***