Sindrom Ratu Adil yang Akut

Kita akan terus begitu, ketika kita kecewa ternyata Jokowi bukanlah satrio piningit. Karena tak sesuai dengan tingginya harapan kita. Kita akan menantikan ratu adil berikutnya.

Kamis, 5 Agustus 2021 | 07:27 WIB
0
111
Sindrom Ratu Adil yang Akut
Ilustrasi perempuan (Foto: Kompasiana.com)

Salah satu ironi terparah (dan mungkin terbesar) dari bangsa ini adalah apa yang disebut "anugrah yang jadi musibah". Kita dikarunia kekayaan alam yang melimpah, keragaman budaya yang kaya nan indah, dan barangkali ribuan warisan pekerti yang baik dari leluhur. Tapi semuanya tiba-tiba, tak berarti sama sekali.

Kita selalu mudah terpukau apa yang "bukan milik kita". Sekian lama, terbuai oleh kemodernan yang sesungguhnya tak selalu cocok. Dan belakangan, dijerat oleh keyakinan asing yang diperdagangkan secara sistemik dan masif.

Hingga sesungguhnya tak ada lagi yang tersisa. Kalau pun, kita merasa masih. Tapi sesungguhnya tak lagi dalam genggaman. Kita hanya apa yang dalam kultur Jawa "melu nduweni, ning sakjane ora duwe babar blas". Merasa memiliki, tapi sebenarnya tak memiliki apa-apa. Menjelaskan kenapa bahkan kelompok mayoritas itu selalu merasa dirinya sebagai paling teraniaya. Mayoritas yang mampat, seperti toilet yang tersumbat!

Karena itulah, selama nyaris beratus tahun kondisi bangsa ini tak berubah banyak. Dari waktu ke waktu kita masih saja merindukan datangnya "Ratu Adil". Sesuatu yang kadang dimaknai sebagai pemimpin yang amanah, adil, dan bijaksana. Dulu adalah mimpi terhadap lahirnya raja baru, kemudian pada dinasti baru. Ketika zaman menjadi lebih egaliter berharap demokrasi melahirkan pemimpin yang bisa dipilih secara langsung. Semua meleset, hingga harapan itu bertumpu pada seorang "satria piningit".

Sebuah alegori yang absurd, karena begitu kita salah kita akan dengan ringan bilang berarti tebakan kita meleset. Ia masih belum lagi dilepas dari pingitannya. Begitu terus entah sampai kapan....

Dan bila diperluas, Ratu Adil bisa dianggap sebuah jalan pintas, atau yang hari-hari ini dipahami sebagai "short-cut" dalam menghadapi kepengapan hidup yang dari waktu ke waktu memang bukannya sembuh. Tapi justru karena pilihan kita adalah modernisasi. Maka kita terjebak pada sifat dasarnya yang rakus, arogan, dan keji. Modernisasi yang selalu punya watak memukau yang sekaligus menipu. Seolah memudahkan dan cuma-cuma, tapi sekaligus menyandera dan menyita.

Ratu Adil karenanya, bisa dimaknai juga sebagai Kanjeng Nyai Ratu Kidul yang walau sejak awal dicitrakan sebagai tidak bersifat sinterklas. Ia kemudian dianggap pelindung dari nasib buruk. Beda dengan saudaranya Nyi Blorong, yang bisa memberikan janji kekayaan dengan "ketentuan dan syarat berlaku".

Ratu Adil, karenanya kemudian menjelma pada harapan-harapan pada perubahan nasib. Ia bisa berbentuk panen raya, hujan emas, lotere, undian berhadiah, yang ujungnya adalah segala bentuk spekualsi dan perjudian.

Bahkan yang belakangan hadir dalam bentuknya yang paling menyedihkan adalah adanya subsidi, beasiswa, undangan tanpa test, bantuan tunai, dst dst-nya....

Dalam konteks inilah, saya tak ingin menyalahkan banyak pihak yang dengan enteng tanpa kebeningan hati apalagi kejernihan jiwa menyambut dengan gegap gempita adanya rumor sumbangan 2 T dari seorang pengusaha di Sumatera Selatan. Sungguh, walau pun saya sangat meragukan, tidak percaya sedikit pun. Di dalam hati kecil terdalam saya, tetap berharap hal itu terwujud. Apa lacur, tebakan saya benar!

Lepas dari kerumitan yang bakal terjadi, bila hal bombastis itu bisa terwujud. Hal tersebut sesuai dengan mata hati saya ternyata baru bersifat karep, krenteg, rencana, atau kalau dalam bahasa spiritual disebut "niat". Keinginan, dia hanya baru ingin...

Di sinilah, saya setuju dengan banyak yang berpendapat mosok sebuah karep, keinginan, niat bisa dipidanakan!

Kalau benar, ia dipidanakan semestinya orang-orang yang selama ini mem-blow-up nya sedemikian rupa khususnya para selebritis media sosial itu juga harus ikut bertanggung jawab. Bukankah mereka adalah aktor sesungguhnya, yang melakukan penyebaran kabar bohong.

Mereka ini yang setiap hari tanpa lelah mengabarkan cerita sukses, yang sesungguhnya kemasan menutupi banyak kebohongan di sana-sini. Menelisik sana-sini mencari bukti, tapi sesungguhnya hanya menumpang nama pada fenomena ini. Bagi saya mereka ini penjahat sesungguhnya...

Bijaknya sederet nama seperti EB, DI, DS, HY, dst dst itu juga dipidanakan. Mereka adalah produsen sejenis gosip, rumor atau hard-news yang melulu berorientasi rating, viewer, atau apa pun yang dianggap ukuran keberhasilan secara popularity yang ujung-ujungnya tetap saja adalah hal-hal yang materialistik dan hegemonik.

Mereka-mereka ini, selalu sombong dengan sukses masa lalunya. Seolah-olah sukses itu adalah deret hitung dan tidak memiliki nilai "deminishing return to scale" di dalamnya. Bahwa sukses itu juga mengenal surut, susut, menurun bahkan lenyap tak berbekas.

Kalau tidak, ia hanya mengulang nasib buruk Ratna Sarumpaet. Ketika ia membohongi publik, lalu dibela sedemikian rupa. Tapi ketika ia terbukti dan didakwa, para pembela yang memaknai dirinya sendiri itu "sebagai yang mulia": cuci tangannya bersih sekali. Sial, sebagian dari mereka pada akhirnya atas nama stabilitas politik, kemudian diberi kekuasaan besar. Bagaimana mungkin, mereka ini pembohong, penipu, manipulator, karakter buruk seperti ini kok diberi bagian kuasa.

Bagian terburuknya kita tak menganggap ini suatu masalah! Ketika ada yang mempermaslahkannya lalu dianggap sebagai wong sing owah, orang yang tak punya kesetiaan dan loyalitas! Duh duh...

Bagi saya ini sebuah penjelasan sederhana, kenapa kita bisa carut marut sedemikian rupa. Kita menumpang kapal, dengan nakhoda yang barangkali cukup baik dan jujur. Tapi dengan banyak kelasi yang berwatak maling, penipu, penyuap. Dengan banyak penumpang gelap dengan belati di punggung. Siap menghunus kapan saja. Begitu, kita sebagai warga biasa berharap segera bisa keluar dari kemelut ini. Kekecewaan yang tak kunjung terobati seperti inilah, yang akan terus melahirkan kerinduan datangnya Ratu Adil.

Kita akan terus begitu, ketika kita kecewa ternyata Jokowi bukanlah satrio piningit. Karena tak sesuai dengan tingginya harapan kita. Kita akan menantikan ratu adil berikutnya. Begitu terus, hingga kita mati. Tapi terus mewariskan watak buruk itu kepada anak cucu kita. Tersebab apa?

Jawabannya sederhana: gagal menahan diri di satu sisi, terlalu tinggi berharap di sisi lain. Dalam bahasa hari ini: gak mau nginjek rem, maunya ngegas terus....

NB: Dalam budaya Jawa itu ada dua tahapan besar ketika kita berada pada satu titik saat harus mengambil suatu keputusan. Pada awalnya "milah dan milih", lalu pada akhirnya "malih atau meleh". Sebelum kita mengambil putusan, tentu kita berani memilah. Hal mana yang paling baik dan tepat untuk kita. Hingga kita menentukan suatu pilihan dengan cara memilih.

Tapi apakah pilihan itu kita selalu tepat? 90% pasti mengandung kesalahan, 10% kalau tepat atau benar itu sifatnya hanya keberuntungan. Walau kita juga harus sadar bahwa keberuntungan juga bisa kedaluwarsa dan habis. Karena itu, kita harus berani malih atau berubah.

Di sini saya selalu setuju pada guru saya, Prof. Rhenald Kasali bahwa DNA kita sebenarnya harusnya perubahan. Sebab satu-satunya yang abadi hanya perubahan.

Lah, bagi yang gak berani malih? Biasanya akan meleh-ne, menyalahkan orang lain. Dalam bahasa hari ini "denial", menyangkal kelemahan dirinya dan memilih menyalahkan orang lain. Itulah yang akan dilakukan oleh mereka yang mula-mula mengagung-agungkan Akidi Tio, dan kemudian mereka yang terlibat dalam euforia sumbangan 2 T.

Saya memilih untuk tidak ikut-ikutan meleh-ne. Hanya berharap mereka sedikit punya rasa malu, dan tidak mudah jatuh jadi kaum gumunan!

***