Beribadah Melalui Roti Yahudi

Ali dan Shah merenovasi bagian-bagian tertentu toko roti tersebut. Namun mereka tetap menggunakan resep dan peralatan yang sama. Keduanya sepakat mengedepankan menu halal sesuai akidah mereka.

Minggu, 3 April 2022 | 06:49 WIB
0
75
Beribadah Melalui Roti Yahudi
Zafaryab Ali dan Peerada Shah (Foto: Facebook.com)

Zafaryab Ali dan Peerada Shah, dua muslim di Amerika Serikat, memberikan contoh kebaikan secara sederhana saja. Tidak on the street, apalagi nutup jalanan umum setiap jumat siang.

Ali telah lama tinggal di Brooklyn, New York. Pernah bekerja selama 10 tahun di toko roti Coney Island Bialys and Bagels, milik seorang Yahudi di Coney Island, sebelah selatan kota terpadat ketiga di AS.

Tapi kemudian dialah jua, bersama temannya, Shah itu, yang membeli toko roti bialy dan bagel yang tutup September 2011. Pemilik lama, Steve Ross, mengaku tak sanggup lagi mengelolanya lantaran efek kelesuan ekonomi AS waktu itu.

Bagel (bahasa Yahudi 'beygl') jenis roti berbentuk seperti donat. Dibuat dari adonan tepung terigu dan ragi yang direbus di dalam air, untuk kemudian dipanggang. Bagian dalamnya mempunyai tekstur padat dan kenyal. Bagian luarnya berwarna coklat muda, keras dan garing. Sedangkan bialy, roti khas New York yang mirip bagel, tapi tidak direbus sebelum dipanggang. Tidak pula berlubang di tengah, dan bagian luar tidak garing. Irisan bawang biasanya ditaburkan di permukaan roti.

Ali dan Shah, kedua muslim keturunan Pakistan itu, merasa memiliki kenangan dengan toko tersebut. Ali merasa tidak tega melihat toko itu tutup. Ia tahu toko ini cukup dikenal warga Manhattan. Dalam ingatannya, tiada hari dilewati tanpa antrean pelanggan memanjang di depan pintu toko.

Ali dengan latar belakang bidang masak-memasak, melihat peluang untuk melanjutkan usaha toko tersebut. "Kami tidak masalah dengan latar belakang keyakinan. Sebab, kami membuat makanan untuk semua orang," ungkapnya.

Ia menegaskan, "Saya menguasai hal-ihwal bagel dan rekan saya jago manajemen. Jika kami bekerja keras, toko ini akan menarik banyak pelanggan kembali."

Ali dan Shah sama sekali tak mengubah resep maupun bahan-bahan yang sudah dijaga beberapa generasi. Tugas Ali hanyalah mencari seorang rabi untuk memberi sertifikasi kosher (halal) pada roti produksinya.

Sekiranya terang-terangan dijual di Indonesia, mungkin akan rada bermasalah. Setidaknya bisa dijadikan masalah. Sekalipun labeling halal kini dilakukan Kemenag, toh terlebih dulu harus mendapatkan fatwa dari MUI. Sementara apakah roti Yahudi punya hubungan diplomatik dengan Indonesia? Karena Yahudi adalah Israel, dan Israel adalah bla-bla-bla, meski Kerajaan Saudi Arabia makin akrab dengan negara Israel?

Ini cerita tentang roti. Sederhana saja. Apalagi bagi pelanggan lama toko roti Coney Island, mereka juga mengatakan tak memiliki masalah dengan agama pemilik baru toko Bagel. Hal sama juga dirasakan karyawan lama, Joseph Jackson, yang memutuskan untuk tetap tinggal. "Mereka berdua sangat baik. Mereka ingin menjaga keberadaan toko ini dan saya ingin membantu mereka," katanya.

"Saya tak peduli apakah kulit mereka hitam, putih, ungu, hijau, atau kuning. Mereka datang kepada saya dan menyatakan maksudnya untuk meneruskan toko. Saya senang usaha itu tetap berjalan," kata Steve Ross, putra Rosenzweig yang dulunya mewarisi toko itu dari kakeknya, Morris Rosenzweig. "Saya optimis mereka mampu mempertahankan toko ini."

Ali dan Shah merenovasi bagian-bagian tertentu toko roti tersebut. Namun mereka tetap menggunakan resep dan peralatan yang sama. Keduanya sepakat mengedepankan menu halal sesuai akidah mereka.

Dan Coney Island Bialys and Bagels, toko roti Yahudi yang dikelola duo muslim di New York itu, tetap lestari sampai kini. Memang cuma sekedar roti. Tetapi ia mulia. Telah mempertemukan manusia melalui lidah dan perut. Sebuah cinta dalam sepotong roti. Sederhana saja.

Sunardian Wirodono, bersumber dari ‘Two Muslim men keep Jewish tradition alive in Brooklyn’ Julie Cannold, CNN, November 5, 2011

***