Perlombaan Senjata AS dan Rusia Picu Perang Dunia III?

Senin, 4 Februari 2019 | 08:50 WIB
0
145

Dunia semakin tidak aman, bahkan konflik atu perang antar negara bisa pecah sewaktu-waktu. Negara-negara yang merasa terancam mulai memperkuat sistem persenjataannya. Baik memproduksi sendiri atau dengan cara membeli dari negara-negara maju.

Pada tahun 2015 Amerika di bawah presiden Donald Trump keluar dari penjanjian internasional terkait nuklir Iran. Amerika secara sepihak membatalkan perjanjian tersebut.

Berita terbaru atau update, Amerika juga keluar atau menarik diri dari perjanjian Pakta Pengendalian Senjata Nuklir dengan Rusia.

Akibat dari kebijakan Amerika menarik diri dari Pakta Pengendalian Senjata Nuklir akan terjadi perlombaan senjata yang tidak terkendali. Kedua negara saling tuduh dan mencari alibi atau alasan untuk membatalkan atau tidak mematuhi perjanjian tersebut.

Amerika menuduh pihak Rusia membangun rudal nuklir jarak menengah yang dilarang dalam perjanjian tersebut. Tetapi Rusia juga balik menuduh Amerika dalam dua tahun ini membangun rudal terlarang.

Baik Rusia dan Amerika saat ini sedang membuat atau mengembangkan jenis senjata rudal balistik dengan jangkauan jarak jauh yang bisa membawa hulu ledak nuklir. Apalagi kedua negara sering melakukan uji coba rudal jenis baru.

Iran beberapa hari lalu dalam rangka memperingati 40 tahun Revolusi Islam 1979 juga memamerkan rudal jelajah dengan jangkauan 1.300 km. Rudal Iran terbaru dinamai Hoveizeh. Bahkan Iran dianggap Amerika dan Israel sebagai negara yang membahayakan di kawasan Timur Tengah.

Arab Saudi merupakan sekutu Amerika, sekarang juga membangun pabrik rudal pertama dengan bantuan teknologi dari Cina dan Pakistan. Padahal selama ini Arab Saudi dengan kemampuan keungannya sanggup membeli rudal-rudal seperti membeli kacang goreng. Sepertinya tidak mau ketergantungan dengan negara Amerika. Sekarang Arab Saudi tidak nurut dengan ibu angkatnya yaitu Amerika.

Cina secara diam-diam juga mengembangkan berbagai jenis rudal jarah jauh dengan hulu ledak nuklir. Bahkan Cina sudah membuat rudal yang sanggup menenggelamkan kapal selam Amerika di tengah memanasnya konflik laut Cina Selatan.

India juga membuat rudal produksi dalam negeri dengan nama Brahmos. Bahkan rudal buatan dalam negerinya itu ditawarkan ke Indonesia.

Ukraina yang konflik dengan Rusia juga mulai memperkuat sistem senjatanya dengan bantuan Amerika atau NATO.

Negara-negara yang terancam atau konflik dengan negara lain secara naluri akan memperkuat sistem persenjataan untuk menghadapi ancaman atau ketidak pastian. Bahkan anggaran militernya secara otomatis akan meningkat.

***