Inilah Alasan Pendukung Jokowi Kurang Militan

Minggu, 27 Januari 2019 | 20:43 WIB
0
512
Inilah Alasan Pendukung Jokowi Kurang Militan
Sumber: http://nasional.kompas.com

Pendukung Jokowi mendapat kritik: Kurang greget, kurang menggigit dan terkesan malas untuk membangun narasi yang kuat. Pertama, harus diakui dulu, pendukung Jokowi memang melempem. Payah.

Di media sosial, warganet pendukung Prabowo-Sandi menunjukkan eksistensi yang menonjol. Tagar tentang dukungan Prabowo-Sandi jumlahnya jauh melampaui tagar #01JokowiLagi atau #2019TetapJokowi yang mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin.

Tingkah Sandi yang sengaja bertingkah konyol adalah strategi untuk selalu eksis di media sosial, terbukti Sandi men-twit sehari bisa enam kali.

Disini kita perlu bicara akun palsu. Medsos tidak lepas dari akun palsu, akun palsu "dibutuhkan" dalam menggiring opini massa. Kedua pihak memiliki sistem fake yang massif.

Kita lihat kerjanya. Sistem kerja akun palsu paling terlihat di polling. Di polling yang dilakukan oleh pendukung Jokowi-Ma'aruf, maka persentase naiknya suara Prabowo-Sandi akan muncul diakhir-akhir. Begitupula sebaliknya. 

Akun palsu juga kerap muncul untuk "nyampah" dikomentar yang pro Jokowi. Gunanya? Tentu menggiring opini swing voters. Caranya khas, tim oposisi bertipe kick and rush. "Nyampah" dan kabur. 

Akun palsu mudah terdeteksi, kuncinya pun sudah ketemu. Jadi jangan ge-er dulu pola Trump di US akan terulang.

Lantas mengapa hasil survei riil yang dilakukan lembaga survei tetap menunjukkan elektabilitas Jokowi-Ma'aruf stagnan? Berkisar diangka 53%-54%.

Karena tim pemenangan Jokowi-Ma'aruf memang payah. Mereka terlihat melempem karena Jokowi sendiri, lho kok?

Sumber: www.liputan6.com

Gini, om dan tante..

Jokowi bukanlah politikus bau kencur, faktanya beliau adalah politikus paling berhasil di Indonesia. Beliau naik dari Pengusaha menjadi Wali Kota lantas menjadi Gubernur dan kemudian Presiden tanpa pergolakan berarti. Tanpa banyak tingkah, pokoknya smooth

Terbukti dari tren tersebut, Jokowi bukan politikus biasa. Beliau disukai publik. Manusia disukai karena berguna. Selain karena aksi kerja dan blusukan, Jokowi memiliki kemampuan membaca situasi yang baik.

Jokowi dan tim sangat memahami, ada pola Firehose of Falsehood yang dimainkan kubu Prabowo.

Pola itu berpengaruh hanya jika lawan reaktif. Isu komunis, isu non islam, isu Indonesia bubar, isu angka kemiskinan yang tidak berdasar, isu hoaks soal ibunda Jokowi, semua ditanggapi oleh Jokowi dengan santai.

Jokowi pun belajar dari kesalahan Ahok. Ahok termakan umpan strategi SARA. Serangan SARA di masa Ahok adalah bentuk Firehose (semprotan kencang bertubi-tubi) yang digunakan tim oposisi. Ahok pun reaktif dengan berbicara di Pulau Seribu terkait serangan SARA ke dirinya, dengan maksud mengedukasi masyarakat agar jangan termakan isu SARA. 

Justru omongan itu dibalik menjadi Falsehood (dusta/fitnah), dengan memotong ucapan Ahok, kemudian melabelkan Ahok adalah penista agama. Cap penista agama di ulang berkali-kali secara masif dan repetitif/berulang, hingga sempurnalah sudah teknik Firehose of Falsehood, dengan akibat yang fatal.

Apakah Jokowi menyadari? Tentu saja. Namun Jokowi tidak perlu usaha keras untuk mengubah dirinya. Tipikal Jokowi yang secara natural "tidak reaktif" justru membingungkan lawan yang memakai teknik ini terhadap beliau. 

Ada titik-titik tertentu ketika Jokowi mencoba reaktif, hanya untuk test the water...

Contohnya ketika Jokowi "marah" akibat selalu difitnah, lalu menyebut kata "sontoloyo". Lihat bagaimana reaktifnya kubu oposisi, mereka sibuk membuat kritik dan menggunakan kata-kata "sontoloyo" tadi sebagai sebuah senjata baru.

Lalu Jokowi seperti menggoda oposisi dengan menyebut kata "genderuwo", Fadli Zon pun secepat kilat langsung menjadi puitikus. Dengan maksud membuat serangan balik. Justru di twitter dia dihujat habis-habisan.

Tes yang dilakukan Jokowi masuk, kubu oposisi masih memakai strategi yang sama ketika mereka menghadapi Ahok. 

Lalu kubu oposisi bilang, "lho kubu Jokowi juga memakai teknik yang sama, omongan Prabowo banyak di"goreng", gimana tuh?"

Prabowo bukan dalam posisi petahana. Untuk apa tim petahana memakai teknik propaganda Russia kepada non petahana? Tidak ada untungnya.

Dan kita harus bisa bedakan permainan kata dari Jokowi dan ucapan ala Prabowo. Dari beberapa kata-kata yang tak perlu diedit, Prabowo mencitrakan dirinya adalah orang yang mudah merendahkan pihak lain, sindiran terhadap wajah Boyolali, Ojek Online, selang RSCM dll. 

Ejekan kepada Prabowo adalah keisengan dan sentilan pro Jokowi untuk meng-eksplore Prabowo secara lebih dalam.

Dan seperti diduga, justru Prabowolah yang tidak bisa menguasai diri. Bahkan Prabowo secara gamblang murka terhadap wartawan yang tidak menjadikan Headline aksi reuni 212. 

Tanpa diedit pun, Prabowo seperti kalap, kata-kata "saya" yang lebih pantas diucapkan oleh Calon Presiden, berubah menjadi "gue", kesantunan hilang, berganti luapan emosi.

Padahal tidak ada satupun seorang Presiden di negeri ini yang tidak "cool". Semarah-marahnya SBY, selalu dalam kontrol intonasi yang tepat. Juga Presiden yang lain.

Ada kondisi-kondisi tertentu bahkan yang seharusnya membuat Jokowi berang. Fitnah Obor Rakyat, fitnah komunis bahkan fitnah tentang siapa orangtua Jokowi. Jika saya jadi Jokowi, mungkin si pemfitnah tidak akan selamat.

Kondisi di atas berkategori fitnah yang sangat kejam, sangat murahan. Tapi itupun bisa diatasi Jokowi tanpa konflik berarti. Perlahan tapi pasti Jokowi membuat klarifikasi secara logis, termasuk keterlibatan dirinya di partai komunis era '60-an padahal dirinya saat itu masih balita.

Gerakan Jokowi yang kalem namun pasti membuat kubu Prabowo blingsatan, selain Prabowo sendiri yang seperti lose control, juga Fadli Zon yang justru lebih sibuk membuat puisi ketimbang kerjanya sendiri. 

Bahkan kubu oposisi meleburkan tekad untuk memindahkan poros kekuatan di Jawa Tengah. Basis PDIP, basis petahana.

Ini sama saja strategi ketika Jerman menyerang Uni Soviet secara langsung di Stalingrad. Butuh biaya besar, medan berliku, suhu yang tidak diprediksi dan hasilnya? Jerman kalah telak.

Bahkan La Nyalla mengakui bahwa dirinyalah yang memfitnah Jokowi via Obor Rakyat pada Pilpres 2014 lalu dan menyebarkan Obor Rakyat di Jawa Timur. Bagi kubu Prabowo, ini jelas pukulan telak, artinya kubu Prabowo mengakui bahwa strategi fitnah adalah benar adanya.

Dengan kata lain, Firehose of Falsehood nyaris tidak mempan diarahkan ke Jokowi. Sulit memang menyerang sosok yang tenang. Seperti Soeharto, sulit untuk menyerang Soeharto jika tidak karena krisis moneter.

Kesan pertama, biarlah Jokowi berkampanye terhadap dirinya sendiri. Dengan ketenangan, Jokowi tinggal menunggu saat yang tepat untuk melakukan smesh. Seperti ketika Prabowo murka terhadap wartawan, Jokowi langsung membalas di instagram dengan foto bersama wartawan, dengan pesan yang menohok "Bahwa dirinya tidak ada apa-apanya jika tidak karena wartawan".

Bukan hanya Jokowi yang berfoto tapi satu keluarga! Jokowi melakukan dua smesh sekaligus. Langsung ke jantung lawan. Jokowi menegaskan bahwa beliau sudah selesai dengan dirinya.

Inilah kekuatan Jokowi sekaligus kelemahan bagi simpatisan. Jika jagoan bisa menyerang, tak perlu pendukung ikut menyerang. 

Pro-Jokowi dan PDIP seperti dimanja oleh gerakan Jokowi, sehingga kurang militan baik di dunia maya maupun nyata. Daripada salah langkah lebih baik diam. Jokowi tak mau kasus Ahok terulang.

Siapapun saat ini rentan di Ahok-kan. Masih untung Grace Natalie bukan Gubernur DKI. 

PDIP dan simpatisan lebih suka memaparkan keberhasilan Jokowi, penghematan Pertamina 250 miliar per hari semenjak Petral dibubarkan, kemudian kenaikan penumpang pesawat di Indonesia menjadi 63 juta penumpang sepanjang 2017, mengalahkan Changi, Singapura. Setelah revitalisasi besar-besaran bandara Soekarno-Hatta.

Kenaikan trafik kontainer di pelabuhan Tanjung Priok dari 6-7 TEUs menjadi 12 TEUs sepanjang era Jokowi. Bahkan Tanjung Priok sudah bisa melayani sistem Transhipment. Ditambah lagi Tax Amnesty yang membuat Singapura sakit gigi, karena banyak Taipan yang menarik duitnya dari Singapura.

Belum cukup itu, era Jokowi tercatat satu-satunya era yang bisa membuat Amerika bertekuk lutut, dengan menjadikan nilai saham Indonesia di Freeport meningkat menjadi 51% lewat Inalum. Bahkan dengan nilai investasinya, Inalum hanya butuh 2-3 tahun untuk balik modal. Lebih bagus dari investasi batu akik. 

Masih ada lagi, Indonesia melalui Pertamina mengambil alih blok Mahakam dari Total E&P, juga blok Rokan yang sebelumnya dikuasai Chevron Pasific Indonesia selama 50 tahun. Blok Rokan ini selama 2016 masih menghasilkan minyak hingga 250.000 bph (barel per hari).

Belum lagi realisasi cita-cita pemerataan pembangungan dengan pembangunan infrastruktur hingga daerah pedalaman. Hingga yang terbaru, tahap akhir penandatanganan Mutual Legal Assistance antara Indonesia dengan Swiss, tujuannya? Mengejar uang hasil korupsi dan money laundry yang disembunyikan di luar negeri selama puluhan tahun!

TERMASUK MENGEJAR UANG YAYASAN SUPERSEMAR YANG SALAH SATUNYA JELAS MENGARAH KE PT KIANI KERTAS, PERUSAHAAN PRABOWO.

Hal-hal Inilah yang sibuk disebarkan oleh simpatisan, sehingga tak sempat untuk membuat narasi meng-counter aksi reuni 212 misal, cukup beropini sesaat dan mengejek yang remeh temeh, seperti mengejek ucapan Prabowo soal tampang Boyolali, tingkah Sandi yang konyol.

Gitu-gitu aja. Receh.

Terkesan pula bahwa pendukung Jokowi termasuk PDIP hanya bisa bertahan di media sosial, sibuk klarifikasi. Padahal ya memang demikian adanya. Pendukung Jokowi itu payah, tidak mampu membuat narasi besar seperti hoaks operasi plastik, misal.

Karena memang bukan itu kelasnya, beib...

***