Cari Musuh

Dari sini, klaim kemenangan besar Rusia sekalipun atas Ukraina akan dicibir sebagai "kemenangan semu", salah-salah Rusia malah disebut pecundang.

Jumat, 27 Mei 2022 | 08:22 WIB
0
67
Cari Musuh
Dampak perang Ukraina-Rusia (Foto: bisnis.com)

Dalam peradaban modern seperti saat ini, cari teman (aliansi) lebih penting daripada cari musuh (enemy). Tetapi, Rusia punya logikanya sendiri, logika yang mungkin mereka sebut sebagai "geopolitik" dan "tatanan dunia baru" menurut versinya. Tetapi invasi Rusia terhadap Ukraina, dilihat dari kacamata apapun, adalah sebuah upaya cari musuh.

Benar bahwa AS dan NATO yang agresif dan semakin merangsek ke Timur membuat gerah Kremlin sehingga Putin sampai pada kesimpulan: menginvasi Ukraina. Alasannya ibarat pedang bermata dua; kesejarahan bahwa Ukraina bagian dari Rusia dan akibat Ukraina menunjukkan keinginan-kuatnya untuk segera menjadi bagian dari NATO.

Kalau soal kesejarahan yang menjadi alasan, mungkin yang berhak memiliki Rusia dan China sekarang adalah Mongolia. Campa, Seylon dan Tumasik bagian dari Majapahit (baca Indonesia).

Satu-satunya alasan yang bisa diterima karena agresivitas NATO ke Timur sehingga jika Ukraina menjadi bagiannya, maka moncong senjata aliansi AS-Eropa itu langsung mengarah ke Rusia, bahkan berada di seberang pagar perbatasan Kremlin.

Tetapi dengan manuver terbaru latihan militer Rusia dengan China di dekat Jepang, jelas telah memprovokasi negeri matahari terbit untuk bereaksi. Maklum hubungan Rusia-Jepang tidak akan pernah membaik selagi persoalan kepemilikan Pulau Shakalin belum tuntas. Keteteran melawan Ukraina, sudah menjadikan Jepang sebagai musuh baru.

Invasi Rusia ke Ukraina pun telah membuat reaksi Finlandia, Swédia dan Hongaria jaga-jaga. Alih-alih berkawan dengan Putin karena berada di perbatasan, Finlandia dan Swedia, misalnya, mempercepat keinginannya bergabung ke NATO. Bukankah Rusia merugi jadinya?

Alhasil, Rusia akan semakin dikucilkan dunia meski menyebut Ukraina sebagai sarang neo-fasis dan nazisme sekalipun. AS-NATO akan menguatkan narasi mereka bahwa Rusia adalah agresor dan karenanya perlu dikucilkan dunia selain sejumlah sanksi ekonomi yang telah ditimpakan yang tentu semakin memberatkan Beruang Merah.

Dari sini, klaim kemenangan besar Rusia sekalipun atas Ukraina akan dicibir sebagai "kemenangan semu", salah-salah Rusia malah disebut pecundang.

Sepertinya ini sudah terjadi.

***