Salman Rushdie dan Ujian Relativisme Budaya

Dalam bahasa sederhana, kedamaian tercipta jika kebebasan berpikir menyisakan sedikit penghormatan terhadap Relativisme Budaya yang dianut bangsa-bangsa berbeda.

Rabu, 17 Agustus 2022 | 08:39 WIB
0
73
Salman Rushdie dan Ujian Relativisme Budaya
Salman Rushdie (Foto: Pennlive.com)

Ia berasal dari Fairview, New Jersey, pemuda berusia 24 tahun kelahiran California itu sengaja membeli tiket untuk menghadiri diskusi genre sastra di lembaga Chataqua di New York, Jumat 12 Agustus 2022 lalu.

Pemuda berkebangsaan Amerika Serikat yang mengenakan jaket hitam dan bermaker putih itu mengikuti rangkaian acara dari awal. 

Ketika pembawa acara memperkenalkan pembicara kunci di diskusi tersebut, pemuda itu langsung naik ke atas panggung dan secepat kilat menusukkan pisau yang dibawanya ke beberapa bagian tubuh pembicara kunci tersebut, bahkan pisau itu menyayat leher dan mata korban.

Lima belas tusukan sempat bersarang di tubuh korban berusia 75 tahun sebelum si pemuda diringkus petugas keamanan.

Berita penusukan sekaligus percobaan pembunuhan itu sontak menggegerkan dunia dan menjadi berita utama media-media massa ternama berbagai negara, tentu disertai analisa dan latar belakang peristiwa itu.

Pemuda penusuk itu bernama Hadi Matar, sedangkan korban yang ditusuk berkali-kali dan berusaha dibunuhnya itu novelis Inggris bernama Salman Rushdie. Novelis satir berdarah India ini pernah menggegerkan dunia tahun tiga dekade lalu, persisnya tahun 1988, ketika novel yang ditulisnya, "The Satanic Verses", menjadi perbincangan dunia.

Menjadi pergunjingan karena isi novel itu dianggap menghina secara vulgar agama Islam dengan menggambarkan sosok nabi dan para istrinya sebagai tokoh dalam novel satir itu. Pemimpin Iran Ayatollah Khomeini kemudian "menghukum mati" dengan menghargai kepala Rushdie senilai 3 juta dollar AS. 

Sejak saat itu Rushdie "menghilang" untuk menyelamatkan diri dari ancaman pembunuhan, tetapi novel yang ditulisnya itu semakin laku terjual di seluruh dunia, termasuk usai terjadinya insiden penusukan yang dilakukan Matar. Amazon mencatat "The Satanic Verses" sebagai buku "best seller" bergenre novel satir.

Penusukan brutal itu tidak sampai merenggut nyawa Rushdie yang langsung diterbangkan ke sebuah rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif di Amerika Serikat, namun sejumlah organ tubuh Rushdie mengalami kerusakan serius, termasuk mata dan hatinya.

Belakangan diketahui, Matar merupakan salah seorang simpatisan gerakan ekstrimisme Syiah di Iran yang sering mengunggah tentang dukungannya terhadap gerakan itu melalui akun Instagramnya.

Matar yang keturunan Lebanon dan berimigrasi dari Yaroun, sebuah desa di Lebanon Selatan kemudian mengatakan bahwa Rushdie lewat novelnya berjudul "The Satanic Verses" atau Ayat-ayat Setan itu jelas sebagai penghinaan terhadap agama Islam dan masyarakat Muslim. 

Saat Ayat-ayat Setan mengguncang dunia, Matar diperkirakan masih berusia 10 tahunan. Namun demikian, Matar yang disebut-sebut sebagai simpatisan ekstrimis Syiah dan pendukung Garda Revolusi Iran itu mengisi kepalanya dengan berbagai pengetahuan tentang kontroversi Rushdie.

Ancaman pemimpin tertinggi Iran kala itu benar-benar menjadi kenyataan. Bukan saja kepala Rushdie terancam dipisahkan paksa dari tempatnya, empat penerjemah Ayat-ayat Setan berbagai bahasa dan kebangsaan tewas atas setidak-tidaknya mengalami kekerasan fisik.

Ettore Capriolo, penerjemah Italia, dipukul dan diserang menggunakan pisau di Milan pada 3 Juli 1991. Akibat serangan itu, Capriolo terluka pada bagian leher, dada, dan tangan, sedangkan pelaku penyerangan berhasil kabur. 

Hitoshi Igarashi, penerjemah lainnya ditusuk hingga tewas di Universitas Tsukuba, Tokyo, pada 12 Juli 1991 silam. Kemudian William Nygaard, penerbit Ayat-ayat Setan di Norwegia, ditembak tiga kali pada 11 Oktober 1993. Nygaard selamat dari penembakan, tetapi pelakunya tak pernah tertangkap.

Terakhir Aziz Nesin yang juga menjadi salah satu korban penyerangan akibat mempublikasikan kutipan buku Ayat-ayat Setan di media Turki. Pada 1993, militan Islam membakar sebuah hotel di Turki untuk membunuh Nesin. Ia selamat dari kebakaran itu, tetapi 37 orang lainnya tewas.

Ujian atas Kebebasan

Dengan mencuatnya kembali debat tentang Ayat-ayat Setan dengan segenap kontroversi dari sisi isi maupun penulisnya, mau tidak mau orang berpikir tentang hakekat kebebasan berpikir yang menjadi kekayaan paling berharga dari setiap manusia yang lahir ke dunia.

Bagi para pembela Rushdie, "The Satanic Verses" tak lebih dari kreasi dan karya berpikir manusia dalam rupa cerita khayali, karenanya harus dihormati Menjadi kontroversi ketika secara sengaja Rushdie mempersonifikasikan para tokoh-tokoh dalam novel itu yang dilihat dari kacamata Muslim adalah penggambaran Nabi Muhammad yang sangat dihormati, demikian pula keluarga Nabi dan para istrnya. 

Tidak ada kata yang lebih tepat dari kacamata Muslim untuk menggambarkan penghinaan dan pelecehan luar biasa Rushdie kepada agama Islam sebagai kebrutalan pemikiran yang luar biasa.

Kebebasan selalu menemukan lawannya, yaitu ketidakbebasan. Kebebasan sesungguhnya dibatasi oleh ketidakbebasan itu sendiri. Rumus ini berlaku di mana saja, termasuk di dunia Barat.

Apakah alam pemikiran Barat bisa menerima kebebasan berpikir dan berpendapat ketika pemimpin Iran lainnya, Mahmud Ahmadinejad mengatakan bahwa pembantaian terhadap Yahudi itu sebagai fiksi, ilusi yang tak pernah terjadi? Ternyata tidak. Pendapat Ahmadinejad itu memicu kemarahan luar biasa kaum sekuler Barat.

Bukan bermaksud mengatakan bahwa apa yang dilakukan Khomeini, Ahmadinejad atau Matar sebagai tindakan kebenaran atau sebuah tindakan yang dianggap benar, sebagai terusiknya sakralitas alam pemikiran Muslim atas penginaan Rushdie lewat Ayat-ayat Setan-nya. Akan tetapi pesan yang harus ditangkap adalah, mengapa harus melakukan penghinaan atas nama agama dan keyakinan liyan?

Emile Durkheim pernah mengatakan bahwa agama dan keyakinan -apapun agama itu- merupakan fakta sosial, bukan hanya sekadar realitas sosial sebagaimana termaktub dalam buku karya K.J. Veeger. Islam salah satu agama, bahkan termasuk agama paling berpengaruh di dunia yang dianut miliaran penduduk.

Apakah kaum terdidik dan para filsuf yang hidup di alam pemikiran yang bebas itu bisa menerima kebebasan berpikir dan berkaryanya Rushdie? 

Sekadar mengingatkan, filosofi "Relativisme Budaya" itu berasal dari pemikiran Barat, sebagaimana tertuang dalam buku yang ditulis Bertens, di mana budaya yang satu belum tentu benar dilihat budaya yang lain. Sebaliknya, budaya yang satu belum tentu salah di mata budaya itu sendiri.

Jika memaksakan kebenaran dan ketidakbenaran menurut versinya sendiri-sendiri, niscaya tidak akan ada kedamaian dan perdamaian dunia ini. Masing-masing budaya (termasuk agama) ngotot dengan kebenaran versinya sendiri-sendiri.

Mengembangkan saling pengertian dan saling menghormati sakralitas keyakinan adalah kunci memahami Relativisme Budaya itu. Dalam konteks ini, Rushdie adalah salah seorang penulis yang abai (atau sengaja mengabaikan diri) terhadap kenyataan Relativisme Budaya yang berkembang dalam masyarakat di manapun mereka mukim. 

Niscaya, "The Satanic Verses" itu tidak akan menjadi "best seller" jika karakter atau tokoh-tokoh dalam novel itu tidak menggambarkan kehidupan Nabi Muhammad dan keluarganya yang demikian dihormati Muslim. Rushdie bukan orang bodoh, ia tentu berpikir soal materi saat menulis novel itu dan secara sadar memainkan unsur penghinaan keyakinan orang lain.

Di sini bisa saja muncul anggapan, Rushdie menulis novel itu bukan dengan motif utama kebebasan berpikir, melainkan semata-mata motif ekonomi dan dagang, yakni bagaimana novel itu bisa laris terjual dan menjadikan penulisnya terkenal serta kaya raya.

Rushdie sesungguhnya telah mendapatkan keduanya, meski dengan sisa hidupnya yang masih dan akan terus terancam.

Tindakan kekerasan apalagi dengan niat pembunuhan adalah perbuatan yang harus dikutuk, bahkan dilawan. Tetapi, memahami Relativisme Budaya bagi orang-orang terpelajar seperti Rushdie juga penting untuk menjaga keselarasan bahwa masing-masing manusia hidup dalam alam relativisme yang berbeda.

Dalam bahasa sederhana, kedamaian tercipta jika kebebasan berpikir menyisakan sedikit penghormatan terhadap Relativisme Budaya yang dianut bangsa-bangsa berbeda.

Takkan ada asap jika api tidak dinyalakan.

***