Bencana Deepwater Horizon [1] Mimpi Buruk dari Dasar Laut Amerika

Dunia internasional bereaksi dengan menawarkan bantuan untuk menanggulangi tumpahan minyak itu. Namun, Amerika menolak.

Minggu, 28 Juli 2019 | 19:42 WIB
0
52
Bencana Deepwater Horizon [1] Mimpi Buruk dari Dasar Laut Amerika
Deepwater Horizon (Foto: Vox)

Pengantar: Dalam film Deepwater Horizon, tidak disinggung keterlibatan perusahaan-perusahaan Amerika dalam bencana tersebut. Padahal, paling tidak Halliburton dan Cameron jelas adalah bagian penting dalam operasional eksploitasi minyak di sumur Macondo, milik BP. Dalam film itu kesalahan terbesar ditimpakan ke BP dan Schlumberger. Hingga tahun 2018 BP telah mengeluarkan US$65 miliar (setara Rp900 triliun) untuk membayar denda dan ganti rugi ke berbagai pihak. Artikel ini ditulis sebelum film Deepwater Horizon ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia.

Pertengahan musim semi tahun 2010, suhu udara di wilayah selatan Amerika Serikat sudah tidak terlalu dingin, berkisar antara 15 sampai 20 derajat Celcius. Anjungan Deepwater Horizon yang mulai beroperasi sejak tahun 2008, berada di Teluk Mexico pada posisi 280, 44’, 12” Lintang Utara, dan 88o, 23’, 13” Bujur Barat, sekitar 40 mil lepas pantai Lousiana.

Deepwater Horizon adalah anjungan lepas pantai yang separuh bagiannya tenggelam, dan bisa bergerak secara dinamis. Di atas rig baja seberat 4.500 ton itu, BP dengan 126 pekerja menyedot minyak 74.000 barel per hari dari perut bumi di bawah dasar laut sedalam 1.600 meter.

Saat itu 20 April 2010, sebagian karyawan baru selesai makan malam sekitar pukul 21.00. Mereka masih duduk-duduk di ruang makan, berbincang-bincang sambil nonton televisi. Sementara yang lain sedang bekerja, hingga waktu shift pada pukul 23.00 waktu setempat.

Pukul 21.45, Chris Choy, salah seorang pekerja di rig itu, selesai makan ia keluar meninggalkan ruangan. Ada sesuatu yang harus ia lakukan. Ketika ia sedang berjalan di atas platform, tiba-tiba terdengar suara orang-orang berteriak yang disusul ledakan keras dan semburan api ke angkasa. Ia segera berlari menjauh dari titik api, dan langsung terjun ke laut. Sementara orang-orang berlari menuju lifeboat.

Kapal-kapal yang berada di sekitar rig langsung melaporkan kejadian itu ke US Coast Guard. Zaid Ahmed, anggota Coast Guard di Grand Isle yang sedang piket malam itu, langsung memberitahu komandannya. Beberapa menit kemudian, empat helikopter Coast Guard Resque terbang membawa regu penolong ke Deepwater Horizon.

Salah satu pilot helikopter, Almerick Lim mengatakan, semburan api di rig sudah terlihat dari jarak 40 kilometer. “Terlihat seperti kota New York dari kejauhan. Bercahaya terang,” katanya.

Beberapa jam kemudian puluhan helikopter SAR dari kota-kota terdekat dengan lokasi kejadian, berdatangan memberikan pertolongan.

Chris Choy termasuk pekerja yang diselamatkan pada jam pertama setelah ledakan. Ia mengatakan, setelah terjun ke laut ia berenang sekuat tenaga untuk menjauh dari rig. Ia melihat orang-orang yang masih berlarian di atas platform, ada juga yang sudah terjun ke laut. Ia melukiskan, malam itu sangat menakutkan. Hidupnya terancam oleh api dan air.

Satu hal yang memudahkan Tim SAR dalam memberikan pertolongan, adalah laut yang cukup tenang. Tidak bergelombang besar. Dalam tujuh jam pertama, 115 orang diselamatkan, 19 orang di antaranya dalam kondisi luka-luka. Mereka dibawa ke sejumlah rumah sakit di Lousiana, Mississipi dan Alabama. Sementara 11 lainnya masih dalam pencarian. Namun, hingga kini ke-11 orang itu tidak pernah ditemukan, dan dinyatakan hilang.

Kejadian tersebut langsung dilaporkan ke Gedung Putih malam itu juga. Keesokan-harinya Presiden Obama menugaskan Menteri Energi, Steven Chu untuk mencari cara yang tepat untuk mengatasi ancaman tumpahan minyak dalam skala besar. Beberapa hari kemudian, Obama juga menugaskan Menteri Dalam Negeri – Ken Salazar, Administrator EPA dan NOAA, untuk meninjau lokasi kejadian.

Delapan jam setelah ledakan, rig yang dibangun tahun 2001 oleh Hyundai Heavy Industries di Ulsan, Korea Selatan itu mulai miring. Posisi ini bisa memutuskan tiga pipa baja yang dilapisi karet yang berfungsi sebagai ‘straw’ atau sedotan minyak.

Artinya, ancaman tumpahan minyak dalam skala besar sudah di depan mata. Apabila pipa itu putus dan memuntahkan minyak, ketika api masih berkobar cukup besar dia atas rig, maka bukan tidak mungkin terjadi kebakaran di atas laut yang akan menyebar kemana-mana. Sementara di sekitar Deepwater Horizon ada 29 rig lain yang beroperasi.

Kamis, 22 April 2010, pukul 04.00, apa yang dikhawatirkan banyak pihak menjadi kenyataaan. Ketiga pipa penyedot minyak itu putus, dan memuntahkan minyak mentah di dalam laut. Beruntung api di rig sudah mulai mengecil. Minyak sebanyak 42.000 gallon per hari menyembur, mencemari laut. Bila dibandingkan, setiap tiga hari jumlah minyak yang tumpah ke laut setara dengan total volume minyak yang tumpah pada peristiwa Exxon Valdez di Alaska tahun 1989.

Lalu, enam jam kemudian terjadi beberapa ledakan keras yang kemudian secara perlahan rig seharga hampir US$560 juta milik Transocean itu tenggelam. Meskipun rig sudah tenggelam, minyak yang berada di atasnya masih sangat banyak dan dalam keadaan terbakar hebat. Sementara tiga sumur di dasar laut, terus memuntahkan minyak. Puncaknya pada bulan Juni 2010, jumlah minyak yang menyembur dari tiga sumur itu mencapai 100.000 barel per hari.

Reaksi

Pada tanggal 15 Juni 2010, dalam pidatonya Presiden Obama mengatakan, “Kasus tumpahan minyak ini merupakan bencana lingkungan hidup yang terburuk yang dialami Amerika. Sekarang kita sepakat, untuk mengatasi tumpahan minyak ini dengan segala apa yang bisa kita lakukan. BP harus membayar kerusakan yang disebabkan olehnya. Dan kita akan melakukan apa saja yang dianggap perlu untuk menyelamatkan pantai di sepanjang Teluk Mexico, dan membantu masyarakat untuk bangkit dari tragedi ini.”

Sebelum pidato Obama, aksi unjuk rasa di depan kantor-kantor atau unit-unit bisnis BP nyaris setiap hari dilakukan warga Amerika. Bukan itu saja, mereka juga memboikot produk-produk BP. Akibatnya, bukan hanya angka penjualan BP yang anjlok 10% sampai 40% di Amerika, tapi harga saham BP yang tercatat di FT 100 London Stock Exchange dan NYSE juga anjlok. Orang-orang BP mengatakan, kerugian terbesar (penurunan penjualan dan harga saham) yang dialami BP bukan karena harus membayar ganti rugi, tapi karena pernyataan Obama.

Di Inggris, awalnya masyarakat menanggapi bencana Deepwater Horizon dengan ‘biasa-biasa saja’. Namun mereka menjadi marah karena Presiden Obama menyebut ‘British Petroleum’ harus bertanggung-jawab atas kejadian itu. Padahal, sejak tahun 1998 British Petroleum sudah merger dengan Amoco dan namanya berubah menjadi BP, tanpa kepanjangan.

Saham dari sumur minyak bawah laut Macondo Prospect itu tidak sepenuhnya dimiliki BP, tapi juga dipegang oleh Anadarko Petroleum Corporation (25%), dan Mitsui (10%). Lagi pula, rig-nya itu sendiri dimiliki oleh Transocean, sebuah perusahaan Amerika. Namun Transocean lepas tangan, menumpahkan semua kesalahan ke BP. Dan, dari 126 orang yang bekerja di rig Deepwater Horizon, hanya tujuh orang yang tercatat sebagai karyawan BP. Selebihnya pekerja Transocean dan beberapa perusahaan lain.

Melalui para manajer investasi, yayasan dana pensiun Inggris sebagai pemilik saham BP, meminta PM David Cameron untuk melindungi kepentingan Inggris di Amerika.

Sementara dunia internasional bereaksi dengan menawarkan bantuan untuk menanggulangi tumpahan minyak itu. Namun, Amerika menolak. Alasannya, berdasarkan Merchant Marine Act 1920 atau lebih dikenal dengan Jones Act (diinisiasi oleh Senator Wesley Jones), hal itu tidak memungkinkan. Semua harus dilakukan oleh kapal, peralatan, dan tenaga Amerika. Namun beberapa hari kemudian pemerintah Amerika menerima bantuan itu.

(Bersambung)

***