Banjir Salahkan Jokowi, Praktik "Post Truth" dan "Firehose of Falsehood"

Anies tetap harus dikritisi yang terkait dengan kinerja, yang tidak menyangkut masalah agama, keyakinan, etnik, keadilan, nilai, peristiwa, kekonyolan.

Sabtu, 4 Januari 2020 | 08:12 WIB
0
223
Banjir Salahkan Jokowi, Praktik "Post Truth" dan "Firehose of Falsehood"
Anies, Jokowi dan Basuki (Foto: Facebook/Ninoy N. Karundeng)

Jakarta banjir. Macet. Menewaskan puluhan orang di Jabodetabek. Jokowi yang salah. Pemerintah Pusat. Bukan Anies yang tak becus. Ngeles. Menyalahkan orang lain. Persis kelakuan Donald Trump, Bolsonaro, Nigel Farage, tokoh Five Star Movement Italia.

Menghubungkan banjir dengan niat asli Anies Baswedan itu gampang. Banjir adalah isu permainannya. Jadi korban mulut narasinya. Orang ini melakukan apapun dengan nawaitu. Niat. Tekad. Strategi. Bahkan grand design alias pemikiran dasar komprehensif. Bukan kaleng-kaleng. Loh kok? Iya.

Anies adalah pelaku dan pemraktek post truth – pasca kebenaran. Dia sangat memahami teori Firehose of Falsehood. Ditambah ilmu neuro-science. Apa itu teori? Nggak usah dibahas panjang. Kalau mau detail nanya pakarnya Ryu Hasan.

Penerapannya? Kampanye Anies di Pilkada DKI 2017 adalah contohnya. Informasi palsu digeber. Dipelintir disisipi emosi dan rasa. Sentimen suku agama ras antargolongan menjadi suguhan. Tak peduli memecah belah rakyat dan bangsa.

Dalil yang menakut-nakuti pemilih dengan ayat dan mayat diboyong Eep Saefullah Fatah. Pinter tapi mengadu domba umat. Hanya untuk nafsu politik – kemenangan adalah kebahagiaan. Pencapaian tertinggi. Self-actualization. Aktualisasi diri.

Aktualisasi diri terpenuhi dalam bentuk kemenangan. Ide terlaksana dan membuat lawan terkapar. Mudharat dan manfaat tidak dihitung. Yang dihitung adalah kemenangan menghalalkan segala cara, pemikiran Machiavelli dalam Sang Pangeran alias The Prince. Dikesampingkan dampaknya, akibatnya. Tega. Demi kepentingannya. Dia tega memecat siapa pun.

Sejak dipecat oleh Jokowi, nafsu Anies menggelegak. Saat itu, 2016 dengan tangan panas Jusuf Kalla dan dukungan politikus penjungkal Gus Dur Amien Rais, Anies dengan modal nol rupiah jadi Gubernur DKI.

Emosi primordial diaduk menjadi roti manis memabukkan. Surga dan pahala dicampur diolah jadi adonan roti untuk memilih Anies, menyingkirkan Ahok. Politik identitas paling blatant yang pernah ada dalam sejarah Republik Indonesia.

Nafsu berkuasa memang memabukkan. Kekuasaan itu godaan terbesar dalam diri manusia serakah. Serakah kekuasaan. Tidak mau tawadhu. Tak berbuat untuk rakyat. Hanya untuk kepentingan dirinya, dan kroni yang menjadikan dia berkuasa. Nafsu berkuasa harus dipupuk. Digambarkan dengan kata-kata manis, narasi indah membius. Yang sebenarnya adalah racun mematikan karena hanya hiasan bibir nyinyir semata.

Mari kita tengok. Jujur. Pertanyaan ini memang sederhana. Apa landmark, ikon, hasil kinerja yang spektakuler Anies di DKI dengan duit besaaar sekali? Rp 70 triliun. Bukan Rp7 triliun, selain membongkar trotoar, merusak jalan lalu menyempitkan? Bikin macet. Hanya itu.

Publik tak paham. DPRD pun tidur. Diam, Hanya ada empat orang yang peduli di sana. William. Anthony. Viani. Imah. Tiga dari PSI satu doang dari PDIP.

Rakyat DKI juga juga diam seribu bahasa. Tidak ada orang yang menggugat ke mana uang rakyat DKI? Karena Indonesia menganut hukum prosedural. Jika sesuatu telah sesuai prosedur meskipun merugikan – seperti perangkat komputer Rp125 miliar misalnya, bahkan rancangan lab fisika dan kimia di SMK Pariwisata dianggap sebagai kewajaran.

Nah, jika ada protes, maka Anies sudah menyiapkan narasi. Balasan omongan. Omongan itu pun bukan solutif. Namun provokatif dan menyalahkan orang lain. Kejam. Rancangan Firehose of Falsehood yang dibuat Anies benar-benar efektif. Top.

Isu banjir di DKI Jakarta pun dibelokkan kepada sunatullah, tidak perlu pompa, dan air pun dipaksa Anies masuk ke dalam tanah. Itu demi menarik perhatian para pengikutnya. Padahal pada saat Anies pun memompa air ke laut untuk mengatasi banjir Jakarta. Itu masa kampanye dulu.

Cara membangun ingatan publik paling efektif ya memainkan ilmu neoro-science. Karena ditambah dengan strategi ayat dan mayat, plus keyakinan ideologi Post Truth. Banjir pun dijadikan korban keyakinan strategi politiknya. Dia ngeles. Banjir karena air dari Bogor. Curah hujan di luar kebiasaan. Kesalahan Ahok dan Jokowi dulu. Terlalu banyak bangunan. Area serapan di Puncak banyak dibangun vila. Dan sebagainya. Tidak akan pernah dia bicara solusi.

Bagi Anies itu satu-satunya pilihan. Dia tak akan mampu menghilangkan pengalaman indah menjadi Gubernur tanpa modal kecuali sentimen ideologi segregatif, pemakaian Firehose of Falsehood, dan sekali lagi ideologi Post Truth. Trus apa manfaat tulisan ini? Pesannya?

Anies tetap harus dikritisi yang terkait dengan kinerja, yang tidak menyangkut masalah agama, keyakinan, etnik, keadilan, nilai, peristiwa, kekonyolan. Karena ranah itulah yang cocok untuk berbiaknya teori dan praktik politik identitas, berdasarkan ideologi Post Truth dan strategi Firehose of Falsehood. Diamkan. Agar dia tidak mendapatkan panggung. Publikasi.

Itulah sebabnya saya tidak komentar soal Colesseum ketika diberi penghargaan. Karena tahu maksud dan pikiran Anies. Jebakan buat oposan Anies. Dengan segala latar belakang teori komunikasi. Jebakan Batman Anies memang top. Harus waspada dengan sepak terjangnya. Lalu cara meng-counter?

Siapapun yang sedang dikerjain Anies. Termasuk Presiden Jokowi dan Ahok. Serta warga Jakarta 42, yang 48 sudah korban Anies. Ya kita gunakan juga ilmu neuro-science, Firehose of Falsehood dan Post Truth seperti tulisan saya ini.

Ninoy Karundeng, penulis

***