Ulah Satu Orang, Hancurkan Tradisi Lebih Dari 200 Tahun

Ada pekerjaan rumah besar yang akan diletakkan ke pundak Presiden Terpilih Joe Biden yakni mengembalikan AS ke dasar negaranya, E Pluribus Unum, bermacam-macam tapi satu.

Kamis, 7 Januari 2021 | 16:13 WIB
0
390
Ulah Satu Orang, Hancurkan Tradisi Lebih Dari 200 Tahun
Pengepungan di Gedung Capitpl (Foto: kompas.com)

Pada tanggal 6 Januari 2021, Kongres AS dijadwalkan bersidang untuk mengesahkan kemenangan Joe Biden dari Partai Demokrat pada Pemilihan Presiden pada tanggal 3 November 2020. Namun, sidang itu sempat terhenti karena para pengunjuk rasa yang tidak mau mengakui kekalahan Presiden Donald Trump menerobos masuk Gedung Capitol, tempat Kongres AS bersidang.

Sidang kemudian dilanjutkan kembali, dan diharapkan kekuasaan akan berpindah ke Presiden Terpilih Joe Biden pada tanggal 20 Januari 2021.

Aksi unjuk rasa itu bermula karena Presiden Donald Trump menuduh partainya, Partai Republik, dicurangi pada Pemilihan Presiden, 3 November 2020 lalu. Namun, tuduhan tentang adanya kecurangan itu tidak disertai dengan bukti.

Harus dipahami bahwa masa pemerintahan Presiden di AS itu empat tahun. Setelah itu, ia diberikan kesempatan untuk kembali mencalonkan dirinya untuk memerintah selama satu periode lagi (empat tahun). Jika ia terpilih dan memerintah kembali selama empat tahun, ia tidak diperkenankan lagi untuk mencalonkan dirinya.

Jika saja Presiden Donald Trump cukup rendah hati untuk mau menerima kekalahannya, seperti Presiden-Presiden sebelumnya, maka segala keriuhan yang menyertai Pemilihan Presiden AS itu tidak terjadi. Presiden Donald Trump bukanlah satu-satu Presiden AS yang hanya memerintah satu periode, selama empat tahun. Sebelumnya ada Jimmy Carter dari Partai Demokrat dan George HW Bush dari Partai Republik. Dan, keduanya, menerima kekalahannya dengan baik-baik, atau di dalam bahasa Jawanya, legowo.

Namun, sikap yang sama tidak ditunjukkan oleh Donald Trump. Sesungguhnya, kita tidak perlu heran karena sikap seperti itu adalah sikap yang biasa ditunjukkan oleh seorang business man, seorang pengusaha.

Seorang pengusaha itu cenderung berorientasi pada tujuan atau hasil, mereka tidak pernah berorientasi pada cara. Dalam arti, mereka tidak mempedulikan caranya—mau baik atau tidak baik, mau salah ataupun benar—, asalkan tujuannya tercapai. Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh petinggi militer. ”Saya tidak penuli caranya seperti apa, yang penting kita menang.”

Itu sebabnya, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa apa yang tengah dilakukan oleh Donald Trump itu, menghancurkan tradisi demokrasi AS yang berusia lebih dari 200 tahun. Sikap Trump itu bisa dikatakan, ibarat pepatah, ”Panas setahun, dihapus hujan sehari.”

Trump adalah pengusaha yang sukses, sikapnya yang nyaris tanpa empati itu ditunjukkan dalam acara serial televisinya pada tahun 2004, The Apprentice. Semua peserta di-drill untuk berorientasi pada hasil. Ia memimpin serial televisinya dengan sangat arogan. Ia tidak mau menerima kegagalan. ”Kegagalan bukanlah pilihan.”

Tidak heran ketika kalah dalam Pemilihan Presiden AS, 3 November 2020, ia tidak dapat menerimanya. Ia tidak menerima dirinya menjadi orang yang kalah. Cara yang paling mudah adalah menuduh telah terjadi kecurangan. Ia tidak sadar, atau pura-pura tidak sadar, bahwa tindakannya itu dapat memicu kerusuhan. Oleh karena pendukungnya, juga akan terpancing untuk tidak ikut menerima kekalahan. Dan, itulah yang terjadi.

Menggoreng isu supremasi kulit putih

Yang memperparah adalah selama kampanyenya pada tahun 2016 dan selama memerintah (2017-2021), ia ”menggoreng” isyu supremasi kulit putih. Akibatnya, tatanan masyarakat AS yang terbuka menjadi ”terluka”. Saya masih ingat ketika saya mengikuti program Jefferson Fellowship pada tahun 1991, saya dan beberapa rekan diajak berkunjung ke surat kabar kulit hitam AS di Washington DC. Escort yang mengantar adalah seorang berkulit putih.

Baca Juga: Joe Biden di Ambang Kemenangan , tapi Trump_ ism Tetap Berjaya

Dalam pembicaraan dengan kami, pemimpin redaksi yang berkulit hitam itu menjelek-jelekkan, bahkan memaki, warga negara kulit putih AS. Saya dan beberapa rekan yang berasal dari Asia sampai merasa gerah, dan berkali-kali menengok ke escort yang mengantar untuk melihat reaksinya. Escort itu sangat santai, tidak memperlihatkan sikap bahwa ia tersinggung oleh pernyataan keras yang dilontarkan pemimpin redaksi yang berkulit hitam itu.

Ketika sudah meninggalkan surat kabar itu, saya menanyakan kepada escort itu, apakah kamu tidak tersinggung? Ia menjawab, ”Tidak itu kan pendapat dia, belum tentu semua orang berpendapat seperti dia. Namun, saya menghormati pendapat dia.”

Ada PR (pekerjaan rumah) besar yang akan diletakkan ke pundak Presiden Terpilih Joe Biden yakni mengembalikan AS ke dasar negaranya, E Pluribus Unum, bermacam-macam tapi satu. Tradisi yang dibangun secara perlahan-lahan selama lebih dari 200 tahun terlalu besar untuk dirusak oleh satu orang, dalam hal ini Presiden Donald Trump.

***