Beda Umar bin Khattab Terkait Penaklukan Yerussalem dan Mehmed II Penaklukan Hagia Sophia

Ada yang bangga dengan kejayaan masa lalu dan ingin mengulangnya kembali. Biarlah sejarah atau waktu yang akan menjawabnya dan menjadi saksinya.

Kamis, 16 Juli 2020 | 13:22 WIB
0
253
Beda Umar bin Khattab Terkait Penaklukan Yerussalem dan Mehmed II Penaklukan Hagia Sophia
Hagia Sophia (Foto: indowiata.com)

Presiden Recep Tayyib Erdogan mengubah fungsi "Hagia Sophia" yang dari sebelumnya "museum" menjadi masjid. Hagia Sohpia di era Mustafa Kemal Ataturk diubah menjadi "museum" setelah runtuhnya Ottoman Turki.

Seperti kita ketahui "Hagia Sophia" niat awalnya diperuntukkan untuk sebuah gereja Ortodoks atau katedral era kekaisaran Binzatium. Dan pada tahun 1453 di bawah Sultan Mehmed II atau al Fatih atau Sang Penakluk Hagia Sophia bisa direbut atau dijarah dan dialihfungsikan menjadi "masjid".

Lantas kemanakan umat kristiani era itu untuk ibadah atau sembahyang setelah "Hagia Sophia" berubah fungsi menjadi masjid? Ora urusan! Begitulah mungkin pikiran penguasa waktu itu. Karena sang penakluk usianya sangat muda yaitu 21 tahun.

Sifat daripada perang adalah yang kalah akan kehilangan sesuatu dan yang menang akan mendapatkan sesuatu.Yang kalah bisa kehilangan wilayah atau kekuasaan dan yang menang bisa mendapat atau memperluas wilayahnya. Itu juga berlaku dalam perebutan atau jatuhnya "Hagia Sophia" oleh Ottoman Turki atau Mehmed II.

Sekedar bercermin atau berkaca dari sejarah atau peristiwa masa lalu yaitu  jatuhnya "Yerussalem" dan waktu serah terima kepada Umar bin Khattab dari Uskup Sophronius ada kejadian atau peristiwa yang diabadikan dalam catatan sejarah. Apa itu? Ketika masuk waktu dhuhur Uskup Sophrorius mempersilakan Umar bin Khttab untuk melaksanakan sholat dhuhur di dalam Gereja Makam Kudus. Toh Yerussalem sudah dibawah kekuasaan Umar bin Khattab.

Tapi apa jawaban Umar bin Khattab ketika dipersilakan untuk melaksanakan sholat di dalam gereja yang sangat sakral bagi umat kristiani waktu itu? Umar bin Khattab menolak dengan halus, seraya memberikan alasannya mengapa ia tidak mau sholat dalam Gereja Makam Kudus.

Bukan karena akan merusak imannya atau aqidahnya kalau sholat di dalam gereja yang penuh dengan simbol-simbol, patung-patung atau gambar Yesus. Tapi Umar bin Khattab-takut: "Jika saya mendirikan salat di dalam gereja ini, saya khawatir orang-orang Islam nantinya akan menduduki gereja ini dan menjadikannya sebagai masjid," inilah alasan Umar  kenapa tidak mau sholat dalam gereja.(Murrad, 2009:96).

Timbul pertanyaan: mengapa Umar bin Khattab sampai punya pemikiran atau prasangka seperti itu kepada umat Islam, terkait ia tidak mau sholat dalam gereja? Jangan-jangan Umar bin Khattab faham betul karakter dan sifat umat Islam kalau menang perang.

Umar bin Khattab bukan tipe aji mumpung, ketika menang perang, bukan berarti tempat ibadah termasuk menjadi barang rampasan atau sitaan. Dan Umar juga tidak mengalih-fungsikan tempat ibadah yang bukan milik umat Islam atau masjid.

Lain Umar bin Khattab-lain Sultan Mehmed II atau al Fatih, bagi Umar Gereja Makam Kudus tetap berfungsi sebagai gereja dan milik umat kristiani, tapi bagi Sultan Mehmed II-menang perang berarti rumah ibadah atau gereja Hagia  Sophia menjadi hasil rampasan perang dan bebas untuk difungsikan sebagai masjid dan menjadi milik umat Islam. Sakkarepmu!

Setelah "Hagia Sophia" berubah fungsi lagi dari "museum" menjadi "masjid" dan masyarakat boleh untuk menjalankan sholat di dalamnya sejak tanggal 10 Juli 2020, sedikit ada masalah yang bisa mengganggu iman dan aqidah umat Islam. Apa itu? Inilah risikonya kalau mengalih-fungsikan gereja menjadi masjid hasil dari rampasan atau sitaan perang. Ternyata dalam langit-langit "Hagia Sophia" ada penampakan Yesus, Bunda Maria dan orang-orang suci atau santo dan masih banyak lagi gambar-gambar malaikat. Dan tentu ini sangat mengganggu umat Islam dalam menjalankan ibadahnya tidak bisa khusuk.

Tetapi dengan kecanggihan teknologi,gambar-gambar atau lukisan dalam langit kubah yang bisa menggoyang iman atau aqidah akan ditutup dengan teknologi pencahayaan. Sehingga gambar Yesus, Bunda Maria dan gambar atau lukisan orang suci tidak nampak atau menampakkan dirinya ketika umat Islam sedang sholat atau menjalankan  kewajibannya.

Kok seperti menjarah motor, supaya tidak ketahuan, maka menghapus nomor rangka dan mesinnya. Ini hanya analogi saja.

Ada lagi yang dari awal pembangunannya dan fungsinya untuk masjid, tetapi karena perang malah beralih fungsi sebagai gudang obat-obatan. Yaitu Masjid Agung Leningrad atau Masjid St.Petersburg di Rusia. Ada yang menyebutnya sebagai Masjid Biru-karena ornamen-ornamen atau mozaik penuh warna biru langit. Hagia Sophia juga sering disebut masjid biru.

Pembangunan masjid St.Petersburg di Rusia dimulai tahun 1910 dan selesai 1921. Dan ditutup tahun 1940-1956. Dan beralih fungsi menjadi gudang obat-obatan. Setelah presiden Soekarno berkunjung ke Soviet era Nikita Khruschev dan Bung karno meminta kepada sahabatnya itu untuk mengembalikan gudang itu sebagai masjid kembali. Hanya dalam hitungan sepuluh sehari setelah kunjungan presiden Soekarno-masjid St.Petersburg berfungsi kembali sebagai masjid. Dan nama Bung Karno juga sering disematkan sebagai nama masjid St.Petersburg.

Ada yang bangga dengan kejayaan masa lalu dan ingin mengulangnya kembali. Biarlah sejarah atau waktu yang akan menjawabnya dan menjadi saksinya.

***