Zaiful Bokhari Nomor Urut 2, Mengusung Gagasan Bukan Identitas Sempit

Visinya dalam membangun rumah kebangsaan ini patut disokong masyarakat agar Lampung Timur tidak dipisah-pisahkan oleh simbol-simbol, slogan, dan tampilan primordial politik.

Jumat, 25 September 2020 | 13:34 WIB
0
824
Zaiful Bokhari Nomor Urut 2, Mengusung Gagasan Bukan Identitas Sempit
Pasangan Nomor Urut 2 (Foto: Dok. pribadi)

Masyarakat Lampung Timur, Provinsi Lampung, sedang dalam proses menuju penentuan akhir memilih calon kepala daerah pada 9 Desember 2020. Mereka dihadapkan pada tiga pasang calon kepala daerah, salah satunya Zaiful Bokhari-Sudibyo yang memiliki nomor urut 2!

Dari tiga pasang calon ini, Zaiful-Dibyo terlihat elegan dalam berusaha memenangkan hati 770.869 pemilih masyarakar Lampung Timur. Zaiful lebih banyak mengusung gagasan membangun dan melayani untuk mengadministrasi keadilan sosial sesuai cita-cita para pendiri Republik ini.

Dengan slogan membangun dan melayani, Zaiful dan pasangannya juga mendidik masyarakat agar memilih pemimpin yang telah bekerja nyata dan bisa menjalankan misi pembangunan untuk melayani semua golongan, suku, agama, dan kelompok sosial.

Dengan menjual visi membangun dan melayani untuk semua lapisan sosial secara adil dan merata, Zaiful sejatinya juga memberi pembelajaran yang sehat kepada masyarakat dalam memanfaatkan ruang demokrasi. Masyarakat diberi kesempatan untuk menilai calon pemimpin mereka dari kualitas gagasannya dalam mengadministrasi keadilan, sekaligus menjauhi sikap sentimen kesukuan, agama, dan golongan, yang tidak sehat dan menghambat terwujudnya keadilan yang merata.

Dan, kepada elite politik, Zaiful juga memberi pembelajaran positif agar mereka jangan mudah menggunakan ruang demokrasi untuk meraih kemenangan dengan mengeksploitasi sentimen suku, agama, dan golongan, dalam simbol maupun slogannya, karena hal itu jauh dari tujuan berpolitik untuk mengadmistrasi pembangunan secara adil dan merata.

Zaiful-Sudibyo dalam memenangkan hati masyarakat juga tampil elegan yang mengesankan mereka sebagai calon pemimpin untuk semua lapisan sosial yang beraneka ragam di Lampung Timur.

Zaiful terlihat ingin mewujudkan Lampung Timur sebagai rumah kebangsaan. Apalagi, sembilan suku seperti Lampung, Bugis, Batak, Bali, Minang, Palembang, Sunda, Jawa, Banten, pernah mendeklarasikan diri dalam Festival Kebangsaan pada hari Minggu, 25 Agustus 2019 di Sukadana, Lampung Timur.

Dengan deklarasi ini, masyarakat Lampung Timur sudah sepantasnya tidak lagi dipisah-pisahkan oleh sentimen suku, agama, dan golongan, dalam menentukan pilihan calon kepala daerah mereka kelak. Mereka tidak perlu lagi dibebani sentimen primordial yang bersifat rasis, karena akan membelenggu masa depan mereka selama lima tahun ke depan.

Masyarakat sebaiknya memilih figur kepala daerah atas dasar semangat kebangsaan. Figur yang telah memberi bukti nyata dalam membangun daerah serta melayani mereka secara adil dan merata.

Untuk urusan membangun dan melayani, Zaiful sudah membuktikannya selama menjadi bupati setahun terakhir ini. Dia keluar masuk perkampungan untuk menyerap isi hati masyarakat lalu mewujudkan pembangunan sesuai kehendak masyarakat itu sendiri.

Daerah pertanian yang umumnya dihuni suku jawa pun dia benahi infrastrukturnya secara massif agar produksi pertanian meningkat, sehingga kualitas hidup petani juga terangkat.

Zaiful juga banyak membantu fasilitas pendidikan berbasis keagamaan dari berbagai kelompok dan golongan secara adil dan merata. Kebutuhan administrasi kependudukan dan kesehatan secara gratis untuk semua lapisan sosial masyarakat dia penuhi tanpa pandang bulu.

Di sini, Zaiful telah merepresentasikan dirinya sebagai pemimpin berkarakter moderat yang berdiri di atas semua golongan dan kepentingannya. Dia tidak condong kepada golongan tertentu yang membuat cemburu golongan lainnya.

Dengan memosisikan diri sebagai figur demikian, Zaiful telah meletakkan pondasi dalam rangka membangun Lampung Timur sebagai sebuah rumah besar kebangsaan yang nyaman dihuni oleh semua lapisan.

Visinya dalam membangun rumah kebangsaan ini patut disokong masyarakat agar Lampung Timur tidak dipisah-pisahkan oleh simbol-simbol, slogan, dan tampilan primordial politik identitas yang sempit.

Krista Riyanto, Penulis tinggal di Jakarta.

***