Turki Tidak Sama dengan Srilanka

Turki hampir mirip Srilanka? Itu adalah jualan buzzer-buzzer AS dan sekutunya. Ini sama sekali tidak akan berdampak apa-apa ke Turki.

Minggu, 17 Juli 2022 | 08:16 WIB
0
38
Turki Tidak Sama dengan Srilanka
Recep Tayyip Erdogan (Foto: Facebook.com)

Banyak hater Turki membesar-besarkan isu inflasi Turki saat ini.

Bahkan ada yang super lebay menyamakan Turki dengan Srilanka. Tentu ini analisis tidak berdasarkan data.

Inflasi Turki memang benar tinggi, bahkan sejak Erdogan terpilih sebagai Presiden di 2018, ekonomi Turki memang sedang dirusak.

Era dimana barat berupaya menghancurkan ekonomi Turki puncaknya era presiden AS Donald Trump.

Ini karena AS gagal menggulingkan Erdogan dalam kudeta berdarah 2016 di era Obama. Trump berupaya melanjutkan tradisi gedung putih memusuhi Erdogan.

Kemudian dilanjutkan dengan sanksi ekonomi ke Turki karena Turki belanja senjata ke Rusia dalam join kerjasama S400.

AS sampai saat ini masih menargetkan ekonomi Turki dengan tujuan menjatuhkan Erdogan pada pilpres tahun depan.

Dengan semua manuver AS dan sekutunya, Erdogan tidak tinggal diam. Erdogan melawan sanksi dan terus berupaya menstabilkan ekonomi Turki.

Empat kali Erdogan memecat Gubernur Bank sentral Turki sejak 2018, dan beberapa kali memecat menteri keuangan Turki karena keras kepala dan tidak taat dengan kebijakan Turki melawan sanksi barat.

Ekonomi Turki tidak jatuh atas sanksi AS, tapi ekonomi Turki jadi kena dampak parah akibat pandemi covid dimana pemasukan Turki lewat pariwisata anjlok.

Turki memperoleh penghasilan lebih dari 80 Miliar dolar pertahun dari sektor pariwisata. Dari 50 juta lebih wisatawan asing yang mengunjungi Turki setiap tahun.

Angka pemasukan Turki dari sektor pariwisata 4 kali lebih besar daripada pemasukan Arab Saudi dari sektor haji dan umroh setiap tahun.

Jadi, hampir 3tahun masa pandemi, sektor pariwisata Turki anjlok. Jadi pemasukan Turki turun drastis. Inilah penyebab utama kenapa ekonomi Turki kena dampak, ditambah sanksi AS.

Tapi bukan sanksi AS penyebab utama ekonomi Turki kerepotan. Rakyat Turki juga rasional dengan realitas pandemi yang memukul ekonomi Turki. Karena salah satu andalan pemasukan Turki adalah sektor pariwisata.

Dengan semua realitas di lapangan, sampai sejauh ini Erdogan masih bisa menghandle ekonomi Turki dan terus melakukan perbaikan di berbagai bidang.

Jadi isu isu ekonomi Turki ambruk adalah kerjaan buzzer buzzer barat dan musuh Turki, karena ini waktu yang tepat menyerang Erdogan mengingat pilpres sudah dekat.

Harapannya, pilpres Turki tahun depan benar benar mampu mendongkel Erdogan dari kursi kekuasaan yang sudah dipercayakan rakyat selama 20 tahun kurang 4 bulan.

Semua media barat saat ini, berkolaborasi dengan para musuh Erdogan di dalam negeri dan luar negeri sedang bekerja keras dengan pendanaan intelijen asing. Berupaya sekuat tenaga ingin menggulingkan Erdogan pada pilpres tahun depan.

Turki hampir mirip Srilanka? Itu adalah jualan buzzer-buzzer AS dan sekutunya. Ini sama sekali tidak akan berdampak apa-apa ke Turki.

Kabar baiknya, saat ini manuver Erdogan yang memilih melunak ke NATO atas isu Finlandia dan Swedia, tapi di saat yang sama, Erdogan juga sedang mendekatkan diri dengan kekuatan ekonomi BRICS dibawah payung China-Rusia, di prediksi akan membuat Turki tetap kokoh.

Erdogan bukan politisi karbitan. Saya melihat dia masih mampu dan cukup cakap dalam bermanuver sampai saat ini.

Sisanya, PR terbesar Erdogan saat ini adalah bagaimana Erdogan bisa memotong tangan musuh yang saat ini mencoba mengacaukan Turki agar pilpres berjalan chaos dan skenario penggulingan Erdogan bisa di atasi. Itu saja. Sedangkan yang lain semua masih under control.

Tengku Zulkifli Usman, pengamat GeoPolitik.

***