Menutup Sumber Kebencian

64 juta suara yang tidak memilih Pak Jokowi tidak harus terus dikompori untuk membenci, karena kebencian yang terpatri akan menjadi dendam dan akhirnya mereka menjadi asing di negeri sendiri.

Minggu, 25 Agustus 2019 | 08:33 WIB
0
665
Menutup Sumber Kebencian
Karni Ilyas (Foto: Tirto.id)

Seperti yang sudah saya sampaikan bahwa TVOne adalah salah satu media yang selama 5 tahun terakhir melalui acara ILC-nya Bang Karni Ilyas telah membentuk opini menjadi program penyerang pemerintah melalui sekumpulan manusia nyinyir. Mereka terus meletupkan kata-kata tak senonoh yang mestinya tidak ke luar dari mulut orang terdidik, atau kaum intelek.

Tulisan pendek saya tentang itu dilike lebih dari 10.000 orang, dan di share mendekati 2.000, ini menandakan bahwa program ILC sudah demikian dipandang meracuni pikiran masyarakat dengan terus dijejali kebencian kepada pemerintah, tingkat kegusaran pemirsa atas serangan terus menerus itu dusah di atas ambang batas kewajaran.

Apalagi, sekelompok manusia pembenci Pak Jokowi itu sengaja dipiara oleh Bang Karni dan dijadikan amunisi yang ditembakkan tanpa henti. Karena ruang celotehan itu adalah media televisi yang sangat luas ditonton diseantero negeri, sehingga dampaknya masif, sesuai segmentnya.

Sebagai warga negara yang terdidik harusnya Bang Karni Ilyas tahu batas mana kritik membangun dan mana yang cuma manyun, dagelan politik ini harusnya sudah berhenti, karena Pak Jokowi sudah resmi memenangi kontestasi, kenapa terus tak henti dimaki, padahal kerja yang dilakukannya terukur, walau tidak 100% mencapai hasil yang direncanakan.

Wajar, karena Indonesia negara besar, bukan sebesar gedung Senayan di mana 600 an orang yang berkumpul dengan hasil kinerja mengesahkan RUU menjadi Undang-undang di bawah 50% saja.

Undang-undang adalah alat pemerintah untuk bisa bekerja, bila dukungan itu lemah maka akan mempengaruhi kinerja pemerintah, tapi lembaga yang mendudukkan dirinya terhormat dan mulia itu tak pernah dimaki-maki seperti halnya Pak Jokowi, malah bintang kembar dari Senayan yang selalu tampil elegan karena punya kursi tetap di ILC untuk terus bisa leluasa mengumbar bahasa mencela, menjadikan pemerintah seolah sebagai gudangnya salah.

Dari sanalah pernah keluar istilah rakyat tidak makan infrastruktur, Indonesia dikuasai asing, dan olok-olok yang lain dari mulut orang yang harusnya lebih pantas harakiri daripada sok mengerti. Apa itu pantas? Harusnya tidak bagi manusia berakhlak.

Negara yang porak poranda dibonsai Orba ini dan sekarang sedang menghirup oksigen pembangunan agar bisa mengejar ketertinggalan, kenapa kesannya TVOne hadir sebagai saingan negara, seolah tidak rela Indonesia ditata agar bisa sejajar dengan tetangganya, dan kemajuannya kelak dirasakan bangsa serta anak cucunya.

Kenapa, emang Pak Jokowi itu lebih jelek dari Soeharto dan SBY, yang selama 42 tahun cuma bisa membiarkan Petral dan Freeport jadi penguras devisa dan aset negara, serta memelihara tengkulak yang mengendalikan Bulog sampai membuat ketahanan pangan kita rentan, irigasi tanpa bendungan, kilang minyak dibiarkan tua, sementara di Singapura ada refinery, kilang minyak di negara sebesar Jakarta itu dibangun utk mensupply Indonesia, aneh tapi nyata.

Itulah yang membuat income perkapita kita hanya 7% dibanding Singapura, dan 1/3 nya Malaysia, 1/2 nya Thailand, kita hanya menang lawan Philipina. Ini karena Soeharto 11-12 dengan Marcos.

Memasuki masa bakti kedua pemerintahan Pak Jokowi dengan program meneruskan pembangunan infrastruktur, serta SDM, seharusnya kita punya konsensus kebangsaan untuk menyudahi caci maki, mengendapkan hati sebagaimana mestinya manusia yang berpancasila agar kelak kalimat beradab tidak sekedar untuk cuap-cuap, tapi dibuktikan dalam sikap.

Salam hormat buat Bang Karni, karena kita yakin beliau jauh lebih mengerti bahwa 64 juta suara yang tidak memilih Pak Jokowi tidak harus terus dikompori untuk membenci, karena kebencian yang terpatri akan menjadi dendam, dan akhirnya mereka akan menjadi asing dinegeri sendiri.

Saat itulah bila ditanya apakah dia orang Indonesia, tatapannya kosong, jawabannya lirih. Emang Indonesia disebelah mananya Jakarta, karena saat itu telapak kakinya mengambang tidak menjejak ketanah airnya, saat itulah mereka gamang senagai bangsa, bahkan mungkin sebagai manusia Indonesia.

Saya yakin hal itu tidak terjadi kalau Bang Karni berhenti menanggapi Rocky dan Ridwan Saidi, akan lebih baik acara tak bergizi itu diakhiri, karena mudhorotnya lebih besar dari manfaatnya.

***