Ternyata Putra Mahkota Mohammed bin Salman Ingin Akui Negara Israel

Yang bisa dilakukan Indonesia hanya memberi bantuan kemanusiaan dan membantu lewat panggung internasional yaitu PBB-terkait isu Palestina.

Rabu, 9 Oktober 2019 | 13:06 WIB
0
214
Ternyata Putra Mahkota Mohammed bin Salman Ingin Akui Negara Israel
Mohammed bin Salman (Foto: yemen press.org)

Isu Palestina dan Israel adalah isu yang sangat menarik dan juga sangat sensitif. Bahkan isu ini pun melahirkan perdebatan bukan di meja perundingan di PBB tapi perbebatan di media sosial sesama anak bangsa yaitu Indonesia.Ada yang membela Palestina dan ada juga yang mendukung berdirinya negara Israel.

Ada sesuatu yang menarik dalam perdebatan di media sosial,bagi yang mendukung atau bersimpati berdirinya negara Israel akan mendapat julukan "Zionis sawo matang". Julukan ini ditujukan kepada masyarakat Indonesia yang mendukung berdirinya negara Israel.

Sedangkan-bagi yang mendukung atau bersimpati kepada berdirinya negara Palestina menyeyahkan atau meleyapkan Israel dari "tanah Palestina" adalah harga mati atau tidak bisa ditawar atau di negosiasikan.

Sesuatu yang diributkan itu letaknya sangat jauh dari Indonesia, sedangkan negara tetangga Palestina sendiri malah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Seperti Mesir, Yordania, Turki dan Arab Saudi sendiri juga menjalin komunikasi dengan Israel. Hanya negara Suriah yang dari awal sampai sekarang yang tidak mengakui negara Israel. Konsisten.

Terus posisi negara kita yaitu Indonesia berada di mana terkait isu Palestina dan Israel?

Ternyata Indonesia menyetujui penyelesaian konflik itu dengan solusi  dua negara yaitu Palestina dan Israel. Indonesia dari zaman presiden pertama mengakui berdirinya negara Palestina dan tidak mengakui negara Israel. Makanya Indonesia sampai sekarang belum mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel.

Bahkan, kalau ada pemerintahan yang berani membuka hubungan diplomatik dengan Israel bisa "jatuh pemerintahannya" karena pasti akan ada demo yang berjilid-jilid.

Padahal dari presiden pertama yaitu Bung Karno sampai permerintahan Jokowi sudah hampir 74 tahun-tidak ada kemanjuan diplomatik terkait konflik antara Palestina dan Israel.

Bagiamana Indonesia mau memperjuangkan Palestiana kalau komunikasi kepada Israel tidak ada atau tidak dibuka? Sedangkan di satu sisi kalau membuka hubungan dengan Israel-sama saja mengakui berdirinya negara Israel.

Yang bisa dilakukan Indonesia hanya memberi bantuan kemanusiaan dan membantu lewat panggung internasional yaitu PBB-terkait isu Palestina.

Pernah ,wakil presiden Jusuf Kalla  menyampikan pemikirannya terkait Palestina. Intinya, kalau ingin membela atau memperjuangkan Palestina merdeka, maka harus menjalin hubungan dengan Israel. Yang jadi pertanyaan: apakah ada pemerintahan yang berani membuka hubungan diplomatik dengan Israel?Tidak ada yang berani!

Nah, baru-baru ini dalam film dokumenter PBS “The Crown Prince”, terungkap bahwa Putra Mahkota Saudi yaitu Mohammed bin Salman (MbS) berjanji akan mengakui berdirinya negara Israel atau menormalisasi hubungan resmi yaitu membuka kedutaan di Israel kalau Amerika membantu Kerajaan untuk "mengalahkan Iran dan menjadikan dirinya sebagai pemimpin negara dikawasan timur tengah atau Arab".

Seperti kita ketahui, hubungan Iran dan Arab Saudi memang tidak harmonis, bukan semata-mata karena berbeda "ras" atau aliran, akan tetapi Arab Saudi ingin menjadi pemimpin bangsa Arab di kawasan timur tengah. Seperti yang diinginkan oleh mendiang presiden Saddam Hussein dahulu.

Dalam film dokumenter tersebut terjadi kesepakatan atau deal antara Putra Mahkota Mohammed bin Salman dengan presiden Donald Trump waktu berkunjung ke Riyadh pada Mei tahun 2017. Intinya Arab Saudi ingin Amerika menyerang Iran dan menjadikan Putra Mahkota MbS sebagai pempimpin kawasan timur tengah.

Dan sebagai gantinya atau imbalannya Arab Saudi akan membantu Amerika dalam konflik Palestina dan Israel. Dan mengakui berdirinya negara Israel dan menormalisasi hubungan dua negata tersebut.Arab Saudi juga akan membantu konflik penyelesaian seperti proposal yang diajukan oleh Donald Trump yang terkenal dengan nama"kesepakatan abad ini" yang menjadi juru rundingnya menantu Donald Trump yaitu Jared Kushner.

Tapi sepertinya kesepakatan dan deal antara presiden Donald Trump dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman-gagal total atau tidak berjalan sesuai rencana.

Iran terlalu kuat bagi Arab Saudi,bahkan menghadapi Houthi saja sudah kewalahan dan keteteraan, sekalipun pangeran Arab pernah sesumbar bisa melenyapkan Iran kurang dari delapan jam.

Malah berita terbaru, Arab Saudi lewat negara perantara yaitu Irak dan Pakistan mengirim surat kepada presiden Iran untuk berdialog mencari solusi ditengah ketegangan dua negara tersebut.

***