Kebebasan dan Keberanian

Mereka juga menolak klaim Putin bahwa Ukraina dan Rusia adalah satu bangsa. Mereka tidak ingin lagi berada di bawah dominasi Rusia, karena pengalaman di bawah dominasi Rusia bukanlah pengalaman yang mengenakkan.

Senin, 7 Maret 2022 | 12:47 WIB
0
111
Kebebasan dan Keberanian
Gedung berornamen bendera Ukraina (Foto: dok pribadi)

“Saya membutuhkan amunisi dan bukan tumpangan!”

Statement dari Presiden Ukraina, Zelensky ini menginspirasi banyak orang, baik di Ukraina mapun di luar Ukraina, serta berhasil meyakinkan para pemimpin NATO untuk memberikan bantuan apa saja, baik militer maupun kemanusiaan bagi Ukraina.

Sikap yang ditunjukkan Zelensky ini berbeda dari sikap Presiden Afghanistan yang kabur pada kesempatan pertama ketika ibu kota diserbu Taliban. Dan sebagaimana permintaan Zelensky, NATO betul – betul memberikan aneka macam “amunisi”, sejauh yang dapat mereka berikan tanpa harus melanggar peraturan NATO sendiri.

Keteguhan hati rakyat Ukraina yang dengan gagah berani membela tanahair nya juga memukau warga dari negara – negara barat. Dari hari ke hari ada gerakan – gerakan untuk mendukung Ukraina di sangat banyak kota. Landmark-landmark kota disorot dengan warna biru kuning, seperti bendera Ukraina.

Dua hari yang lalu, saya pergi ke gereja Ukraina di Leuven yang menjadi tempat mengumpulkan donasi. Saat itu, warga Leuven tidak henti–hentinya datang untuk memberikan sumbangan. Mereka bertanya pada para pelajar Ukraina yang mengelola donasi “Apa yang kalian butuhkan? Apa yang bisa kami bantu?”. Mereka juga berkata “Putin itu orang gila!” atau “Kalian beruntung punya presiden pemberani seperti Zelensky”.

 Apa yang terjadi di depan mata saya ini, barangkali sukar dimengerti oleh bangsa lain. Barangkali karena ada perbedaan nilai, budaya dan karakter.

Setidaknya di Indonesia, ada sangat banyak makian, ada yang mengatakan bahwa yang terjadi di Ukraina adalah tindakan mengorbankan rakyat. Atau bahkan ada yang lebih sadis, mengatakan bahwa rakyat Ukraina harus mau tunduk diatur–atur oleh Rusia!

Adalagi yang mengatakan bahwa bangsa Ukraina memilih jadi budaknya barat. Pertanyaannya: Apakah rakyat Ukraina merasa dikorbankan? Dan hak apakah yang kita miliki sehingga ikut menekan dan memaksa bangsa Ukraina untuk tunduk pada Rusia?

Atau sebaliknya, hak apa yang kita miliki sehingga melarang bangsa Ukraina mendekatkan diri pada bangsa Eropa selain Rusia? 

Beberapa kali saya dapati bahwa netizen Indonesia punya persepsi yang berbeda sendiri atas suatu peristiwa. Contoh : Zelensky setuju untuk melakukan perundingan perdamaian dengan Rusia. Tanpa memperhatikan situasi di medan perang dan tanpa mendengarkan secara langsung statement yang diberikan, langsung membuat penilaian bahwa Zelensky terpojok.

Hal yang lain, yang banyak beredar ialah mengenai NATO tidak bantu apa-apa. Statement ini diulang-ulang, tanpa menyadari betapa besarnya bantuan yang NATO berikan bagi Ukraina, dimana ada negara–negara yang sampai mengubah kebijakannya, atau melepaskan netralitasnya seperti Swiss. Sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah.

Keberanian, apalagi keberanian untuk mempertahankan kebebasannya adalah hal yang sangat dihargai di tengah masyarakat Eropa.

Gordon Brown, mantan PM Inggris ketika diwawancarai, mengatakan bahwa bangsa Inggris harus menolong bangsa Ukraina yang pemberani ini. Karena keberanian adalah salah satu nilai yang dijunjung tinggi oleh bangsa Inggris.

Hampir semua pemimpin NATO selalu menyebutkan soal keberanian ini bila membicarakan mengenai bangsa Ukraina dan pemimpinnya. Meskipun untuk Zelensky sendiri juga ada kritikan yang diberikan. 

Tampaknya keberanian bangsa Ukraina dan presidennya menjadi masalah besar bagi Putin. Sehingga ia merasa perlu melakukan invasi untuk menundukkan bangsa Ukraina, serta mengirimkan regu khusus untuk menghabisi Zelensky.

Dan ketika belum berhasil juga, maka dilakukan cara lain dengan menyebarkan rumor bahwa Zelensky sudah kabur ke Polandia. Harapannya, supaya rakyat Ukraina menjadi patah semangat. Namun, hal ini sudah dibantah, saya baca di sumber berita India yang netral, bahwa Zelinsky masih di Kiev.

Saya berdiskusi dengan pelajar-pelajar Ukraina ketika membantu-bantu di tempat pengumpulan donasi. Pemuda–pemudi ini merasa yakin bahwa melawan Rusia perlu dilakukan untuk mempertahankan identitas bangsa Ukraina serta mempertahankan kebebasan mereka sebagai bangsa berdaulat.

Kebebasan yang mereka miliki setelah Uni Soviet bubar. Biarpun mereka tahu Rusia lebih kuat dari mereka. Sesuatu yang membuat saya teringat semboyan “merdeka atau mati” dari zaman kemerdekaan Indonesia. 

Mereka juga menolak klaim Putin bahwa Ukraina dan Rusia adalah satu bangsa. Mereka tidak ingin lagi berada di bawah dominasi Rusia, karena pengalaman di bawah dominasi Rusia bukanlah pengalaman yang mengenakkan.

Hal yang membuat saya terharu ialah ketika salah satu dari pelajar-pelajar ini mengatakan bahwa mereka tahu, pada akhirnya mereka mungkin kalah.

Tapi sebagaimana mereka percaya Yesus bisa membangkitkan Lazarus, mereka juga mengimani bahwa seandainya mereka kalah, suatu hari nanti Ukraina pasti bisa bangkit kembali.

***