Ratu Elizabeth II

Elizabeth menjadi saksi kemenangan Churchil melawan Hitler dan ia kemudian naik tahta 6 Februari 1952.

Sabtu, 10 September 2022 | 06:25 WIB
0
33
Ratu Elizabeth II
Elizabeth II (Foto: facebook.com)

Dia yang tak pernah mau menjadikan dirinya Ratu, sebagai raja Inggris sepenuhnya adalah tugas dan tanggung jawabnya sebagai warga negara. Ketidak inginan Elizabeth menjadi ratu terkuak ketika ia marah pada Pamannya yang meninggalkan jabatan Raja sebagai Edward VIII karena seorang Janda dan menjadikan adiknya George VI ayah dari Elizabeth II. 

Elizabeth adalah saksi dari sebuah jaman, ia lahir di masa damai Eropa tak lama setelah Inggris memenangkan Perang Dunia Pertama, kemudian ia besar saat NAZI berhasil membungkam lebih dari separuh Eropa dan menyerang kepulauan Inggris dengan Pesawat-pesawat tempurnya. Elizaberth tumbuh dewasa dalam hujan bom di London dan dia tidak mengungsi ke tempat yang aman ia memutuskan bersama warga London menghadapi Inggris, Elizabeth bertugas menjadi perawat dan petugas ambulans untuk menolong warga Inggris yang terluka. Lagi-lagi hal ini ia lakukan karena tugas dan tanggung jawab sebagai warga negara Inggris. 

Elizabeth menjadi saksi kemenangan Churchil melawan Hitler dan ia kemudian naik tahta 6 Februari 1952.

Sepanjang masa berkuasanya Inggris mengalami masa perdamaian yang penuh kemakmuran walaupun jajahan di negara kolonial-nya hampir 70% lepas dari genggaman. Belum pernah Inggris mengalami masa damai yang sebegitu panjang kecuali di masa Elizabeth II walaupun sebelumnya juga pernah mengalami masa-masa dimana Ratu Victoria juga berkuasa sangat panjang tapi dilalui banyak peperangan di tanah jajahan dan terkenal dengan peradaban 'Era Victorian' dimasa Elizabeth bukan peradaban yang terbangun tapi era Elizabeth II adalah era media. Sebuah era yang tidak dikenal sebelumnya bagi kerajaan Inggris. 

Elizabeth hidup di mana media begitu ramai menyoroti hal-hal yang tak penting termasuk kehidupan anggota utama kerajaan Inggris. Tapi anehnya media tak pernah menjadikan Elizabeth sebagai bintang utama di era 1950-1960-an yang jadi bintang media justru adiknya Puteri Margareth dan pamannya Louis Mountbatten, di masa Elizabeth II mulai berumur bintang media di 1980-1990 an adalah anaknya Pangeran Charles dan menantunya Lady Diana. 

Lady Diana adalah batu sandungan bagi Elizabeth II yang ingin keluarganya utuh dan kuat. Ia juga menginginkan Lady Di menjadi Ratu Inggris mendampingi Pangeran Charles kelak sesuatu yang seharusnya terjadi hari ini. Tapi takdir berkata lain, Lady Di hidup penuh kegalauan, rasa cemburu yang besar pada Charles dan ketidakpastian masa depan. Hidup dalam sorotan media yang luar biasa tentunya tak mudah bagi Lady Di.

Akhirnya Lady Di berakhir tragis mati di ujung terowongan dalam sebuah kecelakaan lalu lintas dengan papparazi. Lady Di mati bukan hanya kiasan terbunuh oleh media, tapi ia nyata mati karena 'orang media'.

Awalnya Ratu Elizabeth II menolak pemakaman kenegaraan bagi Lady Di, tapi Perdana Menteri John Major meyakinkan Ratu Elizabeth II bahwa rakyat di depan istana Buckingham akan marah besar bila Puteri Diana tidak mendapatkan kehormatan yang seharusnya.

Berhari-hari keputusan menggantung akhirnya pemakaman 'Sang Puteri Mawar Inggris' disemayamkan dan dikuburkan dengan upacara kenegaraan yang megah seraya diiringi lagu Elton John 'Candle in the Winds' jutaan rakyat Inggris turun ke jalan dan milyaran penonton televisi di seluruh dunia menangis. 

Kepatuhan pada prosedural dan tanggung jawab pada Kerajaan Inggris adalah sikap kaku Elizabeth II, ia sangat displin memegang tanggung jawab itu.

Penolakannya pada Puteri Diana adalah karena Puteri Diana bukan lagi anggota kerajaan utama walaupun dia adalah ibu dari calon raja Inggris. Juga disiplinnya pada tanggung jawab sebagai Ratu Inggris hal yang sebenarnya ia tidak sukai tapi tanggung jawab itulah yang ia harus jalankan. 

Lalu apa impian terbesar Ratu Elizabeth II dalam hidupnya, 'ia ingin menjadi ibu rumah tangga biasa dengan suami dan anak-anak yang biasa besar di pinggiran kota London' tapi impian itu sirna karena sikap tidak bertanggung jawab pamannya Edward VIII yang mengharuskan dia menerima tahta sebagai Elizabeth II mewarisi dari ayahnya George VI. 

Tapi tugas dan tanggung jawab yang besar dari persona Elizabeth II inilah yang menjawab kenapa Kerajaan Inggris tetap kokoh sampai sekarang. 

Selamat Jalan Elizabeth II, Sang Ratu Inggris.

Anton DH Nugrahanto