Prabowo Memilih Menelanjangi Diri di Mata Media Asing

Tidak hanya pers tetapi juga dunia akan melihat sendiri apakah pemimpin masa depan yang dipercaya bangsa ini memiliki sikap kekanak-kanakan atau sebaliknya.

Kamis, 9 Mei 2019 | 21:15 WIB
0
1319
Prabowo Memilih Menelanjangi Diri di Mata Media Asing
Prabowo dan media asing (Foto: Merdeka.com)

Credibility is a basic survival tool - Rebecca Solnit.

Kredibilitas yang digambarkan oleh penulis Amerika Serikat dalam pernyataannya ini merupakan syarat utama yang harus dimiliki seseorang atau institusi dalam lingkup lebih luas sebagai pijakan dasar untuk bertahan dalam berbagai persaingan.

Kata kredibilitas ini yang sempat mengusik saya ketika melihat kegusaran calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto terhadap media nasional soal pemberitaan mengenai diri maupun kubunya yang dinilai menjatuhkannya. Sempat timbul pertanyaan di dalam benak saya sebagai mantan wartawan: "Siapa sebenarnya yang tidak berkredibilitas?"

Saya tidak berupaya menjawab pertanyaan tersebut, tetapi lebih ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi antara Prabowo dan media nasional. Tidak hanya sekali saja Prabowo mengungkapkan kekesalannya kepada media nasional yang dinilai tidak berpihak kepada dirinya.

Seperti pada Pilpres tahun 2014, Prabowo menolak untuk diwawancarai oleh jurnalis harian The Jakarta Post yang dinilainya partisan karena menyuarakan endorsemen kepada kubu Joko Widodo yang saat itu untuk pertama kalinya mencalonkan diri sebagai presiden Indonesia.

Sementara Prabowo saat itu memilih untuk sujud syukur setelah media yang berpihak kepadanya mengeluarkan data quick count yang salah dimana data menunjukkan kemenangan pada kubu Prabowo saat itu. Peristiwa sujud syukur itu bahkan berulang pada Pilpres tahun ini.

Pada Pilpres 2019, kubu Prabowo secara terbuka menjelaskan tindakannya memboikot Metro TV yang dinilai cenderung tidak berimbang dan tendensius dalam pemberitaannya.

Pada hari Buruh 1 Mei tahun ini, Prabowo secara terbuka memperingatkan media agar berhati-hati. Prabowo juga mengaku pihaknya mencatat kelakuan media yang mencoba mendikte kubunya.

Tidak heran apabila Prabowo akhirnya mengadakan pertemuan terbatas hanya dengan media asing setelah beberapa kali mengungkapkan kekesalan dan ketidakpercayaannya terhadap media nasional. Dalam pertemuan tertutup hanya untuk perwakilan media asing di kediaman Kertanegara IV, Kebayoran Baru, pada 6 Mei 2019, Prabowo mengungkapkan soal kondisi Pemilu 2019 dan indikasi kecurangan.

Prabowo seakan lupa bahwa media asing lebih kritis dan transparan dalam pemberitaan mereka terhadap berbagai isu hangat yang berlangsung di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Sikap ini telah ditunjukkan media asing secara jelas dengan mempertontonkan kebobrokan pemerintahan Orde Baru saat kebebasan pers Indonesia dibelenggu oleh rezim Orde Baru di bawah kepimpinan mantan presiden Soeharto yang juga merupakan mantan mertua Prabowo.

Media asing seperti The Australian menyebut sujud syukur Prabowo dalam klaim sepihak kemenangan di Pilpres 2019 dalam judul artikel yang terkesan melecehkan - “Loser Prabowo claims victory on Indonesia.” Dalam satu kutipannya, Bloomberg menulis bahwa Prabowo dipandang sebagai capres yang mendapatkan dukungan dari kalangan konservatif Muslim walaupun dia sendiri sebenarnya dianggap tokoh yang tidak sangat religius.

Saya secara pribadi setuju dengan pandangan Prabowo bahwa media yang berkredibilitas adalah media yang menyampaikan berita dengan data akurat, berimbang dan tidak partisan. Tetapi, bagaimana sikap Prabowo dengan media yang memilih berpihak kepadanya maupun lembaga survei pendukungnya yang sampai saat ini dipertanyakan akurasi datanya termasuk cara mereka mengumpulkan data?

Baca Juga: Apa yang Diharapkan Prabowo dengan Curhat Kecurangan ke Awak Media Asing?

Saya yakin Prabowo seharusnya mengetahui apabila kredibilitas dari media maupun lembaga survei akan terlihat dari pengumpulan data yang valid dan akurasi data yang dihasilkan. Selain itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan didukung oleh TNI maupun Polri telah memberikan akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk melaporkan berbagai jenis kecurangan yang terjadi di lapangan atau upaya apapun dalam manipulasi suara selama dapat menunjukkan buktinya.

Kita juga harus terbuka untuk mengakui Pilpres tahun ini yang sangat melelahkan dan telah menelan korban jiwa lebih dari 500 orang, baik dari pihak KPU, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) maupun personel Polri tidak lepas dari kecurangan di lapangan. Namun, kita harus sadar bahwa ada validasi yang tetap masih dapat dipertahankan secara ilmiah dan disaksikan oleh kedua kubu untuk mendapatkan hasil pemilu yang jujur dan adil berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.

Lalu, apa seharusnya menjadi renungan bagi kita bersama terhadap calon pemimpin yang tidak terpilih Pilpres tahun ini ataupun dalam pesta demokrasi mendatang?

Ketangguhan seorang pemimpin tidak ditunjukkan oleh sikap emosi yang meledak-ledak dan sikap agresif, tetapi yang jauh lebih terpenting dari itu adalah menerima apapun getirnya kenyataan dan kebenaran yang diguratkan oleh media berkredibilitas.

Jangan lupa, pahitnya kenyataan yang dihadapi merupakan ujian kedewasaan yang harus dihadapi oleh seorang pemimpin, apapun permasalahannya. Ini karena pemimpin yang berjiwa ksatria mengerti betul bahwa masalah apapun yang dihadapi dapat menjadi pengalaman manis di bawah kepimpinannya.

Dengan demikian, tidak hanya pers tetapi juga dunia akan melihat sendiri apakah pemimpin masa depan yang dipercaya bangsa ini memiliki sikap kekanak-kanakan atau sebaliknya - telah teruji kedewasaan dan kredibilitasnya karena lebih menggunakan akal sehat ketimbang terperosok dan terjebak dalam kubangan emosi tak berujung.

***