Miris Saksikan Pilkada di Saat Kita Terlibat Perang Dunia Ke-3

Apabila aturan pilkada tidak diubah, maka diprediksi pada bulan November dan Desember kita bisa-bisa akan naik ke peringkat 10 besar atau the worst condition jangan-jangan membalap India atau Brasil.

Minggu, 6 September 2020 | 15:58 WIB
0
43
Miris Saksikan Pilkada di Saat Kita Terlibat Perang Dunia Ke-3
Kapal perang AS (Foto: tribunnews.com)

Bangsa Indonesia sangat terkenal dalam kisah Perang Dunia ke-2 karena mampu merebut kemerdekaan tahun 1945 hanya dengan senjata seadanya, bahkan bambu runcing melawan Belanda yang memiliki persenjataan kuat. Modalnya semangat pantang menyerah, dan Allah memberikan kemerdekaan itu hingga kini.

Tapi di saat ini, bangsa- bangsa di dunia termasuk Indonesia, sedang terlibat dalam Perang Dunia ke-3, bukan negara melawan negara, tetapi semua negara melawan Covid-19 (Pasukan Elit G614D). 

Dari data worldometer, Amerika, Brasil, India dan Rusia adalah empat negara paling berantakan dihajar Covid-19, kini menduduki ranking-4 besar dunia yang mampu di penetrasi covid. Sementara Indonesia masih bertahan di ranking 23.

China sebagai awal pusat pandemi kini berada di ranking 38, dengan jumlah terinfeksi hingga tanggal 3 September 2020, total terpapar 85.112 orang, penambahan dalam 24 jam kasus baru hanya +10, total kematian 4,634 jiwa, penambahan meninggal dalam 24 jam "NIHIL".

Sementara Indonesia sudah lama menyalib China, pada tanggal yang sama, total terinfeksi 190.665 orang, penambahan terpapar dalam 24 jam +3.128, akumulasi meninggal 7.940 jiwa dan penambahan yang meninggal dalam 24 jam +108 jiwa.

Pulbaket Intelijen, Apa Pasukan Elit, D614G

Hasil pulbaket (persepsi intelijen); Kekuatan lawan; tak terukur. Kemampuan lawan ; Berdasarkan informasi dari Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM, dr. Gunadi, Sp.BA., Ph.D., saat ini mutasi D614G pada virus SARS-CoV-2, mempunyai daya infeksius 10 kali lebih tinggi telah tersebar hampir di seluruh pelosok dunia, yaitu 77,5 persen dari total 92.090 isolat mengandung mutasi D614G. 

Sementara di Indonesia sendiri sudah dilaporkan sebanyak 9 dari 24 isolat yang dipublikasi di GISAID mengandung mutasi D614G. “ Ini sepertiganya terdeteksi di Yogyakarta dan Jawa Tengah," ungkap Gunadi, Selasa (1/9).

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi (BRIN), Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menegaskan di Graha BNPB (2/9/2020), "Dari seluruh dunia pada dasarnya sudah sekitar 78 persen yang mengandung mutasi D614G. Jadi artinya mutasi D614G ini sudah mendominasi virus SARS CoV 2 itu sendiri," katanya.

Kerawanan Lawan ; Kehebatan Covid-19 yang bermutasi 78 persen, lebih menginfeksius, memiliki titik rawan apabila vaksin sudah selesai uji fase-3 dan diproduksi, disuntikkan le manusia, diharapkan kemampuannya dapat dinetralisir.

Vaksin Bio Farma dan Sinovac

Sejak 11 Agustus 2020, Bio Farma dan Sinovac, serta Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran melakukan kerjasama uji klinis fase-3 pembuatan vaksin covid-19. Diharapkan awal Januari 2021 menurut Ketua Tim, Prof. Kusnandi bila 540 sampel selesai diuji dan baik, vaksin akan mulai diproduksi. 

Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR RI, Senin (31/8/2020) mengungkapkan perusahaan farmasi asal China, Sinovac akan menyuplai bulk atau bahan baku vaksin sebanyak 260 juta ke Indonesia hingga akhir 2021.

Jumlah itu hanya cukup untuk memvaksinasi 130 juta penduduk Indonesia agar kebal dari virus Corona (COVID-19), sebab masing-masing orang harus divaksin sebanyak 2 kali.

"Jadi dari Sinovac ini kita berharap sekitar 260 juta dosis ini sudah bisa kita amankan karena ini nanti akan kita programkan untuk lebih kurang 130 juta masyarakat, di mana satu orangnya mereka mesti 2 dosis. Makanya 260 juta itu kalau dibagi dua hanya cukup 130 juta," katanya. (Pertanyaan penulis bagaimana dengan kekurangan sekitar 130 jutaan lagi?)

Selain itu Lembaga Eijkman juga sedang mengerjakan vaksin merah putih yang kabarnya akan selesai pada tahun 2021 dan diproduksi dengan perusahaan BUMN Kimia Farma dan Unair. Semoga uji klinis fase-3 bisa terlaksana dan cepat selesai, sukses dapat menutup kekurangan vaksin Sinovac.

Giat Politik Saat Kita Perang 

Di saat kita sedang berperang melawan musuh yang semakin ganas, giat politik yang namanya pilkada tetap berjalan dan mulai berlangsung. Gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak disepakati tetap digelar pada Desember 2020 mendatang. Pilkada 2020 tetap digelar di 270 wilayah tahun ini meski pandemi corona (COVID-19) hingga kini masih belum mereda.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) sendiri membuka pendaftaran calon kepala daerah pada 4-6 September 2020. Nantinya, masa kampanye akan dimulai pada 26 September dan pemungutan suara dilakukan pada 9 Desember 2020.

Mendagri bikin aturan, juga ketua KPU mengeluarkan aturan soal pelibatan pendukung dan larangan arak-arakan. Untuk pendaftaran pada Jumat dan Sabtu dibuka mulai 08.00 sampai dengan 16.00 waktu setempat. Sementara untuk Minggu dibuka mulai pukul 08.00 sampai 24.00 WIB. 

Terpisah, Ketua KPU Arief Budiman mengingatkan para bakal pasangan calon untuk tetap mematuhi aturan.

Salah satu aturan yang musti dipenuhi adalah terkait arak-arakan. Dia ingatkan bakal pasangan calon tidak diperbolehkan membawa pendukung yang begitu banyak untuk datang melakukan pendaftaran di kantor KPU. Hal itu karena itu akan sangat berisiko terjadinya penyebaran Covid-19.

Kita saksikan di siaran media elektronik, aturan-aturan itu ya dicuekin peserta, mereka tetap berbondong- bondong ikut mengantar jagonya. Protokol Covid diabaikan, ada tang tidsk bermasker, physical distancing dan entah kapan cuci tangan. Kalau hanya mengimbau saat ini Mendagri maupun Ketua KPU tidak dipedulikan.

Mengapa untuk pendaftaran sejak awal tidak diatur dengan on line saja? Toh kegiatan lainnya, sampai anak-anak SD saja bisa on line? Apa rasanya kurang afdol? Mestinya para calon itu kalau KPU dan didukung Mendagri serta Gugus Tugas covid buat aturan ya pastilah ikut, tapi ini aturan dilepas, ini uang penulis maksud miris! 

Sama sekali orang kita nekat dan berani mengambil resiko, atau belum terpikir? Memang bahaya covid itu tidak terlihat, beda kalau perang ada ledakan bom, baru takut. Masyarakat hanya tahu dari berita, terus tahu kalau yang sembuh banyak. Nah, kalau sudah terkena baru dan masuk ICU menyesal. Maaf, yang keliru pemerintah atau rakyat?

Kesimpulan dan Saran

Berperang melawan Covid diawali dari aturan pelibatan, penerapan dan ketegasan pemerintah. Lihat China, sebagai negara awal pusat gara-gara pandemi di Wuhan, kini sudah selesai, tidak ada data tambahan yang meninggal, tambahan terinfeksi hanya 10 orang saja. Persoalan mendasar mampu mereka atasi, yaitu meredam dan mengalahkan, bebas dari covid. Mereka kini bisa fokus ke persoalan mendandani perekonomian, seperti misalnya berdagang vaksin ke Indonesia hingga 26o juta ampul dan ke negara lain (bayangkan berapa keuntungannya).

Virus covid ini kabarnya sudah bermutasi sejak Februari lalu, makin mudah menular 10 kali lipat, walau belum banyak di Indonesia, yang jelas kita hanya menunggu waktu saja. TetapI sepertinya kita tidak waspada, tidak alert, ini bukti ilmiah yang mengerikan, karena virus terus bermutasi, cerdas agar survive di inangnya (manusia).

Pesta demokrasi pilkada bulan Desember dengan rangkaian kampanye dan segala rupa kegiatan, bila tidak diatur dan dipikir serya di tata ulang jelas akan menambah semakin banyaknya warga yang tertular covid. Rasanya tidak ada gunanya PSBB, dengan adanya Pilkada karena  pejabat kita masih berfikir normal dan aman-aman saja. Jangan beri peluang masyarakat memutuskan aturan protokol. Dibutuhkan ketegasan dalam menangani perilaku.

Apabila aturan pilkada tidak diubah, maka diprediksi pada bulan November dan Desember kita bisa-bisa akan naik ke peringkat 10 besar atau the worst condition jangan-jangan membalap India atau Brasil. 

Mendagri Tito dan Ketua Pelaksana Komite Erick Thohir harus memikirkan kondisi terburuk. Gugus Tugas mestinya jangan diam saja, physical distancing sudah dilupakan saat semangat Pilkada menggelora, vaksin itu plan A atau plan B? Coba Abang fikir. Miris, smg bermanfaat masukan prajurit tua ini.

Marsda TNI (Pur) Prayitno Wongsodidjojo Ramelan, pengamat intelijen


***