Senjata Pemusnah Massal Bernama "Nubika"

Kalau terjadi kebocoran nuklir atau kimia kita bisa segera mengetahui (aware) karena lebih kasat mata. Tapi kalau terjadi kebocoran biologi siapa yang bisa mengetahui? Dia tidak kasat mata.

Sabtu, 9 Mei 2020 | 11:35 WIB
0
121
Senjata Pemusnah Massal Bernama "Nubika"
Perang nubika (Foto: watyutink.com)

Ini suatu pemikiran, mudah-mudahan tidak dianggap mengembuskan teori konspirasi.

Dalam sistem perang modern digagas senjata pemusnah massal yang bernama "nubika" (nuklir, biologi, kimia). Senjata nuklir malah sdh dipraktikkan pada sewaktu AS mengebom Hiroshima dan Nagasaki pada pengujung Perang Dunia II.

Senjata kimia (sarin, klorin dan sebagainya) sudah dipakai dalam sejumlah perang regional. Senjata biologi sejauh ini belum pernah digunakan secara massal, meskipun sudah pernah dicoba untuk menebar kuman anthrax.

Yang menjadi concern yang besar, bagaimana jika seandainya high-risk plant yang berkaitan dengan nuklir, biologi dan kimia ini mengalami kebocoran. Sudah ada contoh yang gamblang di masa lampau tentang kebocoran ini.

Pada Desember 1984, terjadi kebocoran zat kimia lethal methyl isocyanate di Bhopal, India yang menyebabkan 7.000 orang tewas dan 500.000 orang terpapar. Kebocoran reaktor nuklir juga pernah terjadi di Chernobyl, Rusia pada April 1986 dan di Fukushima Daiichi pada tahun 2011.

Apakah high-security biolab yang meneliti kuman-kuman berbahaya termasuk virus influenza di berbagai negara maju aman tak akan pernah mengalami kebocoran seperti halnya laboratorium nuklir dan kimia?

Namanya human error selalu membuka peluang ini, meskipun sistem pengamannya sudah berlapis-lapis.

Di Wuhan, China ada biolab yang meneliti antara lain virus korona ini. Ini bukan instalasi rahasia dan memang legal melakukan riset medis bekerjasama dengan Perancis. Mungkinkah tanpa disadari telah terjadi kebocoran pada biolab ini?

Kalau terjadi kebocoran nuklir atau kimia kita bisa segera mengetahui (aware) karena lebih kasat mata. Tapi kalau terjadi kebocoran biologi siapa yang bisa mengetahui? Dia tidak kasat mata.

Mungkin memerlukan waktu berhari-hari atau berminggu-minggu setelah terjadi outbreak (wabah) barulah yang berwenang menyadarinya.

Sekali lagi, ini cuma pemikiran belaka, bukan teori konspirasi.

***