Rom, Kowe Durung Lulus Sugih!

Sabtu, 16 Maret 2019 | 09:49 WIB
0
482
Rom, Kowe Durung Lulus Sugih!
Romahurmuziy (Foto: Facebook/Andisetiono)

Sesore sepulang kantor, istri saya judeg, muring-muring, marah-marah sendiri gak karuan saat mendengar Romy ditangkap. Wajar, walaupun tidak seideologi, ia adalah adik kelasnya. Nyaris ia adalah adik kelas istri saya di sekolah terbaik, SMP N V dan SMA N 1 Teladan Yogyakarta, dan lalu melanjutkan kuliah bahkan sampai Magister di ITB Bandung.

Secara bobot, ia mustinya memiliki bekal yang jauh lebih baik dari para politisi, yang rata-rata, maaf, sering berpendidikan jalanan dan antah berantah.

Apalagi secara "bibit",  ia juga baik dan terhormat: anak dari KH Prof Dr M. Tolchah Mansoer, SH yang merupakan pendiri IPNU (Ikatan Pelajar NU), anggota DPR-GR mewakili Partai NU DIY zaman Orde Lama dan Rois Syuriah PBNU 1984-1986.

Romy juga cucu Menteri Agama ketujuh RI KH. Muhammad Wahib Wahab. Ia memberikan banyak harapan, di samping karena relatif masih sangat muda (kelahiran Jogja, 1974), juga memberikan angin segar pada semangat Islam yang lebih ramah dan rahmatan lil alamin.

Sekalipun sangat banyak "musuh"-nya, namun setidaknya ia mampu bersikap populis, gaul, dan walau saya pribadi sangat membencinya: berani bergaya milineal. Agak aneh, bila dilihat realitasnya bahwa partai yang dipimpinnya adalah satu tersisa dari era Orde Baru yang paling berantakan dan terceral berai.

Partai yang dipimpinnya bukan saja terkategori sukar maju, namun juga pecah berantakan. Bukan saja terberai menjadi partai-partai baru, tapi juga konflik internal yang terjadi di dalamnya.

Di Jogja saja, ada fenomena aneh dan agak absurd menurut saya. PPP menjadi satu-satunya partai yang sedemikian terbuka terbelah mendukung dua kubu yang berbeda. Perpecahan ini, bukan saja hanya saling berebut massa tapi juga sampai "perang lapangan" memperebutkan bangunan kantor.

Laskar-laskar yang mereka miliki juga tak jarang berbenturan sendiri, dan masing-masing memasang spanduk-spanduk aneh yang hanya kalangan mereka yang paham dan mengerti.  Semisal: Kosongkan Gerbong, Satu Komando, Ikuti Perintah Ulama.

Kita sulit tahu makna sebenarnya apa, kalau bukan orang dalam!

Dalam perseteruan itulah, Romy harus memimpin partai yang mendaku ingin menjadi "Rumah Besar Umat Islam" ini. Dan dalam keseharian ia tampak santai sekali. Dalam beberapa kali forum reunian, ia masih main ketoprak plesetan, jenis pertunjukan rakyat yang menurut saya gak mutu babar blas, kecuali guyonan yang gak maton sama sekali. Tapi toh ia lakoni.

Kali lain, ia masih enjoy ngeband dengan teman-teman seangkatannya. Menunjukkan bahwa ia mau hadir di forum mana saja, tanpa batasan, tanpa sekat yang terkadang mengkerakap figur-figur pemimpin partai yang terafliasi dengan Islam. Gaya bermain dengan banyak kaki inilah, yang rupanya kemudian justru jadi masalahnya.

Sebagai generasi muda yang suka tidak suka terpengaruh gaya milineal, ia menjadi over confidence. Terlalu pede. Beberapa waktu yang lalu, setelah berhasil memenangkan gugatan yang mensahkan dirinya jadi Ketua Umum PPP, mengalahkan kalau gak salah Djan Faridz, ia memasang banyak baliho raksasa di nyaris setiap sudit kota Jogja: Romahurmuziy "Untuk1ndonesia". Kewanen, terlalu berani...

Tujuannya jelas, ia menawarkan diri kepada Jokowi untuk memilihnya menjadi Cawapres. Satu hal yang hari ini justru menjadi "olok-olok" Mahfud MD yang menganggap Romy kena batunya. MMD menganggap Rommy sebagai orang yang "membohonginya" karena telah sedemikian rupa manipulatif meyakinkan bahwa ia telah fix jadi cawapres Jokowi.

Kalau ditilik secara etika, sebenarnya rasan-rasan seperti ini menyebalkan sekali, sejenis obrolan warung kopi atau debat kusir gardu ronda. Yang semestinya untuk sekelas keduanya tak perlu diumbar ke hadapan publik. Tersebab itu, saya selalu mempertanyakan kualitas kenegarawanan dari beliau, yang sialnya sedemikian banyak menjagokannya sebagai pengganti Jokowi kelak!

Syarat pertama pemimpin negara itu pertama-tama harus bisa menahan diri dan berendah hati!

Bolehlah ia pandai dalam bersosial media, main twitteran. Tapi itu sama sekali bukan syarat pokok jadi pemimpin bangsa. Dan Romy itu sial betul, alih-alih ia terlibat kasus besar atau monumental. Ia terjerat kasus skala jual beli jabatan, yang bisa diperas lagi menjadi makelar jabatan di tingkat kementrian, dan tertangkap di kota kecil seperti Sidoardjo. Sesuatu yang tidak nyambung sama sekali dengan posisinya sebagai hanya orang partai, ia tak punya kuasa apa pun dalam birokrasi.

Salahkah bila publik (minimal kami, suami istri), lalu bertanya ada apa ini? Bahwa KPK itu suka tebang pilih, itu bukan rahasia umum lagi. Tapi di saat, nyaris semua orang partai lagi getol-getol cari duit untuk "membeli suara rakyat".

Kenapa harus Romy? Yang berarti bahwa ini untuk kedua kalinya, pemimpin partai muda terjerat kasus sejenis setelah dulu Anas Urbaningrum. Apakah anak-anak muda kita sedemikian brengseknya?

Bagi orang Jogja ada istilah yang cocok memahami orang-orang yang gagal ketika dirinya semestinya masih berumur panjang dalam karirnya (apapun itu). Ia dikatakan sebagai "durung lulus sugih". Ia belum lolos teruji dan terbukti sebagai "orang kaya". Orang yang lulus sugih, itu mustinya setelah menjadi berada lalu kembali hidup sederhana dan rendah hati.

Suatu kali ia mau merendahkan diri berpakain anak wayang dan main dagelan. Tapi kali lain ia pongah naik motor gede. Lupakah ia? Motor gede itu malati? Selalu membuat sial bagi para politisi?

Ia tidak peka, bahwa menjadi anak wayang itu bukan sekedar dagelan. Ia sekaligus lupa motor gede buatan Amerika itu hanya cocok buat "para alien" yang bebas merdeka, bukan para pemangku kesalehan dan penjaga umat....

Ia sedang lupa dan tak waspada, tapi kalau melihat bobot, bibit, bebet-nya ia tidak akan mudah terluka. Ia akan tafakur dan belajar dari kesalahannya.

Saya malah prihatin, untuk istriku Fitri Setiono yang sedemikian mudah gusar oleh adik kelasnya itu.

***