Jejak Politik Anies Selama Era Jokowi hingga Pilpres 2024

Walaupun kecil kemungkinannya, tetap saja ada kemungkinannya Anies dan Imien jadi pemenangnya, mengingat sikon politik yang sangat dinamis, sangat liar, dalam satu-dua tahun terakhir ini.

Sabtu, 9 Desember 2023 | 14:55 WIB
0
196
Jejak Politik Anies Selama Era Jokowi  hingga Pilpres 2024

Pada saat Pilpres 2014, Anies Baswedan langsung ditelepon Jokowi malam-malam untuk membantunya. Tanpa pikir panjang dan penuh semangat, Anies menerima tawaran tersebut. Dia diajak Jokowi karena pengaruhnya yang sangat besar di kalangan muda dan di dunia akademik, kemudian ditunjuk sebagai Juru Bicara Tim Pemenangan Jokowi-JK.

Sedangkan Anies sendiri bersedia mendukung karena menurutnya Jokowi membawa kebaharuan, mendukung orang baik untuk mengelola pemerintahan, tambahnya.

Jokowi-JK menang, Anies diangkat jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sekitar dua tahun kemudian, Anies diberhentikan Jokowi dan diganti dengan Muhajdir Effendy. Sebuah keputusan politik Jokowi yang cukup mengejutkan, banyak pihak yang benar-benar tidak menyangka bahwa jabatan Anies dicopot Jokowi.

Berbagai macam rumorpun bermunculan, misalnya adanya konflik antara Jokowi dengan Anies dan demi mengakomodasi kepentingan koalisi politik pendukung Jokowi. Sampai sekarang gak ada kejelasannya yang pasti.

Setahun kemudian, 2017, Prabowo mempromosikan Anies sebagai cagub DKI Jakarta yang dipasangkan dengan Sandiaga Uno.
Dalam sebuah kesempatan yang diliput oleh wartawan Detik, Anies menceritakan tentang dukungan yang diperolehnya dari Prabowo Subianto dan Salim Segaf Al-Jufri.

"Doakan agar para pemimpin-pemimpin mau memikirkan bangsanya melebihi memikirkan dirinya dan partainya dan kepentingan-kepentingan lainnya. Kita doakan. Saya ini contoh, saya ini merasakan jadi contoh. Bagaimana orang seperti Pak Prabowo, Pak Salim Segaf itu memikirkan Jakarta, melampaui kepentingan partainya,"

"Coba kalau mereka berdua hanya memikirkan kepentingan kelompoknya, partainya tidak mungkin terjadi. Tidak mungkin. Dan semua orang kaget. Kok bisa saya. Ini membuktikan kenegarawanan masih ada di republik ini. Jangan pesimis. Mudah-mudahan selalu ada contoh sebagai negarawan.”

Dalam kesempatan yang lain, dua tahun kemudian, wartawan Kumparan mewawancarai Anies dan menanyakan kepadanya mengenai peluangnya jadi capres 2019. Anies menceritakan pesan Prabowo kepadanya ketika dia ditunjuk sebagai Cagub DKI.

“Pak Anies, saya akan mencalonkan Anda menjadi calon gubernur. Ini tugas besar.” Prabowo melanjutkan pesannya kepada Anies, "Saya bukan hanya lihat Anda. Saya melihat kakek Anda dan kakek saya. Kakek Anda dan kakek saya sama-sama bekerja mendirikan Indonesia. Dan hari ini, cucunya--saya dan Anda--harus kerja sama untuk menyelamatkan Indonesia. Ini bukan sekadar Anda dan saya. Kita meneruskan apa yang dikerjakan orang tua-orang tua kita.”

“Poin utamanya bukan soal kedekatan pribadi dan lain-lain, bukan. Poin utamanya adalah saya sedang bertugas di Jakarta. Dan kalau ada yang mendorong, maka saya akan terus sampaikan, bicaralah kepada Pak Prabowo, bicara dengan Pak Salim. Sampaikan aspirasi itu kepada mereka.”

“Dan saya tidak ingin menjadi orang yang dicatat (sebagai pengkhianat), yang nanti anak-anak saya dan anak dari anak saya akan ingat. Saya tidak mau menjadi orang yang mengkhianati, menikam, pada orang yang dulu sudah bekerja membantu dan berjuang bersama.”

Dari informasi ini jelas bahwa Anies setia terhadap kontrak politiknya dengan Prabowo yang berakhir pada tahun 2019, sehingga dia mau menerima tawaran Surya Paloh sebagai capres untuk Pilpres 2024.

Keputusan Surya ini kesannya nekat dan prematur karena dia berani menciptakan poros tersendiri bahkan relatif jauh mendahului keputusan politik poros Prabowo dan poros Megawati terkait Pilpres 2024.

Setelah bulan lalu semua capres dan cawapres diumumkan secara resmi oleh KPU, bisa kita lihat bahwa ternyata Surya Paloh tidaklah senekat itu. Keputusan politiknya penuh perhitungan dan matang. Menang tidak menang dalam Pilpres 2024, Partai Nasdem memperoleh keuntungan politik.

Kemungkinan besar koalisi yang dibentuknya bersama PKB dan PKS akan menjadi faktor penentu siapa yang akan jadi presiden kita berikutnya bila pilpresnya dua putaran. Pun walaupun kecil kemungkinannya, tetap saja ada kemungkinannya Anies dan Imien jadi pemenangnya, mengingat sikon politik yang sangat dinamis, sangat liar, dalam satu-dua tahun terakhir ini.

((Ajuskoto))